seven.

144 84 71
                                        

Baru saja ia menginjak satu keramik kelasnya, Mirza menyambut kehadiran Arka dengan penuh ocehan layaknya seorang ibu memarahi anaknya.

"Heh, ada apa tuh?"

"Biarin aja, biasalah masalah rumah tangga."

"Heh kalo ngomong! Emangnya mereka pelangi?"

"Wah bisa juga."

Mereka malah bergosip yang tidak-tidak kepada dua makhluk yang sedang diambang pintu ini.  Karena mendengar gosipan mereka, Mirza menoleh dengan tatapan elang dan membuat mereka megalihkan pandangan.

Saking dekatnya, tak sedikit juga orang yang selalu ngeship mereka dan tentu saja mereka selalu memberikan tatapan tajam ataupun menghajar mereka yang selalu ngeship Arka dan Mirza dengan berlebihan.

Mereka tahu jika teman-temannya hanya bercanda tapi bagi mereka candaan seperti itu tak pantas dibercandakan.

Mirza menyeretnya ke tempat duduk mereka.
"M-maaf Za, semalem gue ketiduran abis belajar." jawab Arka sedikit gugup dan takut.

"Mencurigakan.Gak telat kan kemaren?" kini nada Mirza seakan mengintrogasinya.

Guru pun masuk dan Arka tak sempat menjawab dan langsung menyiapkan peralatan yang akan digunakan.

"Temui gue di rooftaf." bisik Mirza dengan penuh tekanan. Sesekali Arka berpikir mengapa ia selalu khawatir dengannya? Padahal ini hanyalah hidupnya dan masalahnya.

***

"Gue gak telat kok."

"Trus, plaster dikening nutupin apaan? Nutupin borok?"

"O-oh ini kemarin gue kebentur di WC mau cuci muka biar gak ngantuk belajar." lagi dan lagi ia mengarang cerita layaknya author.

"Cuci muka? Kemaren kan kita beli kopi. Udah deh jangan so jadi pendusta pro. Ujung-ujungnya gue bakal tau lu pasti boong."

Anjir ni orang cita-citanya mau jadi detektif apa? Apa emang gue bikin alesannya terlalu bodoh?

"So tau banget lu. Emang hanya kopi aja yang ngefek? Engga lah. Makannya gue cuci muka biar fresh. Lu jadi orang ngintimidasi banget."

Finalnya mereka pun damai kembali, kini Mirza menyerah dan mempercayai kata demi kata yang temannya itu lontarkan. Namun jujur, dalam hatinya ia masih dengan keyakinannya jika kemarin Arka pasti telat pulang, dan plaster? Itu pasti perbuatan ayahnya.

Feeling teman tak jauh dari feeling emak.
Best!

***

Tak biasanya lelaki itu selalu pulang menuju kost-an Mirza. Namun sekarang ia memilih untuk langsung pulang ke rumah dan belajar. Mirza hanya ber-oh dan mengerti akan temannya itu.

Sebelum pulang, ia mampir ke cafe biasa dan entah mengapa ia berani memesan kopi tanpa bantuan Mirza, meskipun hanya berani di Cafe ini saja.

Disaat menunggu namanya dipanggil, ia duduk dikursi kosong dan tak lama kemudian, dua orang cewe dihadapannya berteriak setelah meminum tumbler kopinya yang baru saja ia pesan.

"ARKH!!"

Otomatis, semua atensi tertuju padanya karena ia yang menjadi pusat perhatian. Wanita itu pergi menemui barista dan menerobos masuk.

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang