──★
"𝓘 𝔀𝓪𝓷𝓷𝓪 𝓫𝓮 𝓪 𝓹𝓪𝓻𝓽 𝓸𝓯 𝔂𝓸𝓾𝓻 𝓵𝓲𝓯𝓮. 𝓚𝓷𝓸𝔀 '𝓫𝓸𝓾𝓽 𝔂𝓸𝓾, 𝓪𝓷𝓭 𝓮𝓿𝓮𝓻𝔂𝓽𝓱𝓲𝓷𝓰.
Langit pagi belum sepenuhnya terang, namun suasana halaman depan SMA Saturn telah riuh oleh suara tawa dan obrolan yang bersahut-sahutan.
Semua murid tengah sibuk mempersiapkan barang-barang mereka, menyusun koper, menata tas, dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Terutama para siswi, mereka tampak lebih heboh, saling tukar make up dan alat pelurus rambut seolah hendak menghadiri pemotretan, bukan perjalanan sekolah.
Namun di balik keriuhan itu, wajah-wajah berseri menyimpan semangat yang tak bisa disembunyikan. Mungkin bagi orang lain, perjalanan ke Bali hanyalah satu dari sekian banyak liburan biasa. Tapi bagi mereka, ini adalah kenangan terakhir sebelum perpisahan menghampiri di ujung semester. Detik-detik yang akan mereka kenang sebagai halaman terakhir dari buku bernama masa putih abu-abu.
Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri seseorang yang tampak paling sibuk namun tetap tenang—Naren, ketua angkatan yang selalu punya cara untuk terlihat dewasa dalam segala kekacauan.
Ia berjalan ke sana kemari, memastikan semua sesuai rencana. Mulai dari daftar hadir, hingga formasi tempat duduk dalam bus yang telah diacak demi mempererat tali kebersamaan antarjurusan.
"Semua siap?" Teriak Naren, suaranya memecah keriuhan.
"Siap!" Jawab puluhan suara dengan semangat serempak.
Naren mulai membacakan daftar nama, lalu menginstruksikan
"Siswa XII 1 dan XII 3 masuk ke Bus 01. Sementara XII 2 dan XII 4 menempati Bus 02. Cari tempat duduk sesuai nama yang sudah ditempel di kursi."
Sheya, dari kejauhan, memperhatikan Naren tanpa berkedip. Ada sesuatu dari cara cowok itu memimpin yang membuat hatinya selalu bergetar. Tatapan tegas, suara tenang, dan sorot mata yang dalam, semuanya membuat Naren sulit diabaikan.
"Gue harap duduk sama Evan" Bisik Nala di samping Sheya, berharap.
Sheya hanya mendesah malas. "Yang nentuin kursi kan kepala sekolah, bukan semesta cinta lo, Nal."
Mereka berdua lalu sibuk mencari nama masing-masing di barisan kursi bus.
"Nala! Lo beneran duduk sama Evan! Anjir, hoki banget!" Seru Sheya dari belakang bus.
“Sumpah?! Serius?” Nala tertawa lebar, wajahnya merah merona.
Sementara itu, Sheya kebingungan mencari namanya sendiri. Ia berjalan ke depan, berharap bukan di kursi depan karena... yah, tempat itu terlalu terlihat.
"Kayaknya lo duduk paling depan, Shey," Ujar Nala dengan nada menggoda. "Cepetan cari, bus mau jalan, nanti lo ditegur."
Saat Sheya akhirnya menemukan kursinya, ia mengerutkan dahi.
"Sheya 2 & N"
"N? N untuk... Naren?" Gumamnya lirih, hatinya seketika berdebar.
Dan benar saja, tak lama kemudian Naren muncul, tanpa ekspresi berlebihan, lalu duduk di samping Sheya.
"Mukanya biasa aja kali, kayak baru liat hantu" sindirnya datar.
"Kenapa lo duduk di sini?" Tanya Sheya dengan nada gugup, mencoba menutupi keterkejutannya.
"Buta ya? Itu nama gue" Jawab Naren sambil menunjuk huruf kecil yang nyaris tak terlihat.
Malam pun turun perlahan, menyelimuti perjalanan panjang mereka. Hujan turun deras, mengetuk-ngetuk jendela bus seperti ingin ikut serta dalam perjalanan.
Sebagian besar siswa telah terlelap, tubuh-tubuh mereka terayun pelan seiring laju kendaraan.
Tiba-tiba
Bruk!
"Aduh! Kepala gue..." Rintih Sheya, setelah kepalanya membentur jendela.
Naren yang semula tertidur perlahan membuka mata. Suara Sheya terlalu nyaring untuk diabaikan.
"Sakit?" Tanyanya, suaranya berat namun lembut.
"Enggak. Cuma kaget" Jawab Sheya cepat, lalu mencoba memejamkan mata lagi.
Namun Naren masih menatapnya. "Gue ada salah?" Tanyanya tiba-tiba.
Sheya membuka mata, lalu menoleh. Wajah Naren tampak pucat, lebih pucat dari biasanya.
"Muka lo pucet banget. Tadi udah makan belum? Lo sakit?"
"Gue nggak apa-apa" Jawabnya pelan.
Tapi Sheya tahu itu dusta. Dia menempelkan telapak tangannya ke dahi Naren. Hangat, dan sedikit berkeringat dingin.
"Lo gemeter, Ren…"
Naren menunduk. Kepalanya berdenyut hebat, dan saat petir menyambar di luar sana, tubuhnya bergetar ringan.
"Obat, di tas gue…" Bisiknya.
Sheya cepat-cepat meraih tas milik Naren, mengobrak-abrik isinya hingga menemukan satu botol kecil berisi obat. Bibirnya bergetar saat membaca labelnya.
"Obat penenang...?"
Naren hanya menatapnya, tatapannya lelah namun lembut. Ia mengambil obat itu dan menelannya, dibantu oleh air mineral dari tangan Sheya.
Tak lama kemudian, tubuhnya limbung, lalu bersandar di bahu gadis itu.
Sheya tak berkata apa-apa. Ia hanya meraih selimut dan menyelimutinya dengan hati-hati. Hatinya sesak, namun juga hangat.
"Tidur aja. Gue jagain" Bisik gadis itu nyaris tak terdengar.
Naren mengangguk lemah, dan memejamkan mata.
Di dalam bis yang terus melaju di bawah hujan dan petir, Sheya menyandarkan kepalanya perlahan, tangannya mengelus rambut cowok itu dengan sayang. Untuk pertama kalinya, Naren tak terlihat dingin dan jauh. Ia hanya anak laki-laki yang sedang kelelahan, dan Sheya ingin menjadi tempat pulangnya.
Tanpa sadar, senyum tipis terlukis di bibir Sheya. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mengabadikan momen itu diam-diam. Naren yang bersandar di pundaknya, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Kemudian, dalam hening yang lembut, gadis itu berbisik
"Je t’aime, Narendra Shankara…"
Dan malam pun larut, bersama dua hati yang tak lagi merasa sendiri.
Hi, if you like gimme ⭐⭐
— c i p a
KAMU SEDANG MEMBACA
Shey. .
Novela JuvenilDari sorotan mata adiwarnamu, aku selalu ingin menaruh asa kepadamu. Seperti halnya sepasang atma yang saling menginginkan janukarta yang amerta. - Sheya Aloka
