05. Beda

160 75 64
                                        

Hari ini hari keberangkatan sang kakak. Kedua orang paruh baya di depannya masih sangat mengkhawatirkan dengan keadaan anaknya akan tinggal di negeri orang lain.

Arka yang masih celingak celinguk di bandara, sangatlah bosan. Ia janya melihat keluarga yang hangat didepannya.

"Jaga kesehatan ya nak."

"Kelak,, jika kamu pulang, ayah ingin melihat kamu masih seperti ini dengan keadaan yang tampak baik baik saja."

Kapan terakhir kali Arka diperlakukan seperti itu oleh kedua orangtuanya?

Kini giliran Arka yang berpelukan kepada sang kakak. "Lu harus belajar!" ucap Kansha tegas.

"Gak mau kak, cape." sesingkat itu Arka menjawab, membuat sang kakak mencubit lengannya.

Terakhir kali gue jailin lu waktu kecil bang. Dan sekarang lu jailin gue diwaktu kya ini. Meskipun singkat tapi bahagia. Sehat-sehat terus bang.

"Akhh!!" Arka mendesis kesakitan, sang pelaku hanyalah tertawa bahagia.

"Kalo jujur, gue gak terima sih kalo lu pergi sekarang." ucap Arka.

"Janji loh bang, balik lagi Kya gini. Lu harus masih ada idungnya, matanya, kepalanya, kon~"

"Udah-udah! Nanti Kansha telat loh." Sang Ayah malah memotong pembicaraan Arka yang mengabsen seluruh anggota badan milik kakaknya itu.

Akhirnya Kansha pergi setelah tertawa terbahak-bahak bersama adik patner gelutnya.

"Bang Kansha!" pekik Arka yang benar-benar tak rela ditinggalkan oleh Kansha.

Kansha berbalik badan yang tengah membawa koper dan tas.

"Jangan lupa berdoa! Kalo bisa, lu balik secepatnya bang!" sekuat mungkin Arka menahan air matanya.

Kansha hanya tersenyum simpul lalu mengacungkan kedua jempolnya dan pergi melanjutkan langkahnya.

"Yuk, pulang."

-

Terdengar alunan musik yang sangat merdu bersumber dari gitar yang mereka mainkan. Bernyanyi tentang kerasnya dunia dan bagaimana bertahan di lingkungan yang tertekan?

"Anjay, abis cok." dengus Arka yang meminum secangkir kopi kesukaanya.

"Beli aja sono. Sekarang lu doyan ama Cicatrización cafe ya?" tanya temannya tak lain adalah Mirza.

"I-iya sih, tapi rasa kopinya beda. Tapi enak." kukuh Arka masih mempertanyakan mengapa kopi dari cafe itu sangatlah berbeda dengan yang lain.

"Bagus kalo bedanya enak, daripada bedanya gak enak."


Satu jam berlalu menikmati indahnya pemandangan alun-alun kota di sore hari. Mereka sangat bosan jika terus menongkrong dikost-an.

Triing!

Bunda

|Pulang
|Sebelum magrib
17.33

Arka tercengang melihat pesan yang ia baca, karena jarang sekali ibunya memperhatikannya seperti ini. Dia sering pulang malam ataupun menginap di kost-an Mirza, itupun tak apa dan sang bunda pun mengizinkannya.

Selebihnya mereka sangat bodoh amat pada keadaannya.

Iya otw|
17.34
Read

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang