BAB XVI

57 13 0
                                        

*****************

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*****************

Ramai-ramai siswa siswi berbicara dengan riang pagi ini. Tiga orang laki-laki asik ketawa-ketiwi di koridor sekolah Altlas.

Namun, di antara ketiganya, salah satunya masih belum bisa membuang rasa sedih dan kecewa dalam hatinya. Dia Dino, ini sudah sebulan sejak kematian Yara.

Laki-laki itu masih terlihat ceria seperti biasanya, tapi bagaimana jika yang tidak terlihat? Mungkin -retak, -pecah sebelah, -ditusuk, dan -hancur- seperti itu.

Bel istirahat sudah berbunyi dari satu menit yang lalu dan beberapa menit kemudian kantin sudah dipenuhi oleh siswa siswi. Tak terkecuali tiga serangkai Atlas. Siapa lagi kalau bukan Ghava, Dino, dan Zack.

Ketiga laki-laki remaja itu duduk di kursi mereka seraya meletakkan pesanan di atas meja. Mereka makan seraya berbincang, tak lama kemudian seorang gadis datang dengan membawa makan siangnya.

"Ghava~"

Ghava berdecih dalam hati, Dino memutar bola mata malas, Zack memakan makan siangnya dengan acuh akan keberadaan sosok gadis itu.

Sosok gadis yang tiba-tiba bergabung bersama mereka bergelayut manja di lengan Ghava. Ghava menepis tangan gadis itu dengan kasar dan menatapnya tajam.

"Lo, bisa nggak sih? Jangan ganggu gue?!" geram Ghava.

"Nggak bisa! Sebelum lo jadi pacar gue!" seru gadis itu dengan senyum miring.

"Tapi gue nggak mau jadi pacar lo."

"Lo terlalu kecentilan buat Ghava," celetuk Zack.

"Kayak tante-tane juga," timpal Dino. Ghava dan Zack spontan menoleh dengan kaget, mengerjap bersamaan, dan menganga.

Gadis bernama Adelia itu tertegun, dia menatap tak percaya pada Dino yang terlalu jahat padanya. Adelia menatap marah pada Dino dan segera pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya, berlagak sok imut.

"Wah~ omongan lo keren Din, nggak ada filternya," ujar Ghava masih menatap tak percaya pada Dino.

"Frontal anjing," celetuk Zack.

"Makasih-makasih, makasih atas pujiannya!" beber Dino sambil tersenyum bangga.

"Lain kali kek gitu lagi ya, biar cepet tu cewek pergi. Muak juga gue lama-lama ada, untung aja bukan gue yang tempelin dia," ungkap Zack dengan ngeri. Baru saja akan membayangkan bagaimana dia ditempeli gadis dengan cepat menggelengkan kepalanya.

"Makasih banyak Dino, gue traktir sepuas lo," tutur Ghava.

"Yakin nih?"

"Iyap! Semua makanan kalian gue yang bayar!"

Zack dan Dino berseru heboh karena ditraktir oleh Ghava. Uang jajan mereka tidak keluar hari ini.

*****

Hemlock Water Dropwort [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang