Matthew duduk di jok belakang sebuah sepeda. Duduk menghadap ke belakang, sembari menutup matanya, dan menyandarkan sebentar bebannya ke punggung seseorang.
Langit oranye saksibisunya.
Pemuda itu membuka matanya perlahan. Obsidian coklat itu nampak lelah, setelahnya, sang empunya menghela nafas berat; lelah sehabis sekolah. Fisik dan mentalnya benar-benar lelah.
Matanya mencoba menatap si pemilik punggung empuk yang ia sandari. Akan tetapi, ia tak bisa, alhasil hanya bisa melihat langit oranye, “Lambat bener dah ngendarainnya, Bin,” protesnya.
Si pengendara pastilah tersinggung. Lalu, ia mendorong badan Matthew dengan punggungnya.
“Lunya yang berat, goblok.” jawab Hanbin.
Matthew sedikit terhuyung dan membuat sepeda itu sedikit oleng, “Weh!!! Anying! Diem ngapa?! Gue hampir jatuh, anjir!” ocehnya.
Hanbin hanya melirik Matthew, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan. Ia menggendong tas beratnya yang penuh dengan buku-buku di depan dadanya. Tubuh bagian depannya sudah berat sebab buku-buku itu, dan dengan senang hati, Matthew menambah beban di punggungnya.
Mereka tak pulang dengan bus hari ini. Mereka meminjam sepeda milik Yujin. Jangan khawatir, mereka dapat meminjam sepedanya sebab Yujin pulang bersama Gyuvin.
“Gimana nggak oleng, kebanyakan ngebacot sih lu,” Hanbin tertawa bahagia, namun berakhir setelah Matthew turun paksa dari sepeda. Hanbin sontak langsung memberhentikan sepedanya, dan menatap Matthew di belakangnya.
Secara tiba-tiba, Matthew melemparkan tasnya yang tak kalah berat ke wajah Hanbin. Hanbin hampir jatuh, dan menatap Matthew sekali lagi.
“Apaan, anjir ... ?” tanya Hanbin sembari mengerutkan keningnya. Matthew juga mengerutkan keningnya namun dengan wajah marah; hampir menangis.
“Lu yang apaan!?” teriaknya.
Setelah mendengar teriakan Matthew, Hanbin berdecak dan membuang pandangannya sebentar lalu kembali menatap pemuda Seok tersebut.
“Marah lu kebanyakan, Thew,” Hanbin terkekeh.
Mendengar hal itu, dengan cepat dan kasar, Matthew mengambil tasnya yang jatuh di bawah kaki Hanbin, lalu berjalan sambil sedikit menghentak-hentakkan kakinya; meninggalkan Hanbin. Namun ia tetap mengambil langkah yang besar agar Hanbin tertinggal di belakang.
Hanbin tahu bahwa pemuda yang jauh di depannya tersebut kesal dengan perkataan barusan. Namun, sayangnya, bodohnya, dia hanya terdiam tanpa ada niatan untuk mengejar langkah Matthew. Apakah .... dirinya .. mulai lelah .. dengan Matthew?
Pemuda Sung tersebut menghela nafasnya—muak—ia pijak pedal sepeda dan mulai melajukan sepedanya.
Jarak Matthew dan Hanbin sudahlah terlampau jauh. Awalnya, Matthew kira Hanbin tak ingin mengejarnya, ternyata suara sepeda tersebut mendekatinya. Hatinya senang, kesalnya sirna sudah.
Namun, sayangnya, sialnya, ia memberhentikan langkahnya, menghadap ke kanan lalu membuka mulutnya. Namun, sayangnya, menyedihkannya, Hanbin melaju kencang tanpa berhenti di sebelahnya. Matthew tak jadi mengucap sepatah katapun sembari menatap Hanbin menjauh hingga menghilang dari pandangannya.
“Loh .. ? Kok .. gue ditinggal .... ?”
I pushed you away just to see if you would stay.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend | Mattbin
Fanfiction[DISCONTINUED] I pushed you away, to see if you would stay. Contains harsh words! Out Of Character Matthew! Karakter-karakter di book ini sering cursing/ngomong kasar. Please, leave this book if u uncomfortable. ©jakkkungz
