eight.

133 81 83
                                        

Sampai akhirnya mereka pergi kesekolah dengan penampilan yang acak-acakan namun masih bisa dibenarkan saat mereka tengah di bus menuju ke sekolahnya.

Raut wajah Mirza masih menyimpan dendam pada mereka yang bermulai duluan saat pagi tadi. Berbeda dengan Arka yang melupakan kejadian tadi pagi.

Suasana siang berlalu begitu saja dan malam mulai memunculkan warna gelapnya. Lelaki dengan sweater putih itu menunggu bus di halte.

Ia sangat bosan jikalau hanya membeli makanan atau kopi di supermarket dengan motornya. Arka memilih untuk menaiki bus untuk mengirit bensinnya. Mengingat tadi siang baru saja membeli bensin.

Hampir saja ia terlelap, karena menunggu bus yang entah kapan datangnya. Dengan sebuah kresek putih yang sedari tadi ia pegang.

Gelap gulita memang temannya setelah Mirza. Tak menghiraukan jika ada hal yang tiba-tiba menampakkan secara creepy, dia memang menyukai gelap.

"Polisi akan datang."

Mendengar itu, sontak lelaki dengan wajah yang menahan kantuknya menoleh kearah kanan dan terdapat seorang wanita cantik dengan penampilan serba hitam tak lupa dengan masker hitam yang menutupi setengah wajahnya.

Apakah wanita itu berbicara padanya? Ia masih menatap bingung.

"Jika kau tak mau dipenjara. Balapan lah denganku."

"M-maksud mu? Kau siapa?" kini ia memberanikan untuk menjawab. Karena sedikit takut, ia melihat sekeliling jika ada orang yang akan menculiknya dari belakang dan bersekongkol dengan wanita itu.

Wanita bersurai hitam itu pun membuka maskernya menampilkan seluruh sudut wajahnya yang kini membuat Arka terkejut kedua kalinya. Karena ia pernah melihat perempuan yang kini disampingnya.

"Ya, kau tahu aku. Aku orang yang bicara padamu waktu menonton balapan Minggu lalu."

"Sebenarnya kamu siapa? Mau apa?"

"Ayahku polisi dan ia sedang menyelidiki salah satu orang yang tertangkap kamera dan itu kau. Bisa saja aku membujuk ayahku untuk melupakan Poto itu asalkan kau balapan denganku."

"Ck, apa aku bisa percaya gitu aja?" smirk Arka tak percaya padanya.

"Terserah. Besok akan ada beberapa polisi datang kerumahmu sore hari." wanita itu memakai kembali masker hitamnya dan berdiri meninggalkan Arka sendirian.

Beberapa langkah sudah ia langkahkan namun terhenti dan berbalik pada lelaki itu yang masih melihatnya dari belakang.

"Jika kau diintrogasi, bicara sejujurnya dan itu akan mengurangi hukumanmu. Jika ingin mengelak, belajarlah padaku." beberapa kalimat ia lontarkan dan bus pun berhenti tepat didepan halte. Mereka kini saling berpisah.

Di dalam bus, pikirannya masih terpenuhi oleh perkataan wanita tadi. Tunggu, dia bernama siapa?

Yang pastinya, ia tak percaya pada orang yang tiba-tiba berbicara seperti itu. Tapi jika memang terjadi? Apakah ia akan membusuk dipenjara dan keluarganya yang lebih kecewa padanya.

Lupakan saja, yang sekarang ia fokuskan hanyalah ujian sekolah yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Ia sudah berjanji pada kedua orangtuanya terutama pada ayahnya, berjanji jika dia akan menjadi terbaik lebih dari yang terbaik.

Namun, belajarnya kini terganggu karena pikirannya dipenuhi kalimat yang dilontarkan wanita misterius tadi.

-

Semalam, Mirza bercerita lewat telpon pada Arka. Dia bercerita jika ia hanya merindukan ayahnya dan meminta untuk bertemu kapanpun ia bisa. Namun, jawaban dari sang ayah membuat sang anak sedih.

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang