fiveteen.

85 11 18
                                        

Dipikirnya sudah tidak ada lagi matahari yang bisa ia lihat kembali. Panas dan perih yang sekarang ia rasakan. Pemuda malang itu mencoba untuk bangun dengan keadaan parah seperti ini.

"Argh,, sialan."

Meski begitu, ia paksakan berdiri dan mencoba membuka gorden kamarnya. Melihat matahari yang baru saja terbit.

"Matahari oh matahari, bawalah aqqu ke atas." ucapnya ngawur dengan nada seperti orang sehabis minum alkohol.

Mau dipaksakan pun, dia tak sanggup jika harus pergi ke sekolah. Apalagi mukanya yang kini lebam disetiap sudutnya.

Ia menyambar handphonenya lalu mengklik ikon hijau lalu mulai mengetik sesuatu.

Ia berpikir sejenak...

Dengan khas putih abunya, Arka keluar dengan membawa Hoodie hitam yang dililitkan dilehernya.

Tak lupa ia membawa ranselnya.

Arka lewati seluruh anggota keluarganya yang ada di ruang tengah. Mereka melihatnya dengan tatapan bingung. Pagi buta gini, ia akan pergi ke sekolah?

Terlebih lagi dengan ayahnya yang sedang menonton berita.
Bukankah anak itu saya kasih pelajaran waktu malam? Kenapa dia akan pergi ke sekolah? -Batinnya bertanya-tanya.

Bunda yang tengah menyiapkan makan pun memanggil Arka.

"Buru-buru amat ka. Makan dulu nii,,"

Yang dipanggil malah seakan tuli. Ia lanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. Tak lama, Kansha muncul disana dengan pakaian casualnya.

"Arka! Denger gak sih." bentak sang kakak.

Arka hanya diam sembari memakai sepatunya.

"Bener-bener ni anak. Gak tau sopan santun banget. Nyebelin kek gitu diajarin siapaa?!" Kansha menghampiri Arka yang tengah memakai sepatunya.

"Woy!! Denger gak!!" karena terlalu kesal, Kansha menarik paksa badannya hingga berdiri.

Tatapannya kini tertuju tepat didepan wajahnya, ia melihat wajah adiknya yang penuh dengan lebam.

Arka tahu jika kini kakanya sedang menatapnya intens. Lalu ia menunduk sembari keluar dari rumah itu.

***

Tujuannya sekarang adalah bolos bersama Mirza. Tentu saja Mirza mau, karena ia sangat khawatir dengan Arka.

Karena kondisinya seperti ini, ia hanya berjalan sedikit menuju halte bus dan akan dijemput oleh Mirza dengan motornya. Sampailah ia dihalte bus dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi.

Entah mengapa, rasa sakit pada hatinya jauh lebih sakit daripada fisiknya sekarang.

"Arka! Anjirr muka lu gini amat. Cepet naik!"

Di dalam kost, Mirza kebingungan sendiri karena kotak obatnya ia lupa taruh dimana. Sedangkan Arka terbaring lemas dengan mata tertutup merasakan sensasi perih yang nikmat.

"Tahan ka! Bentar lagi ya." ucap Mirza sambil mencari kotak obatnya yang entah dimana.

Sampailah ketukan pintu menghentikan kegiatan Mirza. Ia membukakan pintu dan melihat siapa yang bertamu pagi hari ini?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 31, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang