BAB XXIII

43 12 0
                                        

******************

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

******************

Ghava uring-uringan. Zuri tidak mau bertemu dengannya untuk sementara. Ini baru sehari, tapi kenapa rasanya sudah seratus tahun?! Lebay memang, tapi itu yang dirasakan Ghava.

"Gue bener-bener nggak bisa! Zack, gue mohon, bantuin gue~ gue nggak bisa jauh dari Little Ghost! Dia udah jadi separuh napas gue~"

Ghava benar-benar di luar nalar. Bisa-bisanya laki-laki itu saat merengek pada Zack sambil menggoyang-goyang tangan Zack.

Dino berdigik melihatnya. "Gue nggak punya temen kayak dia! Gelay!" Seluruh tubuh Dino merinding dibuatnya.

Zack menyentak tangan Ghava sambil menampilkan raut jijik yang sangar amat. "Bangsat, gue jijik ngeliat lo yang kayak gini! Jangan merengek sama gue! Jauh-jauh sana!"

Ghava menolak tolakan Zack, laki-laki itu makin gencar merengek pada laki-laki itu. "Zack ayolah~ sebagai sahabat gue yang baik dan calon kakak ipar gue, bantuin buat bujuk Little Ghost~"

Zack mendelik sinis. "Tapi sorry, gue nggak baik!"

"Aaaaa~ fuck you emang!"

Tiba-tiba sudut mata Ghava terlihat laki-laki kemarin yang menghampiri Zuri. Tanpa babibu Ghava beranjak dengan kaki dihentak ke lantai.

"Al, gimana kalo nanti habis pulang sekolah? Katanya ada novel baru."

Zuri menatap datar pada Roki yang ternyata belum kapok, bahkan sampai mencari kesukaannya. "Gue udah bilang, gue nggak punya waktu buat lo! Lo belum budek, kan?"

"Tapi Al, lo bisa kasih gue kesempatan, kan?" paksa Roki sambil berjalan mendekat.

Ada getaran halus pada tubuh Zuri, gadis itu melangkah mundur menjauh dari Roki. "Nggak, jauh-jauh lo dari gue!"

Teriakan Zuri menarik atensi orang yang berada di kantin, terutama Zack yang sudah berlari.

"Lo nggak denger apa yang dibilang Zuri?!" Ghava tanpa aba menghantam wajah Roki hingga laki-laki itu terhempas ke lantai.

Zack menarik Zuri ke dalam pekukannya, dia bisa merasakan gemetar Zuri. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya pada Zuri. "Nggak papa, gue di sini, lo aman sekarang," tutur Zack menenangkan Zari sambil mengecup lembut kepala gadis itu.

"Anjing lo apaan Ghav?!" ujar Roki tak terima.

"Zuri udah ngomong jangan deketin dia, tapi lo tetep kekeh buat dekatin. Telinga lo masih berfungsi, kan?" sarkas Ghava marah.

"Apa masalah lo gue deketin Al? Lo pacar aja bukan!" remeh Roki membuat Ghava naik pitam.

Seperempat siku muncul di pelipis Ghava. Bagus, dia sedang kesal dan laki-laki satu ini malah menyiramkan minyak. "Jangan salahin gue kalo lo mati di sini."

Ghava kembali menghantam wajah Roki, Roki tidak terima dan membalas pukulan Ghava. Keduanya terlibat perkelahian yang cukup sengit. Orang yang maka dekat perkelahian mereka terpaksa menghindar agar tidak menjadi sasaran pukulan nyasar.

Kantin kacau, meja dan kursi bergeser ke sana kemari. Ghava menghajar wajah Roki yang sudah terkapar di bawahnya. Satu pukulan terakhir Ghava layangkan lalu menarik kerah Roki yang telah kotor dengan darah laki-laki itu sendiri.

"Peringatan yang terakhir buat lo, jauhin Zuri dan jangan pernah muncul di hadapan dia! Dia cuman milik gue, paham?!" bisik Ghava dengan penuh penekanan.

Setelah Roki mengangguk dengan lemah baru Ghava lepaskan. Laki-laki itu beranjak sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Zuri.

"Di mana Zuri?" tanya Ghava pada Dino yang menghampirinya.

"Dibawa pulang sama Zack," jawab Dino.

Ghava berdecak kesal sambil menatap Roki yang telah pingsan. Tanpa berkata lagi dia berlari keluar kantin menuju mansion Cruise.

*****

Zack dan Zaky menatap Zuri yang sudah tidur. Tadi Zack menghubungi Zaky mengatakan keadaan Zuri, Zaky yang tidak tenang memutuskan untuk pulang dan melihat langsung keadaan adiknya.

"Bukan Ghava yang buat dia kayak gini," ungkap Zack tiba-tiba.

"Trus?"

"Orang lain. Nyatanya trauma Zuri nggak pernah kambuh kalau dekat Ghava," jelas Zack menjawab pertanyaan Zaky.

"Apa karena Ghava teman lo?" ucap Zaky.

"Gue juga nggak tau."

Tiba-tiba pintu kamar dibuka, sontak Zack dan Zaky menoleh dan melihat keadaan Ghava yang sangat kacau diikuti Dino.

"Gimana keadaan Zuri?" tanya Ghava yang kini berjongkok di samping ranjang Zuri. Memandang wajah tidur Zuri.

"Dia udah baik-baik aja, gimana sama laki-laki tadi? Nggak mati, kan?"

Ghava berdecak. "Beruntung aja tadi dia nggak mati di tangan gue, sialan!" erang Ghava penuh kekesalan.

"Trauma Zuri kambuh...."

"Gue tau dan karena itulah gue hajar cowok sok ganteng itu. Anjing, gue masih kesal!"

Zaky tertawa mendengarnya. Semua menoleh pada laki-laki itu. "Gue nggak nyangka ada cowok yang suka sama Zuri sampe segitunya. Lo hebat Ghava, cowok selain gue, Zack, sama Ayah yang nggak buat trauma Zuri kambuh," ungkap Zaky sambil tersenyum tipis pada Ghava.

"Sshhh ... kalian berisik, keluar sana!"

Mereka terdiam saat terdengar erangan kekesalan Zuri, gadis membalikkan tubuh membelakangi mereka lalu kembali terlelap. Sontak mereka terkekeh karena Zuri yang sangat menggemaskan.

"Gue butuh bantuan kalian."

Zack dan Zaky menoleh begitu mendengar celetukan Ghava. "Bantuan apa? Uang? Sorry gue miskin, yang punya uang Ayah gue," cetus Zack.

Ghava berdecak sambil memutar bola mata. "Gue serius."

"Apa?"

"Bantuin gue deket sama Zuri."

*****************

*****************

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


04/10/2023

Hemlock Water Dropwort [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang