fourteen.

73 19 86
                                        

Setelah kejadian yang menimpa mereka, akhirnya mereka bisa istirahat di kostan Mirza. Entah apa yang harus dideskripsikan lagi kondisi si empu kost. Sang teman hanya mengkhawatirkannya dan membujuknya agar bisa diobati.

Namun tetap saja, Mirza tak mau diobati dan hanya ingin merebahkan dirinya sebentar.

"Ngaca Za. Lu udah buluq gitu." ucap Arka kesal karena Mirza keras kepala.

"Lu juga ngaca pe'a. Muka lu udah jelek makin jelek. Gue masih idup kok, tenang aje. Kalo gue mati sekarang, sampein ke Olea kalo gue gamon." jawabnya dengan nada yang tak jelas.

"Udahlah jangan bahas mati. Kalo lu mati, gue mati juga kali. Gue gak bisa lawan si duo JH kecuali Lo. Apalagi sekarang mereka punya anak buah, gila."

Arka tak ingin mengganggunya, ia pun pergi ke apotik terdekat sembari menahan rasa ngilu dibadannya. Ia membeli alkohol dan kapas untuk menyembuhkan luka memarnya dan sebagian ia simpan di kostan Mirza. Sang empu tak tahu karena ia sudah terlelap ke alam sana.

Setelah semua beres, akhirnya pemuda itu pulang ke rumahnya dengan rasa berkecamuk karena ia takut jika ayahnya melihat memar diwajahnya.

"Tapi gak ada yang peduli juga."

***

Motornya pun disimpan di tempat seharusnya. Ia berjalan lemas menuju pintu utama rumahnya karena seluruh badannya seakan remuk apalagi Mirza?

Setelah pintu terbuka, menampilkan tiga orang yang tengah berbincang hangat satu sama lain. Mereka tengah membicarakan perayaan ulang tahun Kansha yang akan diselenggarakan tiga hari lagi.

"Aku pulang,"

Mereka hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan pembicaraannya. Karena penasaran yang full, Arka memutuskan duduk disamping Kansha mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.

"Kenapa kamu duduk?" tanya Ayahnya membuat Arka tak jadi duduk.

"Hehe, mau tau aja kalian ngomongin apa." jawabnya jujur.

"Kamu tidak tahu tiga hari lagi Kansha ulang tahun? Ayah akan merayakan ulang tahun Kansha disini. Ayah akan mengundang semua rekan kerja ayah dan teman-teman bunda, juga teman-teman Kansha." jelas sang ayah membuat Arka ber-oh saja.

"Ciee tiga hari lagi bang. Jangan lupa, gue bulan depan haha." ucap Arka dengan tawa kosong.

"Kamu harus bantuin penata acara untuk nyiapin acaranya ya." kini sang bunda yang berucap membuat Arka menoleh padanya.

"S-siap. Selama Arka disini, semua acara akan lancar!" seru Arka meski di dalam hatinya ia sangat sakit.

Ia pun pergi ke kamar dengan aura hitam menyelimuti. Senyumannya pudar dan langsung merebahkan dirinya di atas ranjang yang sangat nyaman. Ia melihat langit langit kamar yang berwarna gelap tak ada hiasan apapun. Ya, seperti hidupnya.

"Kapan gue dirayain? Minimal ada yang inget." ia berdecak sembari tersenyum pahit karena seumur hidupnya ia tak menerima hadiah ulangtahun ataupun sampai dirayakan seperti Kansha.

Ia hanya membantu acara berjalan sampai tuntas. Bahkan tidak ada yang ingat hari lahirnya, entah pura-pura tidak ingat.

Ia hanya menerima hadiah game karena ia juara bukan karena ulang tahun. Ia masih bisa bersyukur karena hadiah ulang tahun hanya sebagai simbol saja. Tapi jika dibandingkan dengan kakaknya, ia sangat iri.

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang