── ★
"𝓜𝓮, 𝔂𝓸𝓾 𝓪𝓷𝓭 𝓽𝓱𝓪𝓽 𝓷𝓲𝓰𝓱𝓽"
Perlahan, kelopak mata Sheya terangkat. Cahaya tajam pagi menabrak matanya tanpa ampun, membuatnya menyipit, seolah dunia ingin memaksanya terjaga. Dalam sekejap, kesunyian dan bayangan mimpi terhempas oleh terang yang menguasai pandangannya.
Jantung Sheya masih membawa jejak malam itu. Hangat kepala Naren yang bersandar di bahunya semalaman meninggalkan getar halus yang belum juga reda. Di tengah dinginnya AC bus dan hening perjalanan, ia merasa anehnya tenang.
Ada sesuatu yang berbeda, bukan hanya soal kedekatan fisik, tapi kepercayaan diam-diam yang Naren titipkan padanya, tanpa kata, tanpa janji. Dan itu... membuat Sheya gugup.
"Bangun"
Gadis itu melenguh pelan, hanya mendengar samar suara berat itu. Matanya masih diserang rasa kantuk. Ini karena semalaman Sheya hanya memperhatikan wajah Naren!
Sheya bisa mendengar hembusan kasar dari cowok itu.
Naren melihat Sheya di sampingnya, gadis itu masih menyenderkan kepalanya pada lengan cowok itu.
"Bangun ga lo? Berat banget" Ketus Naren membuat gadis itu membuka mata nya cepat.
Apa katanya? Berat?
"Oh, berat ya?" Jawab Sheya sinis, memicingkan matanya.
"Lo ga inget semaleman lo nyender ke gue juga?" Lanjutnya menaikkan sudut bibirnya.
Naren tidak benar-benar ingat kapan kepalanya mulai bersandar di bahu Sheya. Mungkin ketika kantuk menyerangnya di tengah perjalanan bus malam itu. Suara mesin yang monoton, dan hawa sejuk dari pendingin udara membuatnya sulit bertahan untuk tetap terjaga.
Naren bukan tipe yang nyaman bersentuhan dengan orang lain, apalagi Sheya, gadis yang menurutnya terlalu cerewet, terlalu hangat, terlalu... bertolak belakang dengannya. Tapi malam itu, entah kenapa, ia tidak merasa perlu menjauh.
Saat matanya terbuka sesaat, setengah sadar, ia tahu dirinya sedang menyender. Ia tahu Sheya menyadarinya juga. Tapi gadis itu diam, tidak menepis, tidak bergerak.
Matanya melirik pada jam yang mengalung di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04:30.
Aneh. Biasanya, Naren akan langsung menghindar. Tapi kali ini, ia tetap di sana. Diam. Tenang. Seolah bahu gadis itu adalah tempat paling netral yang bisa ia temukan malam itu.
Dia tidak menyukainya, setidaknya itu yang ia yakini sejak awal. Tapi kenapa ia tidak merasa terganggu?
Mungkin karena kepalanya terasa berat pada malam itu. Atau mungkin... sesuatu yang lain.
"Itu karna kepala gue pusing, makanya nyender" Jawab Naren memutar bola matanya malas.
"Yauda! Gue juga pusing semaleman jadi tumpuan lo. So, gapapa dong kalau gantian" Balas Sheya tersenyum lebar.
"Iler lo hapus dulu" Celetuk Naren lalu meninggalkan gadis itu.
Sheya membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan Naren. Merogoh saku nya dan mengambil kaca kecil.
"Iler darimana sih?! Alesan doang, biar pisah sama gue!" Cibir Sheya.
Sheya menoleh ke sekeliling. Kursi-kursi kini tampak kosong, hanya sunyi yang tersisa. Tak ada tawa renyah atau obrolan pagi yang biasa mengisi perjalanan. Mungkin, teman-temannya telah lebih dulu turun, mengejar hangatnya sarapan di penginapan.
Hanya deru mesin yang perlahan meredup dan aroma sisa embun pagi yang menyelinap dari jendela. Ia duduk sejenak, membiarkan bayangan kenangan semalam menari di benaknya.
Lalu, dengan helaan napas ringan, Sheya berdiri. Dingin dari lantai bus menyentuh telapak kakinya saat ia melangkah pelan menuju pintu. Dunia di luar menanti, dan pagi masih menyisakan janji yang belum sempat diteguk.
"Shey, lo baru turun juga? Ngapain sih di dalem bus lama banget?" Ucap Nala menekuk bibirnya kebawah.
"Gue baru aja bangun, tadi masih ngumpulin nyawa." Jawab Sheya terkekeh pelan.
Nala melirik curiga.
"Ngumpulin nyawa atau ngumpulin nyawa?"
"Gak jelas sih... tapi semalam Naren nyender ke bahu gue"
Nala melebarkan matanya "HA? Serius lo?"
Sheya mengangguk pelan.
"Iya, semalem Naren pucat banget. Kayaknya lagi sakit.
"Lo yang nyuruh nyender, atau dia yang tiba-tiba nyender?"
"Dia. Gue sendiri gak ngerti. Dia tuh dingin banget, tapi pas dia nyender gitu gue malah ngerasa tenang. Kayak... dia lagi butuh tempat bersandar dan kebetulan itu gue"
"Kadang ya Shey, yang dingin itu bukan berarti gak punya rasa. Bisa jadi dia cuma belum tahu cara nunjukinnya" Balas Nala.
"Tapi gue takut berharap lebih, La"
"Kalau lo emang ngerasa sesuatu, gak usah buru-buru ngerti. Rasain dulu aja. Hati juga butuh waktu buat yakin" Jawab Nala lalu beranjak ke arah wastafel.
Sheya memandang Naren dari kejauhan, berkas-berkas rapih tergenggam di tangannya. Sosok ketua panitia itu tampak sibuk dengan tugasnya.
Bersama Nala, ia duduk di kantin penginapan, hati kecilnya berdebar antara harap dan ragu.
"Lo udah sarapan?" Tanya Nala.
"OH IYA! Gue lupa"
"Lo mau apa? Biar gue yang pesan"
"Nasi goreng aja"
Nala mengangguk dan langsung pergi memesan makanan. Tak perlu waktu lama, Nala kembali datang membawa nampan berisi dua piring nasi goreng. Harum aroma itu mengalir lembut, membelai ingatan Sheya akan hangatnya dapur Gea, ibunya. Tempat rasa dan cinta teranyam dalam setiap suapan.
Sheya menutup mata sejenak, membiarkan aroma itu menyusup ke dalam jiwa. Sudah lama ia tak merasakan kehangatan masakan dari ibunya, masakan yang tak hanya mengisi perut, tapi juga menghangatkan hati yang rindu.
Sheya menarik napas dalam, menahan sesak yang tiba-tiba menyelimuti dadanya. Sudah begitu lama ia terdiam, terpisah oleh jarak dan waktu dari suara lembut sang ibu.
Kata-kata yang dulu mengalir hangat kini hanya menjadi kenangan yang perlahan memudar. Rindu itu menyesak, tapi ia tahu, meski terpisah, kasih ibu tetap mengalir tanpa batas, menjadi cahaya kecil yang selalu menemani langkahnya dalam sunyi.
"Nala.. gue rindu banget sama mama, kayak ada bagian hati yang kosong kalo nggak denger suaranya"
Hi, if you like gimme ⭐⭐
— c i p a
KAMU SEDANG MEMBACA
Shey. .
Fiksi RemajaDari sorotan mata adiwarnamu, aku selalu ingin menaruh asa kepadamu. Seperti halnya sepasang atma yang saling menginginkan janukarta yang amerta. - Sheya Aloka
