8. Ganjen

12.2K 442 23
                                        


Malam ini aku memutuskan mengisi kekosongan dengan jajan di warung mang Hedi, warung yang sudah kuanggap sebagai rumah kedua. Karena kenyamanan di sini lebih bisa menghargai keberadaanku. Letaknya di luar kawasan Jati Sermai, dekat dengan jalan raya.

Aku duduk menghadap jalan, menyeduh teh es ditemani pemandangan kerlap kerlip malam di tengah kota. Sungguh nikmat dan menenangkan, hilir mudik kendaraan terdengar seperti gemercik hujan, damai.

Terhitung hanya aku satu-satunya pengunjung. Biasanya akan ramai saat waktu isya. Aku memperhatikan kegiatan mang hedi di sebelahku, abang-abang tiga puluhan yang terlihat gagah dengan kaos hitam dan celana jeans ketatnya. "Bang, saya boleh nanya?" ucapku, mang Hedi yang lagi ngulek kacang pun menoleh. "Iya?" Lanjutnya melanjutkan kegiatan, ngulek sambal ketoprak.

"Apa keuntungan hidup sendiri? Dan jauh dari keluarga?" Sejujurnya di masa depan, aku ingin merasakan hidup sendiri.

Setahuku, mang Hedi itu anak rantau dan dia sukses di Jakarta. Dan lumayan lama menetap di sini. Waktu kecil, aku dan Aya sering berkunjung menggunakan sepeda, beliau juga dulu masih remaja sama sepertiku.

Mang Hedi menuangkan beberapa lalapan ke wajan berbentuk batu. "Secara ekonomi, sangat membantu. Merantau itu dulu hal yang sulit bagi saya, karena nggak mau jauh dari keluarga, tapi setelah menikmati hasilnya, saya akhirnya terbiasa dan merasa bahagia walau sendiri, karena keluarga di kampung tercukupi oleh kerja keras saya di sini."

Aku melalap ketoprak yang tersisa setengah.  "Abang beruntung bisa bahagia meski jauh dari keluarga," komentaku terkesan, tersenyum tipis.

"Alhamdulilah. Bahagia itu maknanya luas, tergantung kita menyikapinya."

Balasan mang Hedi membuatku teringat sesuatu. Sesuatu yang dulu pernah menjadi kebahagian satu-satunya. Namun, kini dia ikut lenyap bersama keluargaku.

"Neng Aya kenapa jarang ke sini ya?" tanya mang Hedi duduk, selepas dari kegiatan mengulek.

"Kurang tahu Bang, kita sudah jarang komunikasi." Aku tak mau mengatakan kalau kami asing atau sudah tidak dekat, karena bagiku itu tidak benar.

Mang Hedi menukik alis heran. "Bukannya dulu kalian akrab? maksud saya dulu dekat banget. Kok sekarang jarang komunikasi?"

Suasana tak nyaman tiba-tiba muncul. Aku rasa mang Hedi tidak berhak mengetahui alasan dibalik hubunganku dengan Aya. Karena sebenarnya aku pun tidak tahu pasti alasan mengapa Aya menjauh.

Dia menjadi asing semenjak ibunya datang di hari itu, tiga tahun yang lalu. Hari pertama dan terakhir aku melihat tante Anggi menjenguk Aya di rumahnya.

Selang beberapa hari Aya mulai bertingkah aneh. Dia menjauh dan menatapku seperti orang ketakutan.

"Dia sibuk," jawabku singkat.

Mang Hedi mengangguk.

Pengunjung lain mulai berdatangan, mang Hedi sigap melayani. Aku menepikan mangkuk lalu meneguk sedikit tes es, kemudian beranjak membayar.

Setelahnya, aku bergegas menuju motor. Menyempatkan diri menelpon Rendi, katanya dia mau meminjam uang.

"Mau pinjam berapa?" tanyaku tanpa basa-basi. Yang terdengar pertama kali hanya suara nafas Rendi, belum lama kemudian disahut oleh suara gaduh dari dua orang.

DAMAGEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang