第十部分 [Bagian 10] 🔞

138 17 6
                                    

Catatan :

Bagian kali ini masih menggunakan sudut pandang penulis.

Masih berisikan adegan 18+ [seks saat hamil di bawah guyuran shower] . Bagi yang tidak nyaman dengan bagian ini boleh melewatinya.

- - -

上海/Shanghai, 1948/Tahun 1948
Peace Hotel
10 : 00 AM

Zhi En bangun lebih dulu saat ini. Tapi, ia merasa bingung bagaimana bisa vaginanya serta dadanya terasa becek? Seingatnya semalam ia hanya bermimpi, sebab posisi tidurnya sama sekali tidak berubah. Yun Qi tetap memeluknya.

Maka dengan terpaksa akhirnya ia bangkit dari tidurnya. Tujuannya hanya untuk mengecek keadaan tubuhnya.

Sesampainya di kamar mandi, ia terkejut bukan main. Cermin yang ada di sana menampilkan dirinya dengan keadaan dada basah. Jadi, ia langsung membuka kancing Cheongsamnya untuk membersihkan bagian dadanya dengan air kran. Namun, sepertinya ia tetap harus mandi, sebab dadanya terasa tetap lengket dan semakin basah. Belum lagi vaginanya, vaginanya terasa benar-benar lengket. Apalagi ketika ia gunakan berjalan. Itu terasa semakin parah. Ia merasa seperti ada cairan yang terus menerus keluar. Ia jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi semalaman. Ia hanya ingat sedikit, sebab ia sangat mengantuk.

Perlahan, ia buka seluruh pakaiannya, termasuk pakaian dalamnya hingga ia telanjang bulat. Kemudian ia posisikan dirinya berjongkok. Saat ia berada di posisi seperti itu, dapat ia lihat tetes demi tetes cairan berwarna putih pekat keluar. Dalam hati ia berpikir, seganas apa calon suaminya semalaman? Efek yang ia rasakan sampai sebegininya.

Sepertinya, Yun Qi lupa untuk benar-benar membersihkan semuanya semalam. Spermanya masih tertinggal di dalam liang vagina Zhi En.

Setelah dirasa semua cairannya keluar baru ia memutar kran yang terhubung dengan shower, untuk membilas tubuhnya. Saat ia sibuk merasakan segarnya air yang membasuh tubuhnya. Ia dikejutkan dengan kedatangan Yun Qi yang secara tiba-tiba sudah ada di belakangnya merengkuh pinggangnya.

Jangan kalian kira Yun Qi datang dengan keadaan ia masih mengenakan baju. Nyatanya ia sudah telanjang bulat. Padahal hawa udara sedang dingin, tapi rasa lengket di bagian kejantanannya lah yang membuatnya ingin segera masuk kamar mandi. Untungnya, Zhi En tidak mengunci pintu kamar mandinya, jadi ia bisa langsung masuk. Mungkin ini karena efek dia setengah sadar dan panik. Jadilah ia lupa mengunci pintu.

Seketika badan Zhi En jadi menegang sekarang. Terlebih ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Yun Qi di lehernya.

"Ayo kita mandi bersama sekarang, " ucap Yun Qi dengan suara seduktifnya sambil sesekali mengendus leher Zhi En dengan hidung bangirnya.

"Hmh..."

"Suaramu begitu indah, beruntung aku memilikimu."

Setelah berucap seperti itu, Yun Qi meraih botol berisikan sabun cair. Ia tuangkan sabun cair itu di tubuhnya dan tubuh Zhi En. Biasanya, ia melakukan ini sendirian di rumah Nan Jun, tapi sekarang ia bisa melakukannya dengan Zhi En. Orang yang sangat ia cintai.

Langkah selanjutnya yang ia lakukan adalah mengusapkan seluruh cairan itu ke tubuh Zhi En. Hal ini membuat Zhi En tak berhenti melenguh. Terlebih dapat Zhi En rasakan kedua tangan Yun Qi kini mulai meremas pelan kedua payudaranya.

"Ssshh ... ."

Bertepatan dengan itu, Zhi En merasa bibir Yun Qi berusaha membuatnya berciuman, sebab kini bibir Yun Qi sudah berada di pipinya. Terus menerus mengecupnya. Maka ia respon ajakan berciuman itu dengan cara ia menolehkan wajahnya.

Jadilah ciuman panas itu terjadi. Zhi En menutup kedua matanya begitu juga dengan Yun Qi. Tapi meski begitu, tangan Yun Qi tak hanya diam. Dia terus memainkan payudara Zhi En sambil sesekali memelintir putingnya. Jujur ini membuat Zhi En kalang kabut. Bahkan rasanya ia sudah tak sanggup berdiri. Kalau begini keadaanya, entahlah bagaimana kondisi Cheongsamnya, sebab tadi ia hanya menggantungnya secara asal-asalan di pintu. Bisa jadi Cheongsam itu telah jatuh dan basah. Untungnya, ia sempat membawa baju ganti karena ia sempat terpikir kemarin bahwa ia akan mengganti bajunya saat akan tidur. Namun nyatanya belum sempat ia ganti baju ia sudah tertidur.

"Hah... ."

Helaan nafas keduanya setelah dirasa sama-sama kehabisan nafas, sebab air yang berasal dari shower itu mulai masuk ke dalam mulut mereka.

"Bolehkah aku melakukannya sekali lagi?"

"Emh...," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Zhi En sekarang. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk merespon apapun.

Yun Qi langsung membawa tubuh Zhi En ke gendongannya. Lalu, ia arahkan kejantanannya yang kembali menegak itu ke liang vagina Zhi En.

"Ahh .... ssssh..., " lenguh Zhi En lalu dibalas geraman rendah Yun Qi.

Bagi Yun Qi gampang saja melakukan seks dalam posisi seperti ini, terlebih badan Zhi En menurutnya terasa sangat ringan. Padahal sekarang, badan Zhi En terlihat lebih berisi ketimbang lima bulan lalu. Mungkin karena perbedaan tinggi badan yang terjadi di antara keduanya dan kekuatan otot Yun Qi lah yang menyebabkan semua ini terjadi.

Kini, Yun Qi mendorong tubuh Zhi En di dinding. Agar memudahkannya sampai ke pelepasannya. Tak butuh waktu lama, akhirnya ia sampai pada pelepasannya. Lagi-lagi ia semprotkan seluruh spermanya ke dalam. Setelahnya baru ia lepaskan kejantanannya.

"Terima kasih, maafkan aku."

Zhi En hanya diam saja, ia sudah terlalu lelah. Bahkan kini ia telah menutup rapat matanya. Ia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi lagi setelah ini.

- - -

上海/Shanghai, 1948/ Tahun 1948
Peace Hotel
12 : 00 AM

Sekarang Zhi En baru bangun dari tidurnya dengan keadaan ia sudah berpakaia rapi. Hanya saja rambutnya masih acak-acakan, sebab memang Yun Qi tidak pandai mengatur rambut perempuan. Tapi setidaknya kali ini ia sudah benar-benar bertanggung jawab.

Hal pertama yang ia rasakan kemudian dalah rasa lapar yang tak karuan. Hingga membuat perutnya berbunyi cukup kencang.

"Kau lapar? Ayo kita makan di bawah. Seingatku Nan Jun bilang pada kita bahwa di lantai satu ada tempat khusus untuk makan."

"是的[Ya.] " ucap Zhi En lemas.

"Maaf, aku tidak bisa mengontrol diriku. Habisnya kau terlalu cantik," ucap Yun Qi sambil menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.

Zhi En hanya tersenyum tipis sebagai respon. Lalu, ia berusaha bangkit dari tidurnya. Tapi tiba-tiba Yun Qi menggendongnya. Hal ini sukses membuat Zhi En terkejut.

"Biarkan aku menggendongmu. Kau pasti lelah setelah melewati semuanya."

"Tapi, apa reaksi orang-orang nanti?"

"Tidak akan ada yang tahu. Kita pakai lift."

"Lift? Kakak bisa menggunakannya?"

"Nan Jun pernah mengajariku waktu dia mengajakku ke hotel ini untuk mendatangi acara pernikahan sepupunya."

"Oh begitu."

"Yah benar."

Selanjutnya Zhi En tersenyum. Ia eratkan pegangan tangannya pada pundak Yun Qi. Dalam hatinya, ia ingin ini terus terjadi. Tidak ada lagi kata "berpisah" di hubungan ini. Ia sungguh tidak sanggup jika perpisahan kembali terjadi. Kakaknya adalah dunianya, meski beberapa waktu lalu sempat membuatnya sedikit merasa kesal pada kakaknya, karena kakaknya begitu pengecut. Tapi, sebenarnya kakaknya paling banyak berkontribusi dalam hidupnya. Seperti mengajarinya membaca bahkan menulis, ketika ibunya sibuk hal lain.

Begitu juga dengan Yun Qi ia juga berharap semoga semuanya akan tetap berjalan dengan lancar seperti ini. Masalah cukup terjadi di masa lampau. Kalau pun semisal ada masalah cukup masalah ringan saja jangan seberat seperti yang sudah-sudah. Yang bahkan hampir saja tidak menemukan jalan keluar.

Kini mereka sudah ada di depan lift, sambil menunggu pintu lift terbuka. Zhi En mengucapkan suatu hal pada Yun Qi.

"玧其大哥,我爱你... [Kak Yun Qi, aku mencintaimu.] "

"我也爱你... [Aku juga mencintaimu.]"

Lalu mereka berciuman. Kebetulan keadaan lift sedang sepi, jadi mereka bisa leluasa berciuman. Doakan saja hingga ke lantai satu tidak ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam lift.

待续/Bersambung ...


樱花 [Bunga Sakura - YOONIU FF] / ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang