── ★
"𝓘𝓯 𝓽𝓲𝓶𝓮 𝓬𝓸𝓾𝓵𝓭 𝓼𝓵𝓸𝔀 𝓭𝓸𝔀𝓷, 𝓽𝓱𝓮𝓷 𝓲 𝔀𝓸𝓾𝓵𝓭 𝓭𝓸 𝓽𝓱𝓪𝓽. 𝓢𝓸 𝓽𝓱𝓪𝓽 𝔀𝓮 𝓬𝓪𝓷 𝓪𝓵𝔀𝓪𝔂𝓼 𝓫𝓮 𝓽𝓸𝓰𝓮𝓽𝓱𝓮𝓻"
Langkah mereka terhenti di tengah taman yang dikelilingi pepohonan rindang dan bunga-bunga liar yang merekah seadanya. Hari itu, barangkali menjadi salah satu hari yang paling menyenangkan bagi Sheya.
Di matanya, dunia sedang bersikap baik. Seolah semesta ingin berkonspirasi untuk memberikan sepotong cerita indah yang bisa disimpan di kotak kenangan hatinya.
Di hadapannya, ada dua sosok yang berjalan bersamanya, seorang remaja laki-laki yang selama ini hanya bisa ia amati dari kejauhan, dan seorang gadis kecil yang seolah menjadi jembatan bagi kedekatan yang perlahan terajut.
Dalam hati, Sheya membatin, "Lucu ya, kalau dilihat dari luar, kami mungkin tampak seperti sepasang kekasih yang sedang menjaga adik mereka. Seperti tokoh dalam drama Korea yang kebetulan punya waktu luang dan memilih menghabiskannya di taman."
Sheya menahan senyum sendiri, enggan terlalu terbawa perasaan, meski dalam hati ia berharap waktu melambat. Ia ingin berlama-lama di tempat ini. Menikmati hangatnya mentari sore, aroma rerumputan yang basah, dan... kehadiran Naren yang duduk hanya lima jengkal darinya.
Namun, kenyataan tak selalu sejalan dengan ekspektasi. Caca, si gadis kecil yang penuh semangat, justru memilih mengayuh sepedanya sendiri. Ia meluncur menjauh, meninggalkan mereka berdua di bangku taman yang dingin dan sunyi.
Sheya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hening. Sangat hening.
Apa aku harus berkata sesuatu? Tapi... apa? Kenapa otakku seperti kehabisan kosakata?
Selain memikirkan topik obrolan, Sheya juga sadar betul bahwa jantungnya kini berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada sesuatu tentang jarak lima jengkal itu yang membuatnya merasa... berbahaya. Jarak yang cukup dekat untuk menimbulkan degup, tapi terlalu jauh untuk menjangkau.
"Shey, tenang, napas... jangan panik" Batinnya, mencoba menenangkan diri.
Akhirnya ia memberanikan diri.
“Caca itu... adik lo, ya?” Tanyanya pelan.
Dan begitu pertanyaan itu meluncur dari mulutnya, ia langsung menyesal.
Astaga, Sheya. Kalau bukan adiknya, masa iya kakaknya? Duh, bisa-bisa Naren ilfeel, terus pindah sekolah... terus jadi benci... terus menikah sama orang lain... HENTI.
Naren menoleh singkat, lalu mengangguk. “Ya,” Jawabnya pendek.
Ya doang? YA? Ya? I-nya aja nggak ada! Nggak ada "Iya, Sheya" cuma... YA? Jerit batin Sheya, panik dan frustasi, sambil tersenyum kaku ke arah pohon entah kenapa.
Cowok itu kembali menatap ke depan, memperhatikan Caca yang kini tampak riang di kejauhan.
"Lo yang sering di parkiran, kan?" suara berat Naren kembali terdengar, seperti petir kecil yang membelah keheningan.
Deg.
Apa? Jadi... selama ini dia... memperhatikan juga?
Jantung Sheya melonjak. Darah mengalir deras ke wajahnya, menghangatkan pipi yang sudah merona sejak tadi.
"H-hah? Iya..." Jawabnya gugup. Nafasnya tak beraturan.
Padahal biasa aja. Hah hoh hah hoh... dasar Shey!
"Liatin siapa di parkiran?" Tanyanya lagi, masih dengan nada santai namun menggoda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shey. .
Teen FictionDari sorotan mata adiwarnamu, aku selalu ingin menaruh asa kepadamu. Seperti halnya sepasang atma yang saling menginginkan janukarta yang amerta. - Sheya Aloka
