第十一部分 [Bagian 11]

91 13 8
                                    

Catatan :

Menggunakan sudut pandang Yun Qi. Kejadian yang ada pada bagian ini terjadi sebulan setelah pertemuan Zhi En dan Yun Qi.

- - -

上海/Shanghai, 1948/ Tahun 1948
Kedai mie Nan Jun
10 : 00 AM

Yun Qi benar-benar sibuk hari ini. Bahkan ia sampai turun tangan ke dapur untuk mengatasi betapa banyaknya pelanggan yang datang. Namun, ditengah-tengah kesibukan itu ada hal yang membuat Yun Qi terdiam untuk beberapa sesaat sebelum akhirnya ada salah satu pelanggan yang membuatnya kembali fokus.

Yah, sebenarnya tadi Yun Qi bertemu dengan seorang pria paruh baya yang menurutnya begitu familiar di pandangannya. Tapi ia lupa pernah bertemu kapan dan di mana dengan pria paruh baya itu, perasaannya hanya mengatakan ia pernah melihatnya.

Bertepatan dengan dimana dirinya kena marah pelangganya, ia sempat melihat pria paruh baya itu berjalan keluar kedai dengan langkah tertatih. Yun Qi panik ketika melihat itu. Mengapa demikian? Sebab ia ingat Nan Jun pernah mengajarinya untuk harus berbagi kepada orang miskin. Agar kedai tetap berjaya dan memiliki citra yang bagus.

Maka setelah Yun Qi selesai melayani satu pelanggan itu, ia langsung berjalan menuju pria paruh baya yang untungnya masih belum terlalu jauh berjalan dari kedai Nan Jun. Ia tidak peduli dengan lima pelanggan lagi yang belum sempat ia layani. Pikirnya bawahannya akan mengatasi semua itu. Yang terpenting, ia harus mengejar pria paruh baya itu.

"叔叔[Paman!]"

Seketika pria paruh baya itu menoleh.

"Paman kembalilah ke kedaiku! Paman boleh duduk di dalam, akan kuberikan semangkuk mie untuk paman, paman lapar kan?"

"谢谢[Terima kasih!]"

"不用谢,叔叔[sama-sama, paman!]."

Lalu keduanya berjalan beriringan. Sambil berjalan, Yun Qi membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Omong-omong. Maafkan aku karena sudah mengabaikan paman. Hari ini kedai sangat ramai, aku kewalahan mengatasinya."

"Tidak apa, apa kau pemilik baru kedai ini? Kau siapanya Nan Jun? "

"Aku temannya. Kedai ini masih miliknya, aku hanya bawahan yang ia percaya untuk mengelola kedai."

"Oh begitu..."

Kini mereka telah sampai di dalam kedai, Yun Qi langsung membantu pria paruh baya itu untuk mencari tempat duduk.

"Paman duduk di sini dulu ya, akan aku siapkan semangkuk mie untuk paman," ucapnya setelah ia berhasil menemukan tempat duduk yang kosong. Posisi tempat duduk itu ada di ujung kiri kedai. Memang posisi itu jarang disukai oleh pelanggan karena dekat dengan posisi dapur dan membuat mereka tidak bisa melihat pemandangan luar dengan bebas.

15 menit kemudian barulah Yun Qi menyelesaikan semangkuk mienya. Kebetulan juga, para pelanggan sudah banyak yang pulang. Jadi, ia bisa lebih leluasa berjalan.

"Paman, ini semangkuk mie untuk paman."

"Terima kasih, " ucap pria paruh baya itu sambil melihat Yun Qi yang perlahan mulai berjalan menjauh darinya.

" Tunggu sebentar anak muda! Kau duduklah di sini. Ada hal yang ingin paman bicarakan," ucap pria itu lagi memanggil Yun Qi.

"Eh? Baik paman," jawab Yun Qi kemudian dan ia langsung duduk di samping pria itu.

"Entah kenapa paman merasa yakin kalau kau adalah Yun Qi kecil paman. Wajahmu dan sifatmu sangat mirip dengannya. Entah bagaimana nasibnya sekarang. Ia tertinggal di Nanjing beserta keluarga dan anakku saat pembantaian terjadi. Sedangkan aku, dari tanggal sembilan sudah pergi ke Shanghai bersama majikanku [pemilik lahan sawah yang dikerjakan beliau], " ucap pria paruh baya itu dengan air mata yang menetes.

Yun Qi seketika terdiam. Benaknya langsung bertanya-tanya. Apakah benar ia adalah Paman Sun? Orang yang selama ini berusaha ia cari namun tetap saja gagal, sebab ia sama sekali tidak memiliki clue.

"...entahlah mereka semua pasti sudah meninggal. Jepang begitu kejam, mereka tidak akan membiarkan siapa saja yang ada di Nanjing tetap hidup. Betapa bodohnya aku tidak mengajak kalian ikut bersamaku ..., " lanjut pria paruh baya itu setelah beliau berhasil menarik nafas, karena dada beliau terasa sesak sekarang. Ini sungguh menyakiti perasaanya. Bahkan, mie yang telah disajikan Yun Qi tadi belum sempat ia sentuh.

Tapi, lagi-lagi beliau memutus ucapannya, ia kembali terdiam karena benaknya sedang berpikir. Begitu juga nafasnya, ia berusaha menstabilkan nafasnya, sebab berbicara sambil menangis benar-benar menguras tenaga.

"... padahal aku ingin terus berada di Nanjing, setidaknya menyaksikan putriku menikah dengan lelaki pilihannya atau paling tidak dengan lelaki pilihanku. Tapi, itu semua hanyalah hayalanku. Putriku telah tiada. Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi."

"Maaf paman, kalau boleh tahu siapa nama paman?"

"Namaku, Sun Ming Xing [孙明星]. "

Mata Yun Qi seketika melotot. Ia merasa senang karena nama itu memang nama orang yang selama ini ia cari. Tapi, tiba-tiba terbesit di pikirannya sebuah pertanyaan. Apakah benar beliau adalah orang yang ia cari selama ini? Karena nama itu juga bisa ditemukan pada orang lain.

Jadilah hal pertama yang ia tanyakan untuk memastikan benar tidaknya beliau adalah paman Sun, adalah menanyakan kapan hari lahir anaknya. Sebab tanggal lahir adalah suatu hal yang sulit dimanipulasi.

"Apa paman tahu hari lahir anak paman?"

"Dia lahir pada 16 Mei tahun 1926. Tak lama ibunya meninggal karena pendarahan hebat saat melahirkannya. Jadilah aku menitipkannya pada keluarga. Aku ingat, saat aku menitipkan bayi perempuanku. Nyonya sedang menuntun seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu sangat mirip denganmu. Hanya bedanya kadar kegemukannya. Kenapa menanyakan hal ini? "

"Aku kebetulan mencari orang dengan nama serta wajah yang persis dengan paman, hanya saja aku ingin memastikan apakah paman benar orangnya."

"Lalu bagaimana apa sekarang kau percaya?"

"Iya, aku percaya."

Dari sini ia jadi paham tentang alasan mengapa ia tadi merasa familiar ketika melihat sosok pria paruh baya itu. Ternyata, ia memang pernah bertemu dengan sosok ini. Sebelum akhirnya ia kehilangan sosok ini dalam jangka waktu panjang.

"Kenapa kau mencariku?"

"Karena aku ingin menyampaikan bahwa aku mampu memenuhi impian paman. Aku yang akan menikah dengan anak paman. "

"Jadi, kau benar Yun Qi kecilku? Dan kau sudah tahu perihal surat dan buku harian ibumu? Tapi bagaimana bisa? Kejadian itu terjadi saat kalian berumur dibawah 17 tahun."

"Iya. Jika aku memang bukan Yun Qi, maka tak seharusnya aku bertanya tentang tanggal lahir Zhi En, juga seharusnya aku tak mengatakan bahwa aku mencari paman. Soal kertas dan buku harian aku sudah mengetahui segalanya. Zhi En yang membantuku mengetahui itu. "

"Tapi bagaimana kalian bisa selamat? Dan bagaimana bisa surat dan kertas itu masih bisa ditemukan? Bukankah seharusnya barang itu hilang?"

Yun Qi langsung menceritakan semuanya pada paman Sun. Selama mendengar Yun Qi bercerita paman Sun menangis. Ia membayangkan bagaimana situasi yang terjadi saat itu. Tapi tak lama ia bahagia setelah mendengar cerita dari Yun Qi bahwa mereka akhirnya selamat dan diadopsi oleh keluarga baru. Lalu ditambah dengan cerita tentang bagaimana Zhi En menemukan kertas serta buku kecil itu. Ini semakin membuat paman Sun merasa senang.

Tentunya, Yun Qi tidak menceritakan tentang hal lain yang telah terjadi diantara dirinya dan Zhi En. Ia terlalu malu menceritakannya. Apalagi ditempat umum seperti ini. Pikirnya biarlah paman Sun tahu sendiri semuanya.

"... tapi semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang bisa disalahkan di sini."

"Kalau begitu bolehkah paman melihat kondisi Zhi En sekarang? Paman benar-benar merindukannya."

"Boleh. Tapi paman tunggu saja dulu di sini sampai kedai tutup. Nanti aku antar, paman juga boleh menginap di sana."

Jujur Yun Qi merasa senang hari ini. Ia tidak menyangka bahwa takdir baik kali ini benar-benar berpihak padanya. Orang yang ia cari telah berhasil ia temukan. Kalau begini ia makin tidak sabar untuk segera menikahi Zhi En.

待续/Bersambung...

樱花 [Bunga Sakura - YOONIU FF] / ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang