Hal yang ia benci adalah menunggu bus dibawah panasnya sinar matahari.
Karena terlalu sering menaiki bus, lelaki dengan memakai kaos putih dan celana cargo hitam pun sudah terbiasa dan kini ia menunggu dihalte bus, sangatlah bosan.
Hari ini ia tidak bersekolah karena sengaja diliburkan untuk persiapan dua hari lagi menuju ujian. Selesai bercanda ria dan sesekali bergalau dengan Mirza di-kostannya, sebelum pulang kerumah Arka tak lupa membeli minuman kesukaannya di Cicatrización Cafe.
"Sungguh aneh tapi nyata~" karena gabut, sesekali ia hanya bersenandung melihat kendaraan yang berlalu-lalang didepannya.
Dia juga ingin sekali menjadi penyanyi atau gitaris didalam sebuah band. Namun ayahnya melarang keras dan harus bekerja keras sampai sukses.
Tak disangka, Arka memenangkan perlombaan gitarnya tahun lalu dan memang diapresiasi oleh keluarganya dan ayahnya pun memberikan sebuah komputer game.
Tetap saja, ayahnya ingin melihat anaknya memenangkan perlombaan yang lebih baik daripada menggitar dan bernyanyi tak jelas.
Seiring berjalannya waktu, kini beberapa orang mulai duduk disampingnya dan ada juga yang berdiri karena tak mendapat bagian tempat duduk.
Sungguh, ini sangat panas dan pengap. Rasanya ingin berenang dilaut bebas dan meminum es dingin.
Tak memperdulikan orang-orang disekitar, ia hanya menunduk dan sesekali membuka handphonenya, itupun hanya melihat,
galeri-backhome-galeri-backhome.
Ia mengalah dengan para lansia saat bus tepat dihadapannya. Kebanyakan, para lansia yang menaiki bus adalah orang yang memiliki pekerjaan. Sampai akhirnya ia masuk, benar sekali, tak ada kursi kosong yang harus ia duduki.
Alhasil, dia hanya berdiri sambil memegang pegangan yang menggantung seperti beberapa orang disana yang tak mendapatkan kursi kosong.
Baginya, orang yang lebih tua dan memiliki pekerjaan pantas mendapatkan kursi. Tak seperti dirinya, yang masih dibawah naungan ayahnya.
Karena bosan, ia mengambil sepasang earphone yang menyatu dengan adanya kabel berwarna hitam. Menyalakan lagu kesukaannya membayangkan bahwa dirinya sedang berkencan dengan wanita yang sangat cantik. Hal itu sangat seru.
Ckittt
"AAA!"
Rem tiba-tiba mendadak berhenti membuat penumpang terkejut dan seorang wanita disamping Arka tak kuat menahan tubuhnya. Alhasil tubuhnya limbung mengarah Arka dan ia menangkap tubuh wanita disampingnya agar tidak terjatuh kedasar.
Wajah wanita itu telungkup didalam dada bidangnya Arka. Belum menyadari satu sama lain, lelaki yang tersadar jika earphonenya tidak lagi menempel, langsung menepuk pundak wanita yang kini masih membeku dibadannya.
"P-permisi."
Seketika ia terkejut dan langsung bangun menyadari jika dari tadi, wajahnya menempel didalam dada lembarnya.
"Ma-maaf." lalu wanita itu membungkukkan badannya.
"Earphone gue rusak gara-gara lu nih. Bisa gantiin gak?" Arka sedikit kesal dengannya karena mungkin wanita itu hanyalah modus. Mengapa ia tidak limbung kearah bapak bapak botak di sebelah kanannya?
Namun, ia tersadar jika kaos yang wanita itu kenakan bertulisan Cicatrización cafe.
Dengan wajah yang masih menggunakan masker, dengan teliti Arka melihat mata wanita itu. Dan benar itu adalah barista yang membuat Arka tergila-gila pada kopi buatannya.
Saking fokusnya melihat wajah sang wanita disampingnya, ia tak menyadari jika dari tadi wanita itu berbicara.
"Hallo,, kak,, hei.." wanita itu melambaikan tangannya dan membuat lamunan Arka buyar.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)
Novela JuvenilPemuda yang sangat terobsesi dengan angka. Ia selalu dibandingkan dengan kakaknya yang notabene selalu mendapat nilai tertinggi di kampusnya. Berbeda dengannya yang tak bisa menggapai angka hanya 9 saja. Dia hanya manusia biasa yang tidak bisa menja...
