Semenjak saat itu, gue dan Imam pacaran. Kejadian itu udah 5 bulan yang lalu. Ya, hubungan gue sama Imam udah 5 bulan. Gak kerasa. Sama sekali gak kerasa. Tiba-tiba aja kemaren gue nemu tanggal 2 dikalender. Tanggal jadian gue sama Imam.
Semenjak kejadian itu, gue jadi over proteck ke Imam. Sebenernya gak tau kenapa gue jadi kayak gini. Mungkin rasa khawatir dan trauma gue pada penyakit Imam. Gue selalu ingetin dia minum obat 3 kali sehari. Gue yang periksa dan mempersiapkan makanan dia. Dia harus makan makanan yang sehat. Dia juga harus banyak istirahat. Seharusnya gue juga merhatiin kesehatan gue, tapi gue seakan buta dan gak peduli. Sekarang ini, prioritas hidup gue cuma satu, Imam.
Sekarang ini, dirumah cuma ada gue dan Imam. Afel tadi katanya mau kerumah Andri. Sedangkan Erga bilang mau ngapelin Rifda. Akhir-akhir ini, Rifda sama Erga jadi deket banget kayak amplop sama perangko. Mereka itu cocok banget, sama-sama polos dalam hal cinta. Saking polosnya, hubungan mereka sangat tidak jelas. Temenan bukan, pacaran juga bukan. Ah sudahlah..
"Imam!" , gue memanggil Imam yang sedang malas-malasan tidur di sofa ruang keluarga gue.
"Apansi?" , jawab nya males-malesan.
"Minum dulu obat nya mammm", kata gue lagi geregetan.
"Males ah. Bosen minum obat mulu! Pait." Katanya ketus. Dia ini emang susah di minumin obat. Katanya obat itu pahit banget. Padahal kan buat kebaikan dia juga.
"Imam gak boleh gituu", kata gue lagi dengan nada merajuk.
"Yaudah taro aja di meja, ntar aku minum. Kalem aja sih." , katanya lagi bener-bener buat gue naik darah.
"Imam! Kamu itu harus jaga kesehatan! Ntar kalo kamu drop lagi kayak minggu lalu gimana? Kamu harus minum obat dengan rutin! Ntar masuk rumah sakit gimana?!." ,kata gue bener-bener kesel.
"Maaf ya.. yang 2 minggu lalu tipes dirawat dirumah sakit ampe 5 hari siapa?", kata Imam dengan nada mengejek. Kali ini dia menghadap ke gue yang lagi duduk di sofa sebelah dia.
Ya.. 2 minggu yang lalu gue kena tipes. Kata dokter Rafifah, gue kecapekan, sedikit makan dan lupa minum obat. Padahal gue juga punya maag. Kondisi ginjal gue juga labil. Harus kontrol dan minum obat secara teratur. Gue terlalu merhatiin Imam sampe- sampe gue gak merhatiin diri gue sendiri. Saat itu, Imam malah nyalahin diri dia sendiri.
Dia bilang, "Makanya jangan mikirin aku terus dong! Pikirin diri kamu juga! Pasti gara-gara aku kamu jadi kayak gini." Gue tau waktu itu dia sangat marah. Marah sama diri dia sendiri.
"Yaudah sih.. emang salah selalu mikirin pacar sendiri? Wlee" , kata gue dengan nada menggoda dan meletin lidah ke Imam. Yang gue liat, Imam cuma senyum dan bilang.
"Gue akan sangat sangat merasa bersalah dan frustasi kalo kamu kenapa-kenapa Kar. Kalo kondisi kamu lebih parah lagi daripada tipes yang kemaren, aku gak akan pernah maafin diri aku sendiri." ,kata Imam sendu.
"Imam jangan gitu", kata gue sambil cemberut. Imam lagi-lagi tersenyum sambil ngacak-ngacak rambut gue.
"Gue sayang sama lo Kar" , katanya tulus.
-----------------------------
"Yaelaaaa!!! Curang lo ndri!! Kamvret!" , teriakan Erga bergema di seluruh rumah. Sekarang, Erga, Andri, dan Imam lagi asik main PS di ruang keluarga sambil duduk di bawah.
Ade-adenya Andri, yaitu Nanda dan Alya juga ada di sini. Ada Rifda dan Indri juga. Sekarang gue lagi buat minuman sama Afel untuk mereka semua.
"Nihh. Diminum dulu minumannya." , kata Afel saat gue dan dia membawa nampan berisi air minum.
"Makaassiiiiiiihhhh", jawab mereka serempak.
"Jadi... Erga sama Rifda udah pacaran kan?" , tanya Afel sambil makan cemilan.
"Hah?", reaksi Erga dan Rifda langsung cengo.
"Yeay! Gue menang! Payah lo ga" , kata Imam dan disusul kekehan oleh Andri. Tapi Erga udah gak peduli lagi. Dia langsung menghadapkan diri nya ke arah Afel dan yang lain. Sedangkan Permainan mereka pun di pause.
"Lo tau darimana?", tanya Erga polos. Dan yang gue liat, Rifda langsung melototin Erga. Kaka gue ini, cakep sih,ganteng,pinter dalam hal akademik dan olahraga, banyak fans nya, baik pula. Tapi sayang, Tablo dan terlalu polos.
Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Erga, gue denger semua nya ketawa. Kecuali gue sama Imam. Gue jadi bingung...
"Kita ngeliat lo bray.. lagi nembak Rifda di pinggir sungai ciliwung 2 hari yang lalu." Kata Andri masih dengan ketawaannya.
"Hah? Serius? Kok gue gak tau sih" , kata gue sambil cemberut.
"Yah.. kaka pacaran mulu sih sama bang Imam", itu kata Nanda. Gue cuma melengos dan loncat kehadapan Erga.
"Kalo gitu kita...", ucap gue ngegantung.
"PARTY!!!!!!! WOHOOOO" , detik itu juga semua orang bersorak -sorai.
"Ok okk!! Siapkan makanan dan musiknya!!!!" , kata Erga yang berdiri dan mengangkat kepalan tangannya, semangat.
Dan jadilah kita... Pesta sampai malam
------------------------
Maaf jika tidak jelas. Maklum abis UKK :"v

KAMU SEDANG MEMBACA
SCAF (story) : KARMAM
HumorNama nya asli, pemerannya asli. tapi jalan ceritanya fiksi, boongan, dan cuma imajinasi author. Just for fun! Ini gak sepenuhnya real ya guys... COMPLETE STORY