Teras lorong dibanjiri murid-murid yang keluar dari kelas masing-masing. Suasana semangat, gerah dan lelah melapisi setiap langkah di sana.
Satu-persatu murid mulai menyalipku. Tanpa beban mereka melangkah ringan dengan tas ranselnya. Ada yang berjalan seorang diri namun gesit, ada yang mengandeng tangan pasangannya tanpa tertekan atau paksaan.
Sementara aku mempunyai kaki jenjang, langkahku besar dan tidak suka basa basi soal waktu, tapi kali ini Eva merubahku menjadi orang konyol. Sebab dia terus berceloteh sambil bergelanyut di bahuku, sehingga mau tak mau aku harus mengikuti gerakan kakinya yang bertele-tele.
Karena muak, Rendi dan Genta bahkan meninggalkanku kemudian lenyap bersama bahu-bahu murid lainnya.
Tiba di parkiran, Eva akhirnya menutup mulut. Aku bernafas lega, bersyukur telingaku terbebas dari cerita manis omong kosongnya. Di tepi motor, Eva berdiri berlagak menunggu seolah akan dibonceng olehku. Dia tersenyum cerah, seperti terik matahari siang ini.
Kulihat alis Eva mendadak terangkat bingung, spontan aku mengikuti arah matanya dan—dua pukulan keras menerjang pipiku.
BUGH!!
BUGH!!
Aku nyaris tersungkur dari motor, Eva lantas menjerit histeris kemudian bergerak membelaku.
"Heh!! Apa maksud kamu tiba-tiba mukul tunangan aku?!!" Eva berdiri di depan badan gagah Gavier, dagunya meninggi dengan tubuh tegak menantang. Eva ingin semua orang tahu kalau aku adalah tunangannya. Menjengkelkan.
Suasana yang harusnya sepi, seketika ramai kembali. Tindakan Gavier mengundang mata-mata penasaran yang tengah berproses untuk pulang.
Terpaksa, aku turun menghampirinya. Gavier terkekeh tajam. "Tunangan?"
"Asal kamu tahu, dia hanya sosok pria murahan yang hobi merebut pacar orang!"
"Mending putus sekarang! sebelum kejauhan!"
Eva menatapku ragu. Sedang aku hanya berwajah santai, tak berniat membela diri dari perkataan Gavier. Aku memang pernah merebut pacarnya, berkencan sekali lalu putus. Namun, itu tidak sepenuhnya salahku, pacar Gavier sendiri yang memohon padaku untuk dibebaskan dari iblis sepertinya.
Bagiku hinaannya tidak seberapa dengan lecetnya pipiku yang terjadi secara tiba-tiba. Itu sama halnya dengan jatuh di keramaian.
"Hinaan kata bisa kuterima, tapi jika menyangkut soal fisik." Gavier tersenyum mengejek sebelum akhirnya menjadi senyum menyedihkan.
BUGH!!
Gavier nyaris tumbang.
jika pukulannya mengenai pipi, maka pukulanku pas di mata.
"Beda cerita!" lanjutku menegaskan, berusaha menahan amarah yang ingin meledak. Tangan Eva datang kemudian berniat menenangkan tarikan nafasku yang kian cepat.
Gesit badannya bangun, bersiap membalikkan tonjokan di area dadaku. Malangnya tangan Gavier berakhir dipulas oleh tanganku, nyali sok jagonya kini meringis. Sudah lima detik, otot Gavier berkelok tajam akibat amarahku.
Karena malu terus meringis dan menjadi tontonan menyedihkan. Kaki Gavier memulai perlawanan dengan menendang-nendang udara di belahan kakiku. Aku terkekeh, Gavier terlihat seperti tikus dijinjing seekor kucing. Bagiku ini sudah cukup, Gavier sudah menerima akibat dari perbuatannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAMAGED
Teen FictionIni tentang bagaimana hubungan rusak tetap berjalan dan hidup. Hubungan erat lekang oleh kesalahpahaman serta ego yang tinggi.
