Semenjak saat itu. Di restautant itu. Ayah sebenernya setuju-setuju aja, tapi mungkin sedikit gak rela. Gue yakin ayah cuma khawatir sama keadaan gue. Gue yakin ayah gak bener-bener benci sama Imam.
Tapi, mungkin Imam yang tersinggung sama kata-kata ayah. Imam jadi ngejauhin gue sejak kejadian itu. Gue udah bilang berkali-kali sama dia. Dia gak salah, dan dia gak perlu ngejauh dari gue. Tapi Imam terlalu keras kepala untuk itu. Dia ngejauhin gue sejauh-jauhnya.
"Sampe sini aja hubungan kita Kar."
"Kenapa? Karena ayah?"
"Bukan karena ayah kamu. Tapi karena aku sendiri. Aku payah. Aku lemah. Gak bisa jagain kamu."
"Jangan dengerin kata-kata ayah mam"
"Sekali lagi aku bilang sama kamu, ini bukan karena ayah kamu! Ini semua karena aku. Aku adalah cowo yang gak bisa apa-apa. Aku juga udah gerah sama kamu Kar"
"Kenapa?"
"Kamu membosankan. Kamu terlalu over proteck sama aku. Aku risih! Lagipula aku udah gak punya perasaan apapun lagi sama kamu."
"Apa? Kamu pasti bohong"
"Aku gak bohong. Kita putus"
"Tapi...Imam!!!"
Bayangan percakapan itu datang lagi. Lagi dan lagi. Bagaijan mimpi buruk. Percakapan saat Imam putusin gue. Mungkin dengan cara yang sedikit tidak hormat. Imam jahat. Saat itu dia putusin gue di depan orang banyak. Di tempat umum. Di depan kelas. Gue malu. Gue kesel. Gue benci. Tapi tetep aja, gue belom bisa move on dari Imam. Walaupun gue berusaha keras. Gue gak bisa. Rasa gue udah terlalu dalam untuk dia.
Kejadian itu udah 1 bulan yang lalu. Waktu berlalu terlalu lama bagi gue tanpa Imam. Ayah udah menikah sama Tante Nova. Sekarang dia tinggal bersama gue dan saudara-saudara gue. Dia baik. Gak kayak ibu tiri di film-film. Dia jago masak. Gue belajar masak sama dia. Masakannya enak, gak salah kalo Erga jadi makan 10 kali sehari. Dia juga jago nge desain baju. Pinter dandan pula. Afel clop banget sama dia. Tante Nova juga penyayang. Dia merhatiin gue dan sodara gue dengan sangat telaten. Gue mendapat kasih sayang seorang ibu dari dia. Gue bahkan sering minta dikelonin sama tante Nova. Gue udah manggil tante Nova dengan sebutan, Mama.
Btw, kalo soal Imam. Imam sekarang udah punya pacar. Indri. Gue gak nyangka Indri bisa nusuk gue dari belakang. Gue udah anggap dia sebagai sahabat baik gue. Tapi setelah gue putus dari Imam, dia malah langsung jadian sama Imam. Mantan pacar sahabatnya sendiri. Oh bukan. Dia musuh gue sekarang. Bukan lagi sahabat.
Dengan segala emosi gue, gue lari menuju rumah Indri yang satu komplek dengan rumah gue.
Saat Rifda bilang Indri jadian sama Imam. Gue sakit hati. Pantesan aja dia belakangan ini kayak ngejauh dari gue. Gue langsung memutuskan untuk nemuin dia.
Dengan nafas yang memburu. Dengan detak jantung yang menderu. Dengan emosi yang memuncak, gue memencet bel rumah Indri. Berkali-kali. Sampe seorang wanita cantik dengan pakaian rumahnya. Juga celemek ditubuhnya,keluar dari rumah. Gue mengenalnya. Dia Tante Kinanti. Mamanya Indri. Gue selalu menghormati dia udah kayak menghormati ibu gue sendiri.
"Eh Karina.. ada apa kesini? Mau nemuin Indri ya?" , tanya nya ramah.
"Iya tante", jawab gue senormal mungkin.
"Ohh yaudah masuk dulu yuk", beliau menuntun gue masuk kerumah nya. Di ruang tengah, gue melihat dokter Ghani sedang membaca koran. Gue heran kenapa ada dokter Ghani dirumah Indri. Otomatis gue bertanya ke Tante Kinanti.

KAMU SEDANG MEMBACA
SCAF (story) : KARMAM
HumorNama nya asli, pemerannya asli. tapi jalan ceritanya fiksi, boongan, dan cuma imajinasi author. Just for fun! Ini gak sepenuhnya real ya guys... COMPLETE STORY