2 - Mood Swing

8.6K 934 88
                                        

Membawakan segelas air hangat, duduk di pinggir ranjang, lalu mengulurkan gelas tersebut pada seorang gadis yang kali ini terlihat jauh lebih baik dari beberapa menit lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Membawakan segelas air hangat, duduk di pinggir ranjang, lalu mengulurkan gelas tersebut pada seorang gadis yang kali ini terlihat jauh lebih baik dari beberapa menit lalu. Meski terlihat diam dengan lamunan panjang, Agatha masih merespon gelas air minum dari Dirga, meneguknya perlahan, sambil sesekali melirik pemuda itu.

"Maaf, ya," gumamnya lirih, membuat Dirga refleks tersenyum tipis sambil mendekat ke arah gadis itu.

"Lagi butuh apa, hmm? Laper nggak? Mau aku masakin, atau beli aja?"

Agatha menggeleng, masih dengan tatapan hangat menatap Dirga lekat. Pemuda itu masih seperti dulu, sangat perhatian dan peduli, bahkan rasa sayang Agatha kali ini seolah tidak bisa dideskripsikan lewat kata-kata.

Usapan lembut pada puncak kepala gadis itu semakin membuat sang empu merasa bersalah dengan semua tindakan yang mungkin hampir mencelakai sang kekasih, atau bahkan sudah mencelakainya.

"Dirga, kamu nggak apa-apa?" tanya Agatha dengan suara pelan, selepas memeluk cowok itu.

Dirga tersenyum getir, menggeleng pelan. "Ga, kalau aku lagi hilang kontrol kaya tadi, kamu jangan diam aja, ya. Kamu bebas maki aku, marah ke aku, bahkan kalau bisa kamu tampar aku, Ga, biar aku sadar!" Sempat merenggangkan pelukan, namun Dirga kembali mengambil alih gadis itu ke dalam pelukannya, menenangkan Agatha dengan usapan lembut pada puncak kepalanya, sambil sesekali memberikan kecupan singkat.

"Aku bisa melakukan itu semua, tapi aku nggak yakin kalau aku akan tega lakuin itu ke kamu, Tha. Dan satu hal, kekerasan bukan jalan keluar dalam masalah yang kita hadapi saat ini. Jika aku berbalik marah bahkan main fisik ke kamu, kita berdua akan selesai, Tha, kita mati malam ini."

Suara Dirga sempat tercekat, seolah tak kuasa mengutarakan kalimat tersebut, apalagi saat melihat Agatha yang masih memandangnya dengan tatapan kosong, bingung dengan situasi yang terjadi hari ini.

Dirga merenggangkan jarak terlebih dahulu, mengambil sesuatu dari laci nakas gadis itu, sebelum mengernyit. "Kamu nggak pernah minum obat lagi?" tanya cowok itu, sambil menoleh ke arah Agatha.

"Sama sekali nggak pernah, makanya sekarang aku jadi gila." Jawaban yang sangat enteng, seakan tak akan menjadi masalah besar bila Agatha mengacuhkan resep dokter.

Dirga menghela napas, obat yang saat ini masih berada di tangannya terkesan utuh sejak hari pertama keluar dari apotek. Selama ini, Agatha benar-benar mengabaikan obat itu, dan bodohnya Dirga sangat percaya bila Agatha selalu rutin meminum obat tersebut, agar setidaknya merasa tenang dengan selepas bergulat dengan emosi yang susah dikontrol.

"Besok kita ke Dokter Ella lagi, ya. Kamu masih perlu beliau."

Agatha mengangguk lemas. Ia sadar bila tingkat emosinya yang akhir-akhir ini tidak stabil bukan karena dalam masa menstruasi, melainkan tekanan serta stres yang kemudian memengaruhi mentalnya selama beberapa tahun belakang, sesaat setelah sang papa dirujuk ke Singapura untuk melakukan pengobatan sekaligus terapi agar mentalnya bisa kembali normal.

Come on, Ga!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang