Mata sayunya terus menatap wajah Doyoung penuh kekaguman. Tangannya melingkar dileher sang tuan rumah. Pandangannya beralih pada bibir Doyoung. Yedam mengangkat tubuhnya, mencoba meraih bibir laki-laki yang menggendongnya.
"Tunggu sebentar," suara Doyoung menginterupsi pergerakannya.
Pintu kamar dibuka, Doyoung meletakkan tubuh si cantik diatas kasur. Ia melucuti pakaiannya sendiri, tapi masih membiarkan Yedam utuh dengan pakaiannya.
Doyoung mengukung tubuh mungil itu. Mengecup berkali-kali ranum manis milik si cantik. Terakhir, ia melumat bibir itu.
Yedam mendorong tubuh Doyoung untuk menjauhkan bibir keduanya. Ia kehabisan nafas tau!
"hmph—hah! Kakak mau—h membunuhku, ya? Shh!"
Yedam tak bisa berbicara dengan lancar karena Doyoung. Setelah melepas ciuman keduanya tadi, Doyoung beralih menyesap leher si manis.
Doyoung menghentikan aksinya. Ia tertawa kecil dengan ucapan Yedam. Anak ini polos atau bagaimana? Kenapa dengan mudah masuk kedalam perangkap ayahnya? Apa dia sama sekali tidak curiga?
"Yedam, berhenti memprotes dan hanya desahkan namaku."
Tubuh Yedam semakin meradang akibat suara Doyoung yang berubah. Suara si dominan yang menjadi lebih berat dari sebelumnya.
Sebenarnya, Doyoung sadar ini salah. Ditambah lagi, keduanya baru mengenali satu sama lain— ah, yang satu itu wajar. Ayahnya sering mengirim seorang gadis kerumahnya untuk menemaninya. Padahal Doyoung sudah mengatakan jika semua itu tidak perlu. Untungnya, Doyoung tak pernah sekalipun menyentuh semua gadis yang dikirim oleh ayahnya.
Dan lagi, Yedam ini mengaku dirinya laki-laki.
"Ng? Kakak—h ngapain?" Yedam bertanya dengan lemah ketika menyadari Doyoung melepas kancing seragamnya.
Doyoung meraup nipple si cantik. Dijilat, disesap, sesekali digigit olehnya. Nipple lainnya tak dibiarkan menganggur oleh sang dominan, jemarinya bahkan turut meremas payudara tipis milik si cantik.
"Ngh! Geli—h, Kak—hh!" Namun, tangannya menekan kepala Doyoung untuk terus berada diposisi yang sama.
Puas dengan payudara tipis milik Yedam, Doyoung menyibak rok SMA dan menurunkan celana dalam si cantik.
Lubang merah bagaikan mawar itu nampak telah basah. "Katanya laki-laki? Kok punya memek?" Doyoung bertanya sambil mengurut vagina basah si cantik.
"Ngh! Ah, ah, ah!" Yedam kembali merasakan sensasi baru. Ini aneh, tapi memuaskan!
"Enak banget diginiin?"
Masih sama, Yedam hanya mendesah. Otaknya masih tak bisa memproses apapun yang terjadi.
"Ngh! Kak—h udah—hh," Yedam berusaha menghentikan Doyoung, ada sesuatu yang harus ia keluarkan.
Bukannya berhenti, Doyoung semakin kencang mengocok lubang vagina si cantik. Ia tersenyum miring ketika Yedam merengek memintanya berhenti.
Kegiatan keduanya berhenti ketika Yedam mencapai squirtnya. Doyoung meletakkan tubuhnya disamping Yedam yang tengah mengatur nafas. Ia pikir, ia tak perlu bermain juga, mungkin solo masih mampu ia lakukan.
"Tadi itu apa?"
Doyoung mendelik mendengar pertanyaan Yedam. Jadi anak ini masih polos? Oh, Ya Tuhan! Maafkan Kim Doyoung karena membuat anak manis itu melepas mahkotanya.
Belum sempat Doyoung menjawab, Yedam bermain disekitar perutnya membentuk pola yang abstrak sambil berucap; "enak, Kak. Mau lagi."
---
"Engh! Ah, ah, ah,"
Tubuh kecil yang masih terbalut seragam SMA—meski kancingnya telah terbuka—itu terhentak-hentak seiring pergerakan diatasnya. Bibir yang bengkak terus terbuka dengan liur yang perlahan mengalir keluar bersamaan suara desahan yang membuat seorang Kim Doyoung kecanduan.
Doyoung memompa miliknya didalam mawar si manis dengan brutal. Ini sensasi yang sangat memuaskan, menyenangkan, dan dirinya pun merasa bangga.
"Ah! Kakak—hh," Yedam terus mendesah. Tangannya mencoba meraih kepala Doyoung, ia ingin merasakan lagi bibir milik si dominan.
Doyoung mengecup singkat bibir itu. Namun nampaknya, si cantik sedikit tak puas. Yedam menarik paksa kepala Doyoung hingga bibir keduanya menempel lagi, Yedam menjilat sensual bibir itu.
Yedam menghentikan kegiatannya ketika sang dominan tak melakukan tugasnya. "Ih, kok berhenti?"
Doyoung tertawa kecil. Kemudian, kembali memompa miliknya. Membiarkan si manis mendesahkan namanya lagi. Ah, ini sangat candu, dan Doyoung menyukai ini.
"Hah... Ah, ah, ah, ahh,"
Bagi Doyoung, desahan nikmat yang keluar dari bibir Yedam adalah alunan merdu sebuah lagu dengan penyanyinya menggunakan suara tinggi namun candu.
"Kak—hh,"
Yedam sadar ada yang salah disini. Namun, tubuhnya terus merasa puas ketika sesuatu terdorong kedalam mawarnya. Yedam tidak tahu benda apa itu, yang jelas ini sangat menyenangkan.
"Cantik," lirih Doyoung terus menatap tubuh yang terhentak dibawahnya itu.
Tubuh yang masih terbalut seragam SMA, wajah dengan rona merah berkeringat, bibir yang terus menganga membebaskan liur berkeliaran kesekitar dagunya, bersamaan suara desahan sebuah nama, serta rok tersingkap dengan kaki mengangkang dan sebuah lubang yang serasa menyedot miliknya.
Doyoung merasa jika dirinya menggagahi gadis SMA. Hanya saja yang ia gagahi ini berjenis kelamin laki-laki, namun spesial.
Nampaknya klimaks akan segera menjemput keduanya. Doyoung dengan brutal mendorong-menarik miliknya keluar-masuk dari lubang merah si manis. Sedangkan, anak itu mendesah semakin kencang.
"Ngh!"
"Ah!"
Jika Yedam mendesah puas, maka Doyoung pun menggeram dengan puas.
Doyoung kini meletakkan tubuhnya disamping Yedam, melepas miliknya yang masih mengeluarkan sperma meskipun sedikit.
Yedam juga sama, ia mencoba bernafas dengan benar setelah kegiatan keduanya yang membuat nafasnya putus-putus. Perlahan, mata sipit bagai rubah miliknya itu tertutup. Nampaknya ia lelah.
Sayangnya, Doyoung tak mengizinkan. Laki-laki bermarga Kim itu menarik tubuh yang lebih kecil untuk duduk diatas miliknya. Memasukkan kembali kedalam mawar merah.
"Nghhh,"
Yedam sedikit merintih. Kedua tangannya bertumpu pada bahu lebar Doyoung. Pandangannya samar akibat mata yang lelah.
Iya, itu wajar. Ini sudah hampir tengah malam. Sedangkan, keduanya bermain sebelum pukul 9.
"Tirukan gerakan tanganku," dengan suara beratnya, Doyoung memberi arahan. Tangannya membantu tubuh Yedam untuk terangkat keatas. Kemudian, menarik kebawah untuk kembali melahap miliknya.
Yedam bergerak menunggangi Doyoung. Ia rasa, posisi seperti ini membuat milik sang dominan semakin menusuk kedalam.
Faktor lelah, Yedam memperlambat gerakannya. Tubuhnya ambruk diatas Doyoung. Doyoung tersenyum kecil, mengecup singkat dahi si manis. Kemudian menampar pantat kenyal Yedam.
Yedam yang terkejut otomatis membuka matanya. Ia tarik kembali tubuhnya untuk tegap. Telinganya menangkap samar-samar suara seseorang. Entah apa yang dibicarakan, yang jelas Yedam dipaksa untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Hingga sampai pada klimaks untuk ketiga kalinya, Yedam tak mampu lagi menahan tubuhnya yang terlanjur letih. Matanya tertutup sempurna bersamaan dengan rasa hangat didalam mawarnya.
Doyoung mengecup berkali-kali dahi penuh keringat itu. Membiarkan miliknya tetap tertanam didalam mawar Yedam. "Selamat tidur, calon ibu."
Doyoung menarik selimut sedikit sulit. Ia menutupi tubuhnya dan si manis dengan selimut. Kemudian Doyoung menyusul menjelajahi mimpi.
KAMU SEDANG MEMBACA
a dodam fanfict
General Fictionberisi cerita singkat dodam yang di arsip dalam satu buku 100% fiksi, bxb, mostly 18+, ngga suka skip aja, doy-dom, dam-sub jangan salah lapak!
