Mendadak kami menjadi objek menarik. Sesekali mata-mata bahkan suara mereka ikut campur namun aku diam dan berusaha fokus menatap Eva dengan segelintir kemarahan. Berniat memperbaiki kerusuhan yang membuat posisiku menjadi serba salah.
"Andai Eva pacarku, mungkin nggak akan kepikiran buat selingkuh."
"Menurutku Deka nggak sepenuhnya salah, pasti ada penyebab lainnya."
"Kenapa ya cewek selingkuhan itu nggak jauh lebih cantik dari yang diselingkuhin?"
Argumen mereka egois, dan aku muak dinilai oleh keegoisan orang lain. Jika sudah muak berarti mereka harus mendapat pelajaran.
Nyali serta tubuhku bergegas menghampiri mereka dengan amarah yang nyaris tumpah.
"Nggak kepikiran selingkuh, tapi menginginkan pacar orang lain, dasar rendahan!" Tak hanya membalas argumen, pipinya terpaksa mendapat salam dari bogemanku. Si cowok rendahan itu bangun, berniat melayangkan balasan yang hampir melecetiku, namun tertangkis oleh kegesitanku dalam menghindar.
Selebihnya perempuan. Kali ini tanpa pukulan, namun mereka harus dihajar dengan kata-kata.
"Buat perempuan yang berasumsi jelek, semoga hari kalian selalu buruk."
Selepas angkat kaki dari posisi. Seisi kelas nyaris hening. Rasanya langkah kakiku menjadi objek utama yang terdengar jelas, gagah dan berani. Dari beberapa yang terlihat, mereka akhirnya memilih abai.
Kepergok, Aya bahkan menyaksikan dan ikut menunduk setelah bertemu pandang denganku. Rendi takjub kemudian tersenyum menunjukkan jempol.
Sementara di sana, sebuah punggung masih tegak dengan dingin, Eva duduk seperti ratu yang sedang murka. Sejak kejadian tersebut, senyum yang biasanya terpapar, kini musnah.
Aku duduk di sebelahnya. Kemudian berkata.
"Aku belum tentu menjadi suamimu. Pendam amarahmu untuk hal yang lebih pasti di masa depan."
☆☆☆☆
Menjelang istirahat, Eva tak henti-hentinya mengungkit perkataanku sebelumnya, meski terhalang suara guru yang sedang menjelaskan, Eva tetap beraksi dengan bisikan nada penuh denial.
"Masa depan aku itu kamu Deka, nggak akan berubah. Keinginan aku lebih besar dari takdir."
Aku menghela nafas risih. "Terserah, aku mengikuti alur saja." Bibir Eva lagi-lagi berniat menyanggah, namun aku langsung membungkamnya. "Tolong sudahi pembahasan ini."
"Baik," balas Eva.
Bel istirahat berbunyi. Aku dan Eva masih terpaku, sedangkan yang lain termasuk Aya bergegas keluar kelas.
Rendi menepuk bahuku, mengajak keluar. Tanpa banyak bicara, kami bergegas bersama.
Suasana kantin terlihat sibuk dan heboh. Aktivitas murid-murid di sana tampak masif, mulai dari mengantri, memesan, bahkan memilih tempat duduk. Suara kresek atau dentingan piring menjadi ciri khas di sana, ditambah obrolan random yang terdengar dari banyaknya pengunjung.
Genta menawari kami bergabung. Kami setuju dan langsung bergerak setelah memesan.
"Kenapa nggak pesan makanan?" tanya Genta, melihatku hanya membeli minuman botol.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAMAGED
Teen FictionIni tentang bagaimana hubungan rusak tetap berjalan dan hidup. Hubungan erat lekang oleh kesalahpahaman serta ego yang tinggi.
