BAB XX

60 10 0
                                        

*****************

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*****************

Persis seperti perkataan Lara, Ronan berada dijeruji besi. Zuri menatap datar lelaki yang terlihat marah di depannya.

"Ini semua lo yang buat, kan? Hermaphrodite sialan!"

Zuri yang mengikat setengah rambut pendeknya dibuat menaikkan alis lalu terkekeh sinis. "Gue maunya lo mati, bukan berakhir enak dijeruji besi. Lo tau apa yang ingin sekarang? Bunuh lo sama orang yang berhasil buat lo masuk penjara. Seharusnya lo bersyukur karena nggak berhadapan sama gue."

Ronan mengepalkan tangannya, dia ingin mencekik Zuri yang tersenyum miring padanya, namun karena adanya pembatas kaca membuat pergerakannya terhalangi.

"Lo orang gila."

Zuri makin tertawa. "Emang gue gila. Coba tebak, berapa orang yang gue bunuh dengan tengan gue sendiri?" Tatapan tajam Ronan membidik serius mata Zuri. "Banyak! Dan semua adalah korban pemerkosaan..." Zuri yang mengubah ekspresi menjadi datar.

Lelaki itu di sana terhenyak karena lanjutkan perkataan Zuri. "... Salah satunya adalah Yara."

Ronan memukul kaca di depannya. "Lo yang udah bunuh Yara, brengsek! Seharusnya lo yang dipenjara!"

Zuri menghela napas lalu beranjak. "Cepat-cepat lo keluar, gue setia nunggu lo buat balas dendam. Gue nggak rela lo seneng-seneng setelah keluar dari penjara. Babay..."

"Hey! Mau ke mana lo, hah?! Pak, tangkap dia Pak dia pembunuh!" Zuri acuh dengan melambaikan tangannya.

"Hermaphrodite sialan! Arrgkh!!"

*****

Tangan lentik putih itu mendorong pintu bercat putih. Kepalanya mendongak saat terdengar teguran dari dalam.

"Little Ghost dari mana?"

Zuri berdecak kesal dan membanting pintu kesal. "Sebenarnya yang pantas dipanggil setan itu lo. Di mana-mana ada lo! Fuck...."

"Zuri nggak boleh ngumpat!" Suara bundanya terdengar. Gadis itu berdecih dalam.

"Dari mana kamu? Ghava nunggin dari tadi."

"Nyari angin Bunda."

Arwen menggeleng. "Ya udah, Bunda mau ke belakang lagi, kamu bicara sama Ghava. Kasian dia, udah nungguin kamu." Selepasnya wanita itu pergi dari sana.

Kemudian Zuri beralih pada Ghava yang cengar cengir padanya. "Apaan?" Zuri bersedekap dada.

"Jalan sama gue yuk!"

"Nggak!"

Ghava melotot mendengar jawaban tanpa pikir panjang Zuri. "Kenapa?"

"Gue capek." Zuri melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ghava mengikutinya dari belakang dengan cemberut.

Hemlock Water Dropwort [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang