Bunga Hemlock Water Dropwort, kecantikan yang mematikan. Di balik warna putih polos yang menarik dan bentuk yang unik, tersembunyi racun yang mematikan. Kecantikan yang ada pada bunga ini seolah-olah menarik perhatian mangsanya. Dan kumbang yang men...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*****************
Dua hari. Dua hari sudah berlalu setelah malam itu, dan selama dua hari ini Zuri tak mengunjungi Yara di rumah sakit. Yang menemani Yara di rumah sakit adalah Dino.
Zuri masih belum siap mendengar permintaan itu lagi. Mungkin kalau sampai terjadi di mana dia harus memberikan benda itu pada Yara, dia tak lagi menyentuh benda itu.
Dering handphonenya membuat lamunan Zuri buyar. Gadis itu merogoh saku hoodeinya dan terlihatlah nama Dino di sana.
"Halo?" sapa Zuri dengam tak minat.
"Al.."
Degup jangan Zuri berdegup kencang mendengar suara Yara. Dia masih belum siap mendengar suara lemah gadis itu.
"Yara? Kenapa?" ujar Zuri, dia mencoba menahan agar suaranya tidak bergetar.
"Gue ... gue sakit Al ... tolongin gue.. gue pengen bebas, tidur dengan tenang, nggak perlu takut lagi akan bayang-bayang Ronan. Tolong Al, gue mohon sama lo..."
Ini adalah permintaan yang tersulit untuknya, mungkin kalau orang lain dia akan mengsegerakan. Tapi ini Yara ... dia tidak akan bisa.
"Al ... lo denger gue kan? Gue pengen bebas..."
"Lo ... lo tunggu di sana. Gue bakal datang secepat mungkin, maafin gue yang udah egois Yara. Maafin gue."
Baiklah, dia sudah meyakinkan dirinya. Dia tak akan membuat Yara kesakitan lagi, itu sudah cukup.
Zuri mengendarai motornya dengan cepat, mengabaikan umpatan yang dilontarkan padanya.
Setelah sampai di rumah sakit, gadis itu belari di koridor, dia harus dengan cepat sampai di kamar Yara.
Brak!
Napas Zuri tak beraturan. Di dalam sana terlihat Yara dan Dino yang saling diam. Zuri bisa melihat raut tak terbaca dari seorang Dino.
"Al..."
Zuri tersenyum lembut ke aras Yara, lebih tepatnya tersenyum paksa.
"Gue bawa cemilan buat lo. Spesial buat lo dan hanya buat lo," tuturnya seraya mengeluarkan sesuatu dari tas punggungnya.
Dino memerhatikan raut wajah Yara yang spontan berubah. Dia merasakan perih di dalam sana, seperti ada sesuatu yang meremas hatinya melihat senyum senang Yara.
"Nih," cetus Zuri seraya memberikan biskuit coklat pada Yara.
Yara tersenyum senang, meraih biskuit itu dan segera melahapnya dengan girang.
"Akhirnya Al! Gue makan juga biskuit spesial lo ini! Kenapa nggak dari lama aja hah?! Lo pikir nggak capek apa?!" coleteh Yara dengan senang, tapi air matanya juga tak berhenti mengalir.