HALAMAN 11

289 27 1
                                        


Sebuah kerajaan, berdiri dengan kokohnya. Kerajaan yang bisa memakmurkan rakyat bahkan banyak kerajaan lain yang ikut serta bernaung di bawah kuasa kerajaan yang dipimpin oleh Raja muda bermarga Lee.

Lee Jeno, Raja muda yang sukses membuat warganya makmur. Raja yang selalu menjadi topik pembicaraan orang lain karena ketampanan dan kebaikannya. Lee Jeno juga sering sekali mendapat penawaran dari beberapa Raja lain untuk menjadi menantu. Sudah banyak yang menawarkan, namun ternyata ia hanya tertarik pada satu submissive cantik.

Ditengah keberhasilan sang Raja memakmurkan kerajaan dan rakyatnya, ia memiliki satu kekurangan. Yaitu jika amarah sudah melingkupinya, ia tak akan bisa berfikir jernih. Ia hanya akan melakukan hal yang menurutnya bisa membalaskan perbuatan keji orang tersebut. Contohnya saat ini...

Kerajaan tengah dirundung duka sebab ibunda dari sang Raja meninggal dunia akibat meminum racun yang tercampur dalam teh miliknya.

"Siapa yang berani melakukan hal ini terhadap ibu dari seorang Raja! Sudah bosankah ia hidup?!" ujar Sang Raja murka.

"Temukan pelakunya! Bawa ia kehadapanku dalam keadaan hidup!".

Para prajurit membungkuk, lalu melaksanakan perintah sang Raja untuk mencari pelaku yang menyebabkan kematian sang ibunda.

Kini sang Raja menatap wajah pucat ibunya,

"Ibunda, maafkan anakmu yang tak sempurna ini. Maafkan anakmu yang memelihara penjahat dalam kerajaan dan berakhir seperti ini. Aku berjanji siapapun orang itu, aku akan menghukumnya".

"Nyawamu, akan dibalas dengan nyawanya. Salamkan maafku kepada ayahanda karena tidak bisa menjaga mu".

"Kakak". ujar seorang pemuda.

Jeno menoleh, pemuda tersebut mendatangi Jeno lalu memegang pundak Raja muda tersebut.

"Jangan menyalahkan dirimu, semua yang ada dalam lingkup kerajaan pun tidak mengetahui siapa pelaku dibalik semua ini. Kita harus mencari tahunya, aku yakin tidak hanya satu orang".

Jeno menunduk, menatap wajah ibunya.

"Bahkan ibunda tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun". ujar Jeno.

Jaemin mengangguk.

"Ibunda pribadi yang baik, namun sangat janggal ketika ada seseorang yang membunuhnya tanpa sebab. Sepertinya ini adalah sebuah rencana dari seseorang".

Jeno menatap wajah sang adik.

"Kau mencurigai seseorang, Pangeran?".

"Ya, entah ini kebetulan atau memang bagian dari rencana orang itu". ucap Jaemin.

"Kakak, apa kau tidak mencurigai Perdana Menteri mu?".

Jeno menatap adiknya, apa maksud Jaemin.

"Maksudmu?". tanya Jeno.

"Saat Perdana Menteri menawarkan agar kau menikahi anaknya, Ibunda tidak setuju bukan? Ibunda bahkan terang-terangan tidak menyukai perempuan itu. Entah kenapa aku mencurigainya, karena ibunda selalu menghalangi niat Menteri Seo untuk menjodohkan putrinya denganmu".

Jeno menghela nafas.

"Tapi Jaemin, Menteri Seo telah mengabdi kepada kerajaan ini sejak ayah masih hidup. Apa dia akan berbuat sekejam ini kepada istri dari orang yang ia segani sejak dulu?".

"Bahkan orang yang sudah lama kita kenal pun tidak menjamin bahwa ia tidak akan berkhianat".

Jeno terdiam, benarkah Menterinya itu berlaku sekejam ini terhadap ibunya.

REINKARNASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang