── ★
Sheya menghela napas, kasar dan berat. Wajahnya mengeras, sorot matanya tak lagi lembut. Es krim di tangannya telah habis tanpa sisa, dilahap bersama rasa kesal yang diam-diam menyelinap sejak tadi. Matanya celingukan, gelisah seperti burung kecil yang kehilangan arah, mencari seseorang yang tak kunjung datang.
Pandangan Sheya kembali jatuh pada ponsel di meja. Jam digital bersinar terang, mengingatkannya bahwa waktu terus berdetak.
"Lama banget? Ke mana sih?!" Gumamnya penuh gerutu.
Tau ah... sebel banget," Desisnya, lalu menghentakkan kaki di atas rumput hijau yang tak bersalah. Sungguh, hari ini Sheya ingin marah pada semesta.
"Benci sama siapa?"
Sebuah suara berat, dalam, dan tak asing menyusup dari balik angin. Sheya mendongak dengan cepat, mendapati sosok jangkung dengan rambut kusut angin, membawa tumpukan buku.
Naren.
"Lo," Balas Sheya tajam, memutar bola matanya dengan malas.
Tanpa mengucap banyak kata, Naren menarik kursi taman dan duduk, membuka satu per satu bukunya seperti tak ada badai yang tengah berkecamuk di sampingnya.
"Gue tadi ada urusan," Ucapnya santai.
Sheya kembali mendesah keras. Lelaki itu... membuatnya menunggu hampir satu jam. Hampir satu jam yang dipenuhi tanya dan sebal.
"Untung gue sayang... Kalau enggak, udah gue karungin terus gue buang ke laut," Gumamnya pelan, berharap angin tak menyampaikan kalimat itu ke telinga Naren.
"Lo udah ngerjain latihan soal yang gue kirim?"
Sheya terkejut. Matanya membesar. Ia sudah mengerjakannya, tentu saja. Tapi... bagaimana kalau semua jawabannya salah?
"Keluarin. Gak apa-apa kalau salah," Ucap Naren, seolah mendengar suara hatinya.
Dengan enggan, Sheya mengeluarkan selembar kertas penuh angka dan tanda coretan. Naren segera mengambilnya. Dia mulai mencermati, menilai, menghakimi, dan Sheya bisa merasakan jantungnya berdentum seperti gendang perang.
"Gue salah delapan dari sepuluh kayaknya," Gumamnya, cemas.
"Berapa tuh nilainya ya? Ah sudahlah, males mikir..."
Naren tiba-tiba berhenti membaca. Wajahnya berubah aneh saat matanya menangkap sebuah tulisan di pojok kertas
“Sheya, s-nya syanthiq.”
Bibir Naren berkedut menahan tawa. Ia berdeham pelan, lalu melirik gadis di hadapannya yang ternyata juga tengah menatapnya penuh curiga.
"Apa?" Ketus Sheya.
"Gak," Sahut Naren sambil membalik kertas.
"Udah belum?" Tanya Sheya, menyandarkan dagu di atas kedua tangannya. Dari sudut itu, wajah Naren terlihat sangat dekat. Rambutnya jatuh ke dahi, dan Sheya... Sheya kembali mengaguminya diam-diam.
"Lo salah lima dari sepuluh," Ucap Naren, memecah lamunannya.
"Belajar lebih banyak lagi," Tambahnya. Sheya mengangguk cepat seperti anak kecil yang baru dimarahi gurunya.
Mereka duduk di taman komplek, tempat pertama kali mereka berbagi tawa singkat. Angin sore berembus, membuat helaian rambut panjang Sheya menari liar. Ia tak pernah suka mengikat rambutnya. Biarlah tergerai, seperti hatinya, liar, bebas, tak bisa dikekang.
Ting.
Satu notifikasi grup masuk.
Deka
Selamat sore. Sekolah mau ngadain study tour. Tujuan
1.Bali
2.Jogja
Ayo polling segera, karna besok suara terbanyak akan diumumkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shey. .
Ficção AdolescenteDari sorotan mata adiwarnamu, aku selalu ingin menaruh asa kepadamu. Seperti halnya sepasang atma yang saling menginginkan janukarta yang amerta. - Sheya Aloka
