#12. Pulang Bareng.

92 7 0
                                        

Matthew dan Hanbin keluar dari kantin, mereka baru selesai mengisi perut dengan beberapa makanan enak di kantin tersebut. Namun, otak Matthew rasanya benar-benar ingin meledak. Ujian telah berakhir dua hari yang lalu, nilai Matthew sama sekali diluar ekspektasi. Nilai tertingginya hanyalah 82, itu adalah ujian matematika.

Matthew ingin memakan kue keringnya tanpa banyak pikiran. Ia benar-benar lelah. Tolong, beri murid pintar ini istirahat lima menit saja.

Sial.

Ada yang tersenyum ke arah mereka.  Ah! Tidak, bukan mereka, lebih tepatnya Hanbin. Hao tersenyum ke arah Hanbin, tak lupa menaikkan alisnya. Tampaknya, ia sedang menyapa Hanbin.

Semesta memang suka bercanda, namun Matthew selalu bingung dengan candaannya.

Kenapa Hao senyum ke Hanbin? Dari kapan mereka sedeket ini? Ada apa sih?!

Namun, Matthew hanya bisa mengunyah makanannya dan menatap Hanbin dan Hao secara bergantian. Matthew tak bisa melakukan apa-apa.

[Just Friend]

Juara umum telah diumumkan. Matthew tak tahu harus bilang apa pada Mamanya di rumah kelak. Matthew buruk. Kenapa dirinya bisa lengah hanya karena hal bodoh? Tolong, maafkan dirinya. Ah! Cinta sialan.

Angka dua bukan angka yang bagus.

“Mattchu! Ada waktu nggak? Gue punya tempat bagus buat lu,” dari panggilannya, sudah tertebak siapa orangnya. Matthew belum bisa beradaptasi, masih sakit rasanya.

“Maaf, kak, gue lagi nggak bisa. Nanti kalo gue ada waktu, gue bilangin kok.”

Patah sudah hati Jiwoong. Ia hanya ingin Matthew tak terlarut-larut dengan kesedihan, takut ia benar-benar akan hanyut terbawa kesedihan tersebut. Namun, sepertinya ia terlalu gegabah dalam hal itu.

“Kalo gitu, gue duluan, ya? Semangat, Chu! Jangan lupa senyum.” ucapnya sambil melambaikan tangannya.

Matthew menatap punggung Jiwoong yang menjauh. Hampa rasanya. Sore itu rasa-rasanya seperti mimpi buruk. Matthew menyenderkan kepalanya ke dinding halte bus tersebut, lelah sekali tampaknya. Pemuda tersebut menghela nafas berat, ya, dirinya benar-benar lelah.

Tiba-tiba saja, matanya terasa berat dan terpejam sesekali. Angin sore itu bagaikan lagu tidur bagi Matthew. Sekitar tak terpikirkan lagi, Matthew benar-benar terlelap di halte bus itu.

30 menit berlalu. Benar-benar gila bukan? Matthew yang lelah bukan main satu-satunya orang yang dapat terlelap di tempat umum. Ah, seperti rumah sendiri ya? Sepertinya ia tidur nyenyak. Pipinya tumpah ke bawah karena bersender di dinding halte, dapat ditebak bahwa leher Matthew akan pegal bukan main saat ia bangun nantinya. 

[Just Friend]

Sudah dua kalinya Hanbin tak lagi pulang bersama Matthew. Entah apa masalahnya. Namun, Hanbin sadar. Ada yang berbeda dari Matthew sejak pemuda itu bertanya tentang gelang miliknya. Lalu, entah bagaimana ceritanya, peringkat Matthew turun semester ini. Hanbin merasa bersalah sebab duduk di peringkat yang seharusnya Matthew duduki sekarang.

Hanbin khawatir dengan sahabat kecilnya itu. Apakah keluarganya ada masalah? Apakah seseorang membuat masalah dengannya? Atau Hanbinlah masalahnya?

Terdengar konyol. Hanbin juga berpikir kalau Matthew ditolak seseorang, namun hal itu mustahil. Jika Matthew menyukai seseorang, ia pasti akan mengatakannya kepada Hanbin. Atau jangan-jangan, Jiwoong yang mematahkan hati Matthew? Ah! Kalau hal itu benar terjadi, Hanbin akan menginjak-injak tubuh kakak kelasnya tersebut.

“Matthew.” panggil Hanbin pelan.

“Hm? Kenapa?” jawab Matthew tanpa menatap Hanbin, ia sibuk menggulung-gulung sehelai rambut coklatnya.

Hanbin menggaruk tengkuknya,  “Kita pulang bareng, ya-”

“Dih? Kemarin-kemarin, kita nggak pulang bareng karena lu yang ninggalin gue, ya, monki,” potong Matthew secepat cahaya. Hanbin lebih memilih untuk mengiyakan perkataan Matthew daripada lanjut bertengkar.

Hanbin dan Matthew sudah tiba di halte. Awalnya tujuan mereka hanyalah pulang bersama. Namun, isi otak Hanbin tidak seperti itu. Ia ingin mengajak Matthew ke tempat bermain. Berharap senyum manis Matthew akan terbit lagi di sana.

“Errr ... Matt? Kita seneng-seneng yuk?” ajak Hanbin, sedikit ambigu. Bodohnya Hanbin.

“Hah? Maksud lu ngedugem-”

“YA BUKANLAH! Masa gue berani ke tempat-tempat begituan yang notabenenya kita tuh masih SMA, bangsat,” celetuk Hanbin.

“Yuk, busnya udah sampe,” ajak Hanbin sambil menggenggam tangan Matthew, namun si pemilik tangan tak kunjung bergerak, “udahlah, lu ngikut aja.” Hanbin menatap kedua manik Matthew; meyakinkan.

“Serah deh,” akhirnya pemuda itu mengikuti Hanbin.

Just Friend | MattbinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang