BAB 5

70 10 0
                                        

── ★
"𝓐𝓫𝓼𝓮𝓷𝓽𝓶𝓲𝓷𝓭𝓮𝓭𝓵𝔂 𝓶𝓪𝓴𝓲𝓷' 𝓶𝓮 𝔀𝓪𝓷𝓽 𝔂𝓸𝓾"
— 𝓣𝓪𝔂𝓵𝓸𝓻 𝓢𝔀𝓲𝓯𝓽

Hari ini adalah hari Kamis. Hari yang penuh penderitaan, semua mapel keramat bergabung. Mulai dari Matematika, Fisika, Bahasa Inggris dan Sejarah.

Sheya menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap, merasakan kantuk saat sedang mengerjakan latihan soal Matematika. Sungguh, Sheya sangat tidak menyukai pelajaran mematikan ini! Baru jam pertama saja dirinya sudah sangat merindukan kasur.

"Matematika itu bisa musnah aja ga sih.." Ucap Sheya dengan nada memelas.

"Andai gue jadi menteri pendidikan, udah gue hapus tuh Matematika si mapel mematikan!" Sambung nya.

"Ya, untungnya lo gajadi menteri pendidikan, Shey" Jawab Nala sedikit tertawa membuat Sheya melirik Nala tajam.

"Ya lo pikir aja kalau Matematika gaada, bego dong orang Indonesia. Udah bego nambah bego"

Jawaban Nala benar-benar buat Sheya ingin tertawa terbahak-bahak. Iya juga ya, kalau tidak ada hitung-hitungan, manusia-manusia Indo bakalan oon pake banget!

"Tapi Matematika benar-benar buat gue mual, La"

"Dihamilin Matematika ya lo" Jawab Nala membuat Sheya menabok sedikit kencang lengan sahabatnya itu.

"Gue mau ke rooftop" Celetuk Sheya tiba-tiba. Rasanya tiba-tiba rindu angin luar.

"Yaudah, sana. Gue lagi gamau ikut, mau selesaiin tugas"

"Kerjain punya gue dong La, please" Ucap Sheya dengan mata memohon dan bibir yang tertekuk.

"Ck. Pergi aja udah, aman ini" Jawab Nala yang masih fokus mengerjakan.

Sheya yang mendengar jawaban sahabatnya itu bersorak kegirangan, kalau kayak gini Sheya makin sayang deh sama Nala!

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju tangga ujung, membuka pintu bercat hitam itu membuat suara decitan pintu terdengar. Sudah lama gadis itu tidak ke rooftop, Ia terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya.

"Huh... adem nya" Sheya memejamkan matanya, merasakan angin menerpa kulit putih nya. Menghirup dalam-dalam udara segar yang sudah lama tak ia rasakan.

Tangannya ia letakkan pada tembok yang menjadi pembatas rooftop. Rambut gadis itu berterbangan tertiup angin. Sesekali Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Ngapain?"

Suara berat itu mengagetkan Sheya. Gadis itu pikir tidak ada orang diatas sini. Gadis itu menoleh dan mendapati Naren yang sedang memakai headphone nya.

Mata mereka bertemu, Sheya kembali merasakan hal luar biasa pada dirinya. Degup jantung yang mulai berdisko, dan semburan merah yang merangkak naik ke wajah nya.

"Lo ngapain disini?" Tanya gadis itu balik, membuat Naren memutar bola matanya.

"Gue duluan yang nanya" Jawab cowok itu melepaskan headphone yang Ia pakai.

"Gue, gue cuma mau ngehirup udara segar aja. Mumet di kelas" Jawab Sheya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun pada Naren.

Rasa kantuk tiba-tiba hilang begitu saja. Beginilah kalau sudah jatuh cinta, mata ngantuk jadi melotot

Tak ada lagi jawaban dari cowok itu. Naren malah ikut melihat ke bawah, dan merasakan sejuk nya udara luar.

"Kalau gue boleh tau.. lo kelas berapa?" Tanya Sheya membuka topik pembicaraan. Ya as you know gadis ini sudah tau kelas Naren, hanya pura-pura bertanya saja.

Shey. .Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang