BAB 6

61 8 0
                                        

──★
"𝓞𝓱, 𝓘'𝓶 𝓯𝓪𝓵𝓵 𝓲𝓷 𝓵𝓸𝓿𝓮.."

Nala sedari tadi memperhatikan Sheya yang sedang menenggelamkan wajahnya di bantal loopy kesayangan nya. Gadis itu sedang memikirkan sesuatu, atau ada hal yang membuat nya kesal? Entahlah.

"Lo kenapa diem mulu? Nahan boker, Shey?" Tanya Nala diselingi tawa jahilnya.

Sheya hanya mendecak pelan lalu kembali memeluk erat bantal loopy itu.

"Gue tuh ngerasa aneh banget, La! Ini tuh benar-benar aneh pake banget!" Balas Sheya sambil mengubah posisinya menjadi duduk.

"To the point, Shey. Gaje ah" Balas Nala.

"Gue kalau ketemu Naren rasanya jantung gue merosot sampe ke lutut, terus jedag jedug kayak template capcut" Ucap Sheya dramatis membuat Nala menggigit bibirnya menahan tawa.

"Apa gue periksa ke dokter aja, ya?" Detik itu juga Nala melepaskan tawa nya terbahak-bahak.

"Ck, gue serius Nala!"

"Oke-oke. Jadi jantung lo jedag jedug kalau ketemu Naren, gitu?" Tanya Nala tepat didepan wajah Sheya.

"Wajib banget nanya nya pas depan muka, gini?" Lagi-lagi Nala tertawa membuat Sheya mencebikkan bibirnya kesal.

"Lo sih, Shey"

"Apasih kok malah gue?" Balas Sheya menautkan kedua alisnya bingung.

"Itu aja gatau! Kalau jantung lo jedag jedug kedebug gitu tandanya lo lagi jatuh cinta" Jawab Nala dengan nada sedikit menggoda.

Sheya menelungkupkan tubuhnya, menopang wajahnya menggunakan kedua tangan. Memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya, Nala. Emang iya ya? Sheya sedang jatuh cinta?

"Lo suka gugup ga kalau ngomong sama Naren?"

Sheya mengangguk. "Kadang"

Nala tiba-tiba saja melompat dan bersorak kegirangan "YEY SAHABAT GUE YANG MATI RASA INI MERASAKAN ADANYA BENIH-BENIH CINTA"

"Stress" Balas Sheya memutar bola matanya malas.

"Udah deh, Shey. Pepet aja si Naren Naren itu"

"Jangan kan gue pepet, keinginan gue buat melet dia aja udah 100%"

Drrrttt.. Drrrtttt
Ponsel Sheya berdering, tertera nama Leora.

"Sheya, tolong infoin di grup kalau minggu depan kita ujian Matematika. Gue ga sempet ngetik, soalnya lagi diluar"

Tut.
Telepon mati begitu saja. Sheya benar-benar bingung, tapi sepertinya gadis itu sedang sibuk.

"Apa katanya?" Tanya Nala sambil mengukir kuku nya untuk menimbulkan efek mengkilap.

"Ujian Matematika, mingdep"

Sheya mengedipkan matanya berulang kali setelah menyadari perkataannya. Ujian? Matematika? UJIAN? MATEMATIKA..

"Gawat Shey, gue balik dulu mau belajar" Ucap Nala yang langsung membereskan peralatan yang dibawa nya dari rumah.

"Sialan emang, mingdep banget nih ujiannya?" Ucap gadis berkacamata itu memelas. Ia menyenderkan kepalanya ke kasur. Kenapa tidak tahun besok saja sih ujian MTK..

"Dadah, Sheya. Gajadi happy-happy deh" Sahut Nala lalu bergegas menuruni tangga dengan raut cemberut.

"Hidup gini amat! Ujian hidup udah banyak, malah nambah lagi ujian Matematika"

Rasanya saat ini juga Sheya ingin menangis, dia benar-benar tidak paham materi yang disampaikan guru Matematika nya. Percaya lah, counter Sheya hanya satu, yaitu Matematika. gadis itu pintar di segala mata pelajaran, tidak dengan Matematika.

Shey. .Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang