HALAMAN 12

58 7 0
                                        

  Kerajaan yang dulu terlihat hidup, terlihat hangat dan damai. Sekarang malah berbanding terbalik. Kerajaan itu sepi, tidak ada lagi canda tawa didalamnya. Tidak ada lagi sapaan hangat seorang adik kepada kakaknya. Dan tidak ada lagi pemandangan romantis antara Raja dan Permaisurinya.

Jeno terdiam, memikirkan semua perkataan Jaemin kepadanya.

"Kau itu seorang boneka yang selalu diperalat oleh orang lain."

Jeno menarik nafasnya perlahan, memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Entah ia harus kemana sekarang untuk menyelesaikan segala permasalahan di Kerajaan ini, Kerajaan peninggalan Ayah-nya yang paling mempercayai-nya.

"Ayah, maafkan aku. Mungkin aku bisa memakmurkan seluruh rakyatku. Tapi aku tidak bisa menjaga kehangatan dalam kehidupan keluarga kerajaan saat ini." gumamnya dengan penuh penyesalan.

Jeno meminta pelayan memanggil kan Panglima Mark untuk menghadap padanya.

"Hormat hamba Yang Mulia." Mark membungkuk.

"Ada apa Yang mulia memanggilku?" Tanya sang-Panglima.

Jeno menatapnya, tatapannya tidak tajam seperti biasanya. Tatapannya sendu.

"Panglima, sekarang bagaimana aku menjalani hari-hariku. Menjalani kewajibanku, menjalani segala tugasku di Kerajaan ini ketika semua yang menjadi sumber penyemangat ku kini telah menjauh bahkan terasa sangat asing." Ujar Jeno.

Mark menatapnya, "Yang mulia, jikalau anda terus berlarut dalam kebingungan ini. Maka semua akan sia-sia, semua akan terasa suram. Kau harus bangkit, bangunlah Rajaku. Kau harus mengadili mereka yang membuat semua ini berantakan."

"Yang mulia, aku akan menjadi kakimu jikalau dirimu tak bisa berdiri diatas kakimu sendiri, aku akan selalu ada disaat semua orang tidak memihakmu. Yang mulia, ayo berdiri lah. Adili semuanya, aku ada disini. Kita akan mencapai segala yang telah kita rencanakan."

Jeno tidak pernah menangis, bahkan dalam keadaan sesulit apapun. Saat orang tuanya tiada, ia tidak pula menangis. Namun saat ini, dalam keadaan diam tidak bersuara, air matanya menetes. Sebutir air turun dari matanya hingga melewati pipi dan rahang tegasnya. Mark yang melihat merasa tertegun, Rajanya kali ini terlihat sangat hancur.

Siapa yang tidak hancur jikalau semuanya pergi seperti ini. Orang tuanya, adiknya, juga istrinya yang paling ia cintai.














  "Ayah, bagaimana kalau Yang Mulia Jeno mengetahui perlakuan keji yang kita lakukan? Kita akan dihukum ayah."

"Ayah sudah memikirkan segalanya, kau tenang saja. Tidak semudah itu ia akan mengetahui perbuatan kita"

Diskusi antara ayah dan anak, Perdana menteri Seo dan juga anaknya Xiyeon kini dilanda gundah. Sebab mereka yakin setelah ini pasti Raja akan gencar mencari tahu siapa dalang dibalik hancurnya keluarga kerajaan. Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.

Suasana di Kerajaan pagi hari kini menjadi menegangkan. Sang Raja muda, Lee Jeno meminta semua penghuni kerajaan berkumpul di aula utama. Tidak terkecuali bahkan Permaisuri Renjun dan juga Pangeran Jaemin ikut memasuki aula besar Kerajaan itu. Walaupun keduanya kini hanya menatap datar semua yang ada di sini.

Sang Raja berdiri, dan mengeluarkan suara tegasnya. Tidak ada lagi wajah yang rapuh yang kemarin dilihat Sang Panglima. Kini wajahnya kembali tegas, bahkan terlihat kejam.

Tanpa basa basi ia berkata.

"Mengakulah kalian yang bersekongkol untuk membunuh ibuku juga permaisuri." Katanya, masih terkesan datar namun tegas.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 18 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

REINKARNASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang