BAB 10

51 7 0
                                        

── ★
"𝓢𝓮𝓮𝓲𝓷𝓰 𝔂𝓸𝓾 𝔀𝓲𝓽𝓱 𝓪𝓷𝓸𝓽𝓱𝓮𝓻 𝓰𝓲𝓻𝓵, 𝓯𝓻𝓸𝓶 𝓪 𝓭𝓲𝓼𝓽𝓪𝓷𝓬𝓮"

Angin pagi menyusup pelan ke sela-sela jaket Sheya, menyelipkan rasa yang tak bisa ia tolak. Canggung, gelisah, dan... diam-diam terluka. Di tangannya, nampan berisi dua gelas teh hangat mulai kehilangan uapnya. Tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak.

Pandangan Sheya terpaku pada sosok itu. Naren, dengan setumpuk berkas di tangan dan senyum tipis di wajahnya, sedang tertawa. Tapi bukan dengan Sheya. Di sisinya, seorang gadis lain berdiri, menanggapi obrolannya dengan tawa yang terdengar cukup akrab.

"Dia kayak... nggak kelihatan capek, ya," Kata Sheya, suaranya nyaris tenggelam.

Nala yang berdiri di sampingnya ikut mengamati.

"Naren emang beda kalau udah ngurus sesuatu. Fokusnya bisa bikin orang lain lupa, kalau sebenernya dia juga punya batas"

Sheya hanya mengangguk kecil.

"Gue kira semalem itu berarti sesuatu..."

Nala menoleh cepat. "Yang dia senderin di bis?"

Sheya mengangguk pelan. "Gue nggak berekspektasi lebih, kok. Tapi... gue kira itu setidaknya bikin dia mikir soal gue. Sedikit aja."

Ada jeda yang terasa panjang sebelum Nala berkata, "Mungkin Naren emang nggak peka, atau mungkin... dia terlalu sibuk sama pikirannya sendiri. Tapi lo tahu, Shey? Lo nggak salah karena merasa."

Sheya tersenyum. Bukan karena lega, tapi karena dia tahu, dia masih bisa merasa.

"Gue cuma suka dia. Suka banget. Tapi suka nggak harus selalu dibales, kan?"

"Iya. Kadang rasa cukup jadi rasa. Nggak harus punya."

Dari kejauhan, Naren tertawa lagi. Tak menoleh. Tak sadar ada dua pasang mata yang memperhatikannya.

Sheya menatap gelas teh di tangannya. Uapnya sudah tak ada, tapi hangatnya masih tersisa sedikit.

"Gue nggak pengen bikin dia berhenti tertawa. Gue cuma pengen jadi alasan kecil di balik tawa itu. Tapi... mungkin belum sekarang. Atau mungkin nggak akan pernah."

Nala menepuk pundaknya.

"Lo kuat, Sheya. Lo puitis banget juga sih, gue sampe ikutan mellow"

Sheya tertawa. Kali ini tulus.

Karena kadang, mencintai diam-diam bukan soal kesedihan. Tapi keberanian untuk tetap berdiri meski tahu tak akan dihampiri.

Naren berdiri di dekat meja registrasi, berkas-berkas di tangan, pikirannya bercabang ke mana-mana. Tapi ia tetap tersenyum. Bukan karena bahagia. Tapi karena... harus.

Suara gadis di sebelahnya terdengar ramai, mengisi kekosongan udara yang semestinya ia habiskan untuk berpikir. Naren menanggapi seadanya. Sesekali tersenyum tipis, sesekali menatap jauh ke arah kerumunan.

Lalu matanya berhenti. Di sana.

Sheya.

Berdiri bersama Nala, membawa dua gelas teh. Pandangan gadis itu menyentuhnya sebentar, lalu cepat-cepat berpaling. Naren merasakan sesuatu di dadanya yang tak bisa ia jelaskan.

"Kenapa gue malah nyari dia?" batinnya bertanya, sinis pada dirinya sendiri.

Ia teringat semalam. Bis yang sunyi. Kepala yang ia sandarkan, bukan karena lelah semata, tapi karena entah kenapa... nyaman. Tapi pagi ini, ia bahkan belum menyapanya.

"Gue terlalu ribet sama peran, sampe lupa"

Naren menghela napas pelan. Dalam diamnya, ia tahu Sheya mungkin menafsirkan semuanya berbeda. Dan ia terlalu takut untuk menjelaskan.

Dia bukan cowok yang pandai bicara perasaan. Dia lebih memilih menyimpan semuanya di dalam. Tapi untuk pertama kalinya, dia benci jadi dirinya yang seperti itu.

Naren menatap Sheya lagi, tapi gadis itu sudah duduk, berbicara dengan Nala. Tak melihat ke arahnya. Mungkin memang tak perlu.

"Gue bukan orang yang layak disukai cewek kayak dia," Pikirnya.

Namun ada satu hal yang tak bisa ia bohongi. Tapi hati Naren menolak mengutarakan semua itu.

Setelah 5 menit hanyut dalam lamunan. Naren melangkahkan kakinya menuju lapangan belakang, tempat para siswa sedang berlomba.

Namun sesampai disana, perlombaan sudah selesai. Orang-orang sudah bubar perlahan. Hanya tersisa beberapa panitia. Sheya duduk di kursi semen. Entah sejak kapan gadis itu sudah berada di lapangan. Pikir Naren.

"Kamu nggak capek, Ren?"

"Biasa aja" Balas cowok itu tanpa menatap.

"Keliatannya kamu sibuk banget hari ini." Ucap Sheya tersenyum kecil, memperbaiki kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.

"Namanya juga ketua."

Hening sebentar. Sheya menatap ke depan, mencoba mencari celah bicara lagi.

"Semalam..."

Naren menoleh singkat seakan tau arah pembicaraan gadis itu
"Iya. Kepala gue pusing."

Naren menarik napas singkat, masih datar "Maaf kalau bikin lo nggak nyaman."

Sheya dengan cepat menggeleng.
"Nggak... bukan gitu maksudku."

Naren akhirnya menatap Sheya
"Terus maksud lo apa?"

"Gak apa-apa sih. Cuma.. aku pikir kamu nggak bakal bisa tidur kalau ada orang lain di samping kamu."

"Gue gak peduli siapa yang duduk di sebelah, yang penting tidur."

Mendengar jawaban itu Sheya tersenyum samar, lalu menundukkan sedikit kepalanya.

"Iya, kamu emang nggak pernah peduli ya."

"Peduli cuma bikin ribet" Jawabnya sambil berdiri, mengambil botol, lalu melangkah.

Sheya hanya mengangguk pelan, menahan sesuatu di dadanya. Naren berhenti sejenak sebelum pergi, tapi tak menoleh.

"Tapi makasih... udah duduk di situ."

Kemudian dia pergi begitu saja. Membiarkan Sheya terdiam, dengan satu kalimat yang menggantung cuek, tapi cukup untuk membuat gadis itu berpikir semalaman.

Angin malam menyapu pelan, seakan tahu ada hati yang ingin bicara, tapi tak tahu caranya. 
Sheya duduk diam saja di ayunan penginapan mereka.

Dia tak butuh banyak kata. 
Cukup satu kalimat singkat dari Naren tadi, 
"Tapi makasih… udah duduk di situ" 
dan dunia Sheya mendadak riuh oleh perasaan yang tak bisa dia uraikan.

Ada rasa hangat… tapi juga dingin. 
Ada harapan kecil yang tumbuh dari tanah tandus.

Dia tahu, mencintai Naren seperti menunggu bunga tumbuh di musim dingin, tidak mustahil, tapi penuh sabar dan luka-luka kecil yang tidak terlihat.

Dan di antara bisikan angin dan bulan yang perlahan menunjukkan dirinya, Sheya tersenyum tipis. 

"Galau banget keliatannya"

Seketika Sheya mendongak mendapati sahabatnya tengah berdiri tepat di depan gadis itu. Dengan masker wajah yang menempel pada wajahnya.

"Lo kayak hantu, La. Ngagetin"

"Mana ada hantu secantik dan seimut gue" Kekeh Nala mendudukkan dirinya di rumput hijau. Diikuti oleh Sheya.

Kedua gadis itu duduk bersisian di atas rumput hijau yang mulai lembab oleh embun. Di atas mereka, langit malam membentang luas, dihiasi bintang-bintang bertaburan seperti kilau harapan yang menggantung di ujung mimpi.

Angin malam menyapa lembut, mengibaskan anak rambut di pelipis Sheya. Mereka diam cukup lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing

Hi, if you like gimme ⭐⭐
— c i p a

Shey. .Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang