ten.

118 64 89
                                        

Jika selalu dituntut untuk belajar, maka yang menuntut bisakah menjadi support system?

Manusia manakah yang tidak ingin dirinya cerdas.
Ia ingin belajar dengan waktu yang normal namun ayahnya selalu menyuruhnya pergi belajar sejak ia masih menginjak sekolah dasar, menjadikannya kebiasaan yang harus ia lakukan tiap malam sampai dini hari.

Tapi karena ia adalah harapan keluarganya dan ayahnya selalu menekan keras dirinya agar bisa menjadi paling tinggi, ia pun harus membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan nilai lebih dari angka 9.

Dia selalu berpikir jika ia akan mengubah waktu belajarnya menjadi 3 atau 4 jam. Namun ia masih tak sanggup, karena jika belajar hanya 4 jam saja, ia selalu beranggapan jika dirinya tak cukup usaha dan akhir nilai pun masih tetap dibawah angka 9.

Maka dari itu, ia pun bekerja keras untuk menggapai angka yang diidamkannya dan akan memperlihatkan pada ayahnya. Dengan begitu, ayahnya akan senang dan percaya jika ia bisa menjadi kakaknya yang sekarang berada di luar negeri.

Semua orang tampak mempersiapkan diri untuk ujian yang akan dimulai beberapa menit lagi. Sebagian orang berada di kantin, ada juga yang masih menghafal rumus dikelasnya dan ada juga yang tak peduli.

Kalian pasti sudah tahu, Arka termasuk golongan yang mana?

Lelaki itu masih berkutat dengan buku bukunya dan sesekali berdoa agar nilainya sekarang memuaskan.

"Ka! Sebelum ujian, Mabar dulu gas?" ajak Mirza yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya bermain game.

Karena dirasa cukup untuk menghafal rumus, Arka pun mengeluarkan ponselnya dan bersiap Mabar saat itu juga sebelum guru pengawas memasuki ruangan.

Tanpa diduga, setelah ia menghidupkan ponselnya ia menerima pesan dari nomor yang tak ia kenal.

+62**********7
lo msh pny hutang budi sma gw.

Siapa? Mengingat, dia tak menerima kebaikan orang lain minggu-minggu ini.

"Udah belom? Gue udh milih playernya nih." ujar Mirza menghancurkan lamunan Arka yang saat itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Meski begitu, Mirza selalu tahu raut wajah temannya itu yang sedikit berbeda setelah melihat layar ponselnya.

Guru pengawas pun datang dan mereka tak jadi mabar lalu akan dilanjutkan nanti saat bel istirahat.

Disaat pelajaran dimulai pun, pikirannya masih memikirkan pesan dari orang itu. Bagaimana orang itu mengetahui nomornya? Apa mereka saling kenal?

Namun, semua pertanyaan yang ada di kepalanya sekarang ia tepis dan berusaha fokus untuk ujian dihari pertamanya.

***

"Banyak orang yang suka sama racikan kopi buatan lo Grace! Gak nyangka, makin sini makin rame customer."

"Iya toh, bau bau dinaikin gaji ini mah." sambil melirik Grace yang kini sedang membersihkan tempat pembuatan kopinya.

"Hufft,, syukur deh kalo orang-orang suka sama kopi buatanku dan Lily." balas Grace dengan penuh senyum.

"Ralat, just kopi buatanmu. Jangan bawa-bawa nama gue! Gue tau kok, semua orang sukanya sama racikan lu daripada racikan gue." sewot teman sesama baristanya.

"Tapi fakta yakan"

"Bau bau iri nieh."

"Eh, udah udah jangan gitu sama Lily! Dia juga barista disini dan harus menghargai satu sama lain." ucap Grace membela Lily.

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang