BAB XXIV

50 11 0
                                        

******************

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

******************

Zuri menatap Ghava yang terlihat bercanda dengan Zack dan Dino seperti biasanya. Sudah seminggu laki-laki itu tidak merecokinya dan selama itu rasanya ketenangan Zuri kembali. Betapa bahagianya gadis itu.

Tapi Zuri bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ghava tidak merecokinya? Tidak berlaku sesuka hatinya seperti biasa? Jika karena kejadian di kantin rasanya tidak mungkin, karena larangan Zack dan Zaky? Zuri rasa tidak. Atau mungkin karena di mansionnya waktu itu? Ahk! Lalu apa? Tolong katakan pada Zuri.

"Kenapa makanannya nggak di makan? Nggak enak?"

Zuri keluar dari lamunanya kala Lara menegurnya, gadis itu dengan cepat menggeleng. Zuri tanpa sadar melirik ke arah Ghava dan memakan makan siangnya.

Seorang gadis tak dikenal tiba-tiba datang menghampiri Ghava dan duduk di sebelah laki-laki itu hingga berada di antara Ghava dan Dino. Gadis itu terlihat sangat akrab dengan Ghava sampai-sampai menyuapkan nasi goreng miliknya pada Ghava.

Zuri mendelik julit. "Apaan suap-suapan? Nasi goreng dia sama nasi goreng Ghava sama. Mau kelihatan romantis tapi malah kelihatan begonya," ungkap Zuri berapa gelinya dia. Ada-ada saja memang.

*****

Karena tak ada gangguan dari Gahva, Zuri menjalani harinya dengan tenang dan menyenangkan, gadis itu bisa menikmati harinya tanpa ada Ghava di sekitarnya.

Zuri keluar dari kelasnya sambil menyampirkan tas ke bahu kirinya, baru saja keluar dari kelas dua orang yang dikenalnya lewat di depannya sambil tertawa. Dua orang itu adalah Ghava dan gadis di kantin tadi.

"Mungkin gebetan baru Ghava? Nyerah sama gue kali ya? Cih, lemah."

Memilih abai, Zuri segera ke parkiran. Zuri mendongak menatap awan kelabu yang siap menumpahkan bebannya ke bumi. Tepat kakinya menyentuh rumput, hujan deras telah mengguyur, Zuri mengurungkan dirinya menuju parkiran.

Beruntung Zuri mengenakan hoodie yang cukup tebal dan membawa mobil. Kenapa Zuri memilih untuk berteduh tapi membawa mobil? Zuri tidak suka basah, mungkin berteduh menunggu seseorang lewat dan membawa payung. Zuri akan menebeng hingga keparkiran.

Oh lihat, drama apa yang ada di tengah lapangan itu. "Mereka main kubangan air?" monolog Zuri melihat Ghava bersama gadis itu tengah bermain di tengah-tengah hujan.

"Atau mereka nyari sakit? Ada-ada aja."

Tiba-tiba seorang laki-laki lewat membawa payung, Zuri segera menahannya dan ikut bersama ke parkiran. Zuri mengantarkan laki-laki itu pulang sebagai terima kasih. Laki-laki yang terlihat lebih kecil darinya itu terlihat imut, membuat Zuri cukup nyaman. Mungkin traumanya tergantung bagaimana pada laki-laki mendekatinya atau dari aura laki-laki itu sendiri.

Keesokan harinya Zuri mendapati Ghava yang terlihat tidak bersemangat mungkin karena gadis yang kemarin sakit? Karena Zuri tak melihatnya selama di kantin.

Zuri menggelengkan kepala tak habis pikir. "Bego."

Namun Zuri salah, gadis itu ternyata sekolah dan tidak sakit. Teriakan yang begitu membahanan memanggil nama 'Nevra' mengalihkan Zuri, dia jadi tau nama gadis itu.

Pandangan Zuri tak lepas dari gadis itu sampai di meja Ghava, Zack, dan Dino. Raut suram Ghava tergantikan dengan senyuman di bibirnya.

"Oh, karena ayangnya lama ke kantin."

Laki-laki yang kemarin lewat di sampingnya. Zuri memanggilnya untuk makan bersama. Lara menyeritkan dahi melihat keanehan Zuri. Lalu gadis itu melirik ke Ghava, laki-laki itu juga aneh, tidak merecoki Zuri. Apa yang sudah terjadi pada keduanya?

*****

Zuri turun dari mobilnya setelah memarkirkannya ke parkiran mall. Beberapa saat yang lalu gadis itu baru saja dari makam Yara.

Kegabutan gadis itu membawa dirinya ke gramedia, membeli novel yang belum ada di perpustakaan novel miliknya di rumah.

Tanpa disangka, dia melihat Ghava dan Nevra juga di sana. Berjalan berduaan mencari novel juga. Memilih tak peduli Zuri melanjutkan eksplorasinya. "Sempit banget dunia."

Setelah berjalan cukup lama Zuri kembali dipertemukan oleh keduanya, namuan dengan posisi yang membuat Zuri tertegun. Di sudut rak yang sempit dan jarang di lalui, kedua orang itu terlihat saling berhadapan, tangan kiri Ghava memblokir jalan sementara tangan kananya di taruh di sisi tubuhnya.

"Mereka ... ciuman?" gumam Zuri tak percaya.

Beberapa saat kemudian Ghava menarik tubuhnya, dengan cepat Zuri beranjak membayar novelnya dan pergi. Perasaannya menggebu dan bergejolak, rasa mual menyerangnya, isi perutnya seakan ingin keluar saat ini juga.

Tak peduli dengan umpatan pada pengguna jalan lainnya, Zuri melajukan motornya yang untungnya dia bawa saat ini. Bahkan saat sampai di rumah Zuri memarkirkan sembarangan dan bergegas masuk.

"Zuri? Udah pulang?" Arwen menatap anaknya bingung karena melewatinya begitu saja.

"Zuri kenapa, Bunda?" tanya Zaky karena melihat sikap Zuri yang aneh saat di anak tangga.

"Bunda juga nggak tau."

"Nyonya, Tuan Muda, ini kunci motor Nona Zuri."

Kedua ibu dan anak itu beralih pada bodyguard yang datang menyerahkan sebuah kunci yakni kunci motor Zuri. Zaky meraih kunci motor itu dan berterima kasih, bodyguard itu pergi setelahnya.

Arwen merasa Zuri tidak baik-baik saja, niatnya yang ingin ke ruang nonton diurungkan dan bergegas ke kamar Zuri.

"Kamu panggil Zack ke kamar Zuri," titah wanita itu pada Zaky dan dibalas anggukkan oleh sang empu.

Arwen mengetuk pintu kamar Zuri. "Zuri, boleh Bunda masuk?"

Tak ada sautan dari dalam, Arwen semakin cemas. Tak lama kemudian Zack dan Zaky datang.

"Zuri kenapa, Bunda?" pertanyaan yang sama di layangkan oleh Zack. Dan jawaban yang sama pula oleh Arwen.

Suara pintu terbuka menyentak mereka semua, terlihatlah Zuri yang memandang mereka semua datar, benar-benar datar.

"Kenapa?" tanya Zuri dengan suara rendah.

"Kamu nggak papa? Kamu sakit?" Arwen bertanya khawatir seraya mengecek suhu badan gadis itu.

"Zuri nggak papa, ngantuk aja, hehe..."

Tanpa mendengar perkataan apapun lagi dari Arwen maupun si kembar, Zuri menutup pintu kamarnya.

"Bunda yakin dia bener nggak baik-baik aja," tutur Arwen seraya menatap dua anak laki-lakinya. "Kalian cari tau ke mana Zuri tadi."

Zack dan Zaky mengangguk dan segera menjalankan titah dari sang Ibunda yang tercinta. Setelah keduanya cukup bekerja di depan komputer akhirnya mereka mendapatkan sebab Zuri sekarang. Zack dan Zaky saling tatap dengan pandangan rumit.

*****************

*****************

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


05/10/2023

Hemlock Water Dropwort [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang