Aliran darah itu sukses mengunci tatapan kami pada Aya. Sedetik tatapan cemas tertuju padanya, kedua sahabat bahkan Genta serta merta bergerak, berniat membantu atau bersuara penuh khawatir. Aku yang terlanjur dekat, langsung menyodorkan lap tangan.
"Nggak papa." Aya menolak dengan senyuman tipis, rasanya itu bukan seperti senyuman berterima kasih. Melainkan senyum maklum yang aku pun tak mengerti apa maksudnya.
Botol yang tergeletak dia kembalikan ke atas meja.
"Karena sikap kamu, aku jadi tahu kalau masalah akan tetap datang walau kita tidak menginginkannya. Semoga ini selesai, aku minta maaf."
Aya beranjak pergi bersama kedua sahabatnya. Semenjak jarak membatasi hubungan kami, aku sadar bahwa Aya sudah mulai banyak berubah. Cara berfikirnya meningkat, penampilannya tak lagi memikirkan kenyamanan, tapi keamanan.
Dress kembang warna biru berenda yang menjadi konsep pakaian masa kecilnya, kini berubah menjadi style dewasa. Aya sekarang lebih sering memakai pakaian sopan atau tertutup, rambut sepundaknya selalu dia ikat kendur ke bawah. Meski penampilannya berubah, aku akan tetap mengingat masa kecilnya yang feminim dan ceria. Bagiku, itulah Aya sebenarnya.
Otakku hitam oleh sekitar. Angin dari celah ruang kantin berganti menjadi angin petang di halaman rumah kala itu.
"Kakak nggak boleh nangis lama-lama, nanti air matanya habis." Senyum di bibir kecilnya, menunjukkan keteduhan, sudut matanya terangkat, seakan ada penerimaan di sana. Tempat yang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya.
Bau keringat tersebar bersama angin sore itu, kami duduk di atas pasir, mengukir apa saja yang terlintas di otak.
"Air mata nggak bisa habis."
"Hah? Dimana kakak tahu?" wajah polos itu, tampak mengangumkan. Kerutan di sekitar alis, menjabarkan betapa sempurnanya dia berkehidupan. Aku merasa aku hanya anak-anak yang tidak tahu jalan hidup orang dewasa, namun sedikit demi sedikit, aku tahu walau tidak mengerti sepenuhnya.
Aku melihat kehidupan Aya jauh lebih baik dariku. Aku iri bagaimana pikirannya dipenuhi oleh hal-hal sepele yang menyenangkan. Sikapnya benar-benar menggambarkan anak kecil. Aku pikir, mungkin karena aku lebih tua, jadi otomatis wawasanku lebih luas.
"Air mata akan selalu turun ketika kita bersedih. Yang habis bukan air mata, tapi tenaga menjalani kesedihan." Aya mendengarkan dengan serius, tangannya beralih memeluk lutut, aku menghentikan aktivitas, lalu mengikuti gayanya. Kami memandang langit.
"Kalau begitu kakak jangan sedih. Sedih itu jahat. Makanya aku selalu ketawa, karena itu baik." Dia menjawab sambil tersenyum lebar menatap wajahku yang penuh dengan beban. Jari-jari kasarnya manarik kedua sudut bibirku, kerikil-kerikil kecil seketika menempel di sana, aku tersenyum sebelum akhirnya tertawa kencang sebab dia mengelitiku.
Ketukan sepatu berjalan penuh ancaman, aku kembali melihat kenyataan. Genta berjalan sama seperti papa ketika hendak marah atau memukulku.
Botolku kini Genta remas, seolah amarahnya sengaja ia tumpahkan pada barang tersebut. Tatapannya berbeda ketika ia menikmati makanan, yaitu kelihatan lebih tenang, damai, seolah tak pernah marah. Kali ini matanya tajam seperti belati selepas diasah, aku tidak menyangka, Genta bakal seemosi itu.
"Bermasalah dengannya, itu berarti bermasalah denganku." Suara lemah lembut itu berubah berat, penuh tekanan.
Ternyata Genta bisa nekat juga. Aku sampai terperangah mendengar pernyataannya. Aku mengerti mengapa dia begitu peduli, bahkan berkorban demi Aya. Mungkin ini lebih bisa dikatakan sebagai cinta, bukan rasa sayang sebagai sahabat.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAMAGED
RomansaIni tentang bagaimana hubungan rusak tetap berjalan dan hidup. Hubungan erat lekang oleh kesalahpahaman serta ego yang tinggi.
