EXTRA PART 1

2.2K 63 1
                                        

------ Happy Reading ------

Suasana pemakaman Dewa ramai di datangi oleh para pelayat. Mulai dari rekan kerja, teman-teman, dan tetangga berdatangan untuk turut berduka cita. Satu persatu pelayat pergi meninggalkan area pemakaman hingga tersisa keluarga dan sahabat.

Seorang laki-laki duduk diam memandangi gundukan tanah di hadapannya.

"Jidan,"

Jidan tak menoleh ketika orang lain memanggilnya.

"Dan...."

"Gue gagal Al. Gue telat nyelametin Dewa."

Alfi merangkul Jidan. Ia langsung memesan tiket dan pulang ke Indonesia setelah mendengar kabar duka itu.

"Dewa udah tenang. Dia udah gak ngerasain sakit lagi. Kita harus ikhlasin dia Dan." ucap Alfi mengusap-usap bahu Jidan. Sejujurnya ia sendiri juga sedih dan merasa menyesal karena tidak bisa selalu hadir di samping Dewa. Namun menyesal bukanlah hal yang harus dilakukannya sekarang.

"Dia cuma pengen kasih sayang. Dewa cuma pengen dipeluk orang tuanya Al. Tapi....." tangis Jidan pecah dalam pelukan Alfi.

Sementara itu Zoya di sisi lain makam mengusap-usap foto Dewa. Air matanya tak berhenti sejak malam tadi. Matanya sudah bengkak bahkan suaranya tak lagi terdengar akibat terlalu lama menangis.

"Dewa marah ya sama Bunda makanya Dewa gak kasih kesempatan buat salam perpisahan? Nanti kalau Bunda kangen, Bunda harus apa?

"Bun, Dewa capek."

"Ya trus? Bukan urusan saya! Memangnya kamu kira saya akan kasian liat kamu kayak gini? Yang ada saya jijik liat kamu."

"Dewa gak punya kesempatan buat peluk bunda sekali pun? Cuma semenit pun ga bisa? Atau sepuluh detik deh."

"Dewa capek ya nungguin Bunda? Bunda sekarang pengen peluk Dewa udah gak bisa nak." tangis Zoya pecah saat mengingat Dewa yang selalu memohon-mohon padanya untuk dipeluk. Bayang-bayang Dewa dengan keadaan kacau malam itu berputar di kepala Zoya.

Harusnya Zoya sadar, saat itu anaknya tampak pucat. Harusnya Zoya memeluknya untuk memberi kekuatan. Namun yang ia lakukan adalah menampar dan memaki Dewa hingga laki-laki itu pergi dari hadapannya dengan raut sendu.

"Bunda kangen jalan-jalan bareng Dewa lagi. Bunda kangen kita makan bareng." Zoya ingat betul bagaimana senyum merekah Dewa saat ia dan anaknya menghabiskan waktu bersama. Tapi kebersamaan itu ternyata hanya sesaat sebelum Dewa pergi.

Zoya mengusap air mata di pipinya. "Dewa bilang mau di antar pulang ke rumah Oma kan? Bunda sama ayah udah anterin Dewa pulang sekarang." Zoya tersenyum samar. "Tolong bilang ke Oma ya, bunda minta maaf. bunda ibu yang jahat untuk Dewa."

Zoya melihat makam Susanti. Makam Dewa tepat berada di sebelah makam ibunya karena sesuai keinginan Dewa yang ingin istirahat di sebelah Oma-nya.

Angin sore mulai turun, membawa aroma tanah basah yang menusuk dada setiap orang yang masih bertahan di tepi makam Dewa. Matahari semakin rendah, meninggalkan warna jingga yang seolah berkabung bersama mereka.

Zoya tak beranjak sedikit pun sejak prosesi selesai. Tangannya terus mengusap bingkai foto Dewa yang dingin, seolah berharap kehangatan putranya bisa kembali mengalir ke telapak tangannya.

"Zoy," suara seseorang terdengar pelan di sisi kirinya.

Zoya menoleh. Adrian berdiri dengan mata sembab. Sudah lama ia tak pernah terlihat begitu hancur.

"Jangan di sini terus," ucap Adrian lirih.

Zoya menggeleng pelan. "Aku belum siap ninggalin dia, Mas... Seumur hidup aku usir dia, marahin dia, bikin dia takut sama rumahnya sendiri. Masa sekarang aku tinggalin dia lagi?"

Dream [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang