thirteen.

75 31 50
                                        

Luka luar bisa ditutupi dengan berbagai cara. Namun luka dalam tak ada satupun yang menjadi cara.

Wajah yang selalu tersenyum kini libur terlebih dahulu dan dilanjutkan nanti di sekolah. Sebelum pergi ke sekolah ia menyempatkan diri untuk membeli salep pereda nyeri.

"Tumben lu pake hoodie."

"Gue kan nolep, kurang masker sama kacamata doang."

"Janlup headset. Tapi meskipun nolep kayanya seru juga punya dunia sendiri."

Hari ini hari terakhir ujian. Pria berhoodie hitam itu selalu menjadi orang humoris di kelasnya bahkan di sekolahnya pun sudah terkenal.

"Sumpah Weh, ada cilok rasa strawberry."

"Ngaco lu!"

"Tiap hari lu ketawa ketiwi Mulu Kya gak ada beban."

Hatinya pun mencelos seketika mendengar salah satu teman kelasnya.

Guru pengawas pun masuk dengan aura negatifnya karena guru tersebut terkenal guru killer dua besar di sekolahnya. Seisi kelas langsung mengambil duduk rapi dan bersiap ujian.

Untung tangan kiri, kalo tangan kanan gak bisa nulis -batinnya.

Suasana hening...

"Heh kamu! Kenapa kamu pake hoodie? Buka sekarang!" tegur guru pengawas setelah melihat keberadaan Arka.

"A-anu Bu. Aku lagi gak enak badan." jawabnya berbohong. Ia memakai hoodie hanya karena menutup luka di tangannya yang masih sekarang terlihat sangat parah.

Akhirnya, sang guru memperbolehkannya memakai hoodie.

"Weh, lu sakit?" tanya Mirza sedikit khawatir.

Arka hanya melirik sekilas.

"Lu bisa sakit juga ternyata." Mirza terkekeh pelan lalu memegang tangan kirinya Arka yang sedang amat dijaga oleh sang empu agar tidak terkena apapun.

"AAAA!" semua mata menoleh padanya termasuk guru pengawas.

"KAMU! Ada apa? Menganggu orang lain aja!" sang guru langsung menghampirinya.

"Ma-maaf Bu tadi saya kaget tiba-tiba ada serangga." jawabnya terbata-bata.

"Terus sekarang serangganya mana?!"

"E-eum, i-ilang mungkin hehe."

"Semuanya tolong fokus kembali pada kertas ujian kalian! Dan kau! Kerjakan soalmu." final sang guru.

Akhirnya Mirza bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa hanya dipegang pelan saja Arka menjerit seperti ditimpuk besi?

"Lebay lu, kenapa si?" bisik Mirza, sejujurnya ia khawatir namun ia tepis pikirannya karena mereka telah berjanji jika ada apapun langsung cerita.

"Biar semua orang merhatiin gue." ucap Arka membuat Mirza semakin bingung karena ucapannya.

Pelajaran pagi selesai dan semua murid berbondong-bondong pergi menuju tempat tercinta yaitu surga makanan.

Berbeda dengan Arka yang pergi ke toilet sembari membawa salep yang ia bawa.

"Ashh,, perih anj." ia mengoleskan salepnya dan berusaha menahan rasa yang sangat nikmat. Setelah menyelesaikan kegiatannya. Ia memakai kembali hoodienya dengan telaten lalu membuka pintu kamar mandi.

"Khm."

Terlihat dua lelaki yang sengaja menunggu Arka keluar dari WC. Ia tidak memperdulikan mereka dan memilih menerobos lalu menuju kantin karena Mirza dkk sedang menunggunya.

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang