“Berhenti! Tidak! Ayah. ibu.”
“Berhenti!”
Taehyung memijit pelipisnya, pertemuan penting yang saat ini berlangsung tak membuatnya begitu fokus. Igauan serta rintihan lirih So Eun malam itu selalu menghantuinya. Melihat bagaimana peluh yang menghiasi hampir seluruh wajah gadis itu membuat Taehyung selalu dihantui rasa penasaran, kenapa dengan wanita itu sebenarnya. Apa yang sebenarnya memenuhi mimpinya hingga membuatnya merintih begitu pilu dengan menyebut kedua orang tuanya.
Taehyung sendiri merasa heran kenapa dirinya begitu terusik akan hal itu. Dia membenci wanita itu awalnya. Namun kenapa menjadi seperti ini. Sikapnya pun kini melunak, terlihat bagaimana dirinya begitu menahan diri untuk tidak meledak meskipun wanita itu sempat memancingnya.
Sial!
Jimin melirik Taehyung. Dia menyadari jika Taehyung tidak fokus sehingga dia harus berperan penting untuk pertemuan kali ini, sehingga diapun mengambil alih sebagai juru bicara pengganti Taehyung, bagaimanapun dia sekretarisnya. Kesepakatan kerjasama kali ini juga akan menguntungkan perusahaan mereka sampai akhirnya semua berjalan lancar, tak ada halangan yang berarti. para kolega yang hadir pun tak mempermasalahkan bagaimana sikap Taehyung karena bagaimanapun mereka yang membutuhkan kerjasama dengan Artaves.
Setelah pertemuan yang memakan waktu 2 jam tersebut akhirnya selesai juga. kesepakatan kerja sama yang mereka jalin juga berjalan lancar, Taehyung langsung beringsut setelah semua orang meninggalkan ruangan.
Jimin yang menyadari buru-buru merapikan berkas-berkas lalu mengikuti langkah Taehyung.
“Apa jadwalku setelah ini,” Tanya nya. Jimin yang baru menekan tombol lift langsung membuka macbook yang dia bawa.
“Tidak ada, setelah ini kau free.” Taehyung mengangguk.
"Mau kemana?!" Jimin mencegah,
"Aku harus mengurus sesuatu, kembalilah ke kantor atau jika kau ingin pulang lebih awal pulanglah."
Jimin sempat mengernyit. Tak biasanya Taehyung bersikap seperti ini, pria itu bahkan lebih senang jika menyiksanya dengan pekerjaan menumpuk, menjadikan dia harus lembur setiap harinya. Dan kini—
“Oh.”
Hingga akhirnya jawaban itulah yang keluar dari mulutnya, karena Taehyung sudah pergi lebih dulu. Mereka berpisah dengan Taehyung yang berjalan ke arah lift lain.
Kenapa dengannya?! Pikir Jimin merasa aneh.
•
•
•
Kim Group.
“Sudah aku bilang aku ingin bertemu dengannya, apa kau tidak dengar. Kau tahu siapa aku bukan?! Aku ada perlu dengannya.”
“Tapi maaf direktur sedang sibuk Tuan Kim.”
Keributan yang terdengar dari luar ruangannya membuat So Eun yang tadi sibuk dengan dokumen sontak mendongak, dia mengernyit mengenali suara itu lantas wajahnya berubah mengeras.
“Minggir!”
Hingga terdengar teriakan itu bersamaan dengan pintu putih ruangannya terbuka lebar dengan dobrakan keras mengenai tembok. menampilkan sosok paruh baya yang terlihat menahan kesal.
“Kenapa kau selalu mencegahku jika aku ingin menemuimu, apa maumu Kim So Eun. Aku pamanmu dan aku wakil direktur disini, berani sekali kau membeli Helios tanpa merundingkan dulu padaku.” Ujar Pria paruh baya itu yang tak lain paman So Eun, pria itu tanpa basa-basi langsung mengutarakan apa maksud dia datang ke ruangan keponakannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Pride
Ficción GeneralPersaingan bisnis berujung percikan cinta pada keduanya. Awal pertemuan yang memicu pertengkaran serta kebencian justru membuka lembaran yang membuat keduanya tak ingin melepaskan genggaman hangat tangan yang di berikan. Membuka topeng yang selama...
