Dewangsa Regan Maheswara, anak kedua dari keluarga Maheswara. Laki-laki idola sekolah namun rapuh di dalam. Bagi keluarga nya, Dewa tak lebih dari anak sial yang hadir di tengah keluarga Maheswara. Berbeda dengan Raja sang kakak dan Rea sang adik ya...
Hallo gaysss, sebelum lanjut author mau absen dulu dong di sini pake emot ☝️
Jangan lupa memencet tombol bintang dan berkomentar untuk meramaikan cerita ini!
NO PLAGIARISME ⚠️⚠️⚠️
SIAPAPUN YANG MENEMUKAN KESAMAAN DENGAN CERITA INI HARAP LAPOR PADA AUTHOR!
Dengerin musiknya biar dapat feel nya!
Are you ready?
Oke let's go!
------ Happy Reading ------
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu bulan berlalu dengan cepat sejak kejadian dimana Adrian menghina Dewa habis-habisan. Masih sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah dalam kehidupan Dewa. Keluarganya masih belum menerima dirinya, orang tuanya juga masih sama-sama tidak peduli dengannya. Mau tak mau Dewa juga tetap harus melanjutkan hidup entah ada atau tidaknya dukungan dari keluarga. Terkecuali Rea. Hanya gadis itu yang selalu memberikan semangat dan perhatian untuk Dewa. Dewa bersyukur setidaknya ia masih memiliki Rea. Karena itu dirinya masih bisa bertahan sejauh ini.
Namun akhir-akhir ini entah mengapa Dewa merasa dirinya jadi lebih mudah kelelahan. Padahal ia tidak melakukan pekerjaan berat sekalipun. Biasanya tidak apa-apa namun kini justru lelahnya disertai dengan punggung yang terasa nyeri atau bahkan sampai napasnya yang tak beraturan.
Seperti saat sekarang ini, ketika dirinya sedang memungut sampah dan memasukkannya ke dalam karung. Dewa merasa punggungnya nyeri dan sesak napas, sedikit pusing. Ia berpikir mungkin karena belum sarapan tapi biasanya ia tidak sarapan dan baik-baik saja. Dewa dihukum karena terlambat masuk sekolah. Jujur ini adalah pertama kalinya Dewa terlambat, padahal ia biasanya selalu tepat waktu bahkan lebih dulu tiba dari pada satpam sekolah.
Dewa meletakkan karung yang sudah penuh dengan sampah di dekat pohon rindang. Ia duduk untuk beristirahat sejenak. Laki-laki itu mengusap peluh yang membanjiri wajahnya sembari mengatur napas.
"Tumben banget gue capek, biasanya juga ga kenapa-kenapa kerja berat." gumamnya.
Mengabaikan rasa lelahnya, laki-laki itu kemudian mengambil tas miliknya yang terletak di halaman belakang. Ia segera menuju kelas karena sudah sangat terlambat masuk.
•••
Jam pelajaran keempat adalah olahraga. Para murid diberi waktu untuk mengganti pakaian dengan seragam olahraga. Begitupun dengan Dewa dan Jidan. Mereka baru saja keluar dari ruang ganti.
"Muka lo pucet, lo sakit?" tanya Jidan saat melihat wajah Dewa. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Dewa guna mengecek suhu tubuh laki-laki itu.