Pertama kali Satala mengenal Edo adalah saat cowok itu pindah ke sebelah rumahnya. Satala yang memang tidak memiliki teman sebayanya mengajak Edo berteman, tapi cowok itu adalah manusia paling sombong yang pernah dia temui.
Banyak sekali penolakan yang Edo berikan, bahkan sampai pernah menjepit tangan Tala mengunakan daun pintu karna cewek itu kerap berkunjung kerumahnya.
Hanya karna kurangnya teman, Satala rela di perlakukan jahat oleh Edo. Pun Kakek Edo yang menyemangatinya, dan mengatakan jika Edo adalah anak baik. Satala sih percaya saja, apalagi setelah kejadian Edo yang mendorongnya saat akan menaiki sepeda, cowok itu terlihat menyesal dan hampir menangis.
Dan, entah bagaimana mereka benar benar bisa berteman. Ya, walapun sikap Edo tetap cuek, kadang menjengkelkan, tapi Satala juga tetap keras kepala dan pemaksa.
Tiba-tiba Satala rindu masa kecil mereka, Walapun Edo kerap menolak berteman denganya, tapi cowok itu tidak terlihat jauh di matanya. Dan sekarang, walapun mereka berada di ruangan yang sama, tapi Edo tidak terasa nyata bagi Satala.
"Tugas?" tanya Satala. Dia sudah selesi membersihkan diri, lalu menghampiri Edo yang terlihat sibuk dengan laptopnya di meja ruang tengah.
Edo melirik sebenatar, lalu berdehem pelan.
"Mau buat teh?" tawar Satala dengan berjalan ke arah dapur. Sebenarnya dia kerap menginap di rumah Edo, apalagi setelah Kakek cowok itu meninggal dua tahun lalu. Namun, hawa malam ini terasa berbeda, mungkin efek situasi kurang enak tadi, atau pikiran Satala yang membayangkan Laluna juga kerap berkunjung dan menginap di rumah Edo.
Satala menghela nafas pelan, lalu menarik dua gelas dari lemari untuk membuat teh. Dia harus menghalau pikiran konyolnya, itu bukan masalah yang harus dia pikirkan. Edo sudah dewasa, lelaki itu bisa menetukan kebaikan untuk hidupnya sendiri.
"Nah..." Tala sodorkan satu gelas teh ke arah Edo, dan ikut bergabung duduk di sebelah cowok itu.
Edo mengucapkan terimakasih, lalu mereka sama sama terdiam dengan pikiran masing masing. Satala yang terlihat sudah bisa mengendalikan perasaanya, Edo yang merasa ragu saat akan berbicara. Akhirnya mereka hanya saling melirik.
"Soal waktu itu.." Edo membuka pembicaraan. "Aku mau mengakhirinya."
Tala mendelik dan menoleh cepat ke arah Edo.
"Aku dan Laluna."
"Kenapa?" tanya Satala masih dengan rasa kagetnya. Bukan karna dirinya, kan? Maksutnya, karna dirinya tak lagi mau bertemu cowok itu hampir sebulan ini, lalu Edo memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan istri orang itu.
"Ya karna hubungan kita memang nggak seharusnya terjadi."
Satala yang merasa tidak yakin pun dengan cepat merubah duduknya dengan mengahap Edo sepenuhnya, meminta cowok itu segera menjelaskan semuanya.
"Kamu tau kan dia sudah bersuami?"
Tala mengangguk cepat, tapi bukan itu poinya.
"Dulu aku nggak berfikir dia punya suami." mulai Edo dengan mengingat awal dia bertemu Laluna. Saat itu, Bengkel sedang tidak ada orang selain dirinya, lalu datang seorang perempuan dengan wajah panik. Dia Laluna, perempuan itu cemas karna mobilnya tidak mau menyala, padahal baru di perbaiki. Edo yang merasa kasihan pun akhirnya membantu, toh dia pemilik bengkel, juga dia tau cara memperbaiki mobil. Ya, walapun Edo sendiri tau Laluna bukanlah pelanggan bengkelnya, tapi tidak ada salahnya membantu.
Setelah masalah mobil selesai, entah kenapa pertemuan mereka berlanjut. Apalagi setelah Edo membuka cafe di atas bengkelnya, Laluna kerap nongkrong di sana sembari memantau butiknya.
Awalnya biasa saja. Namun, satu kata sapaan berubah menjadi obrolan, sampai Laluna bercerita jika sedang bermasalah dengan suaminya, dan berencana bercerai. Lagi-lagi karna rasa kasihan sebagai sesama manusia, Edo merengkuh Laluna yang saat itu terlihat begitu sedih. Sampai, entah bagaimana mereka memulai hubungan karna rasa nyaman.
Edo yang memerlukan kasih sayang karna di tinggal orang tuanya sejak kecil lalu bertemu Laluna yang menurutnya sangat dewasa dan bisa mengerti dirinya. Juga Laluna yang begitu baik dan selalu mengutakamanya. Pun Laluna yang merasa kebimbangan atas suaminya, lalu bertemu Edo yang memahami keresahannya.
Dan, kemarin Laluna mengatakan ingin mengakhiri hubungan mereka, perempuan itu merasa hilaf telah menghianati suaminya.
"Dia mau rujuk sama suaminya."
Satala mendadak menjadi sedih setelah mendengar cerita Edo. Dia perhatikan sahabatnya itu yang terlihat berusaha baik-baik saja.
"Maaf." ujar Satala. Dia merasa menyesal memusuhi Edo selama ini, apalagi ternyata hubungan cowok itu dengan istri orang itu tidaklah baik.
Edo menggeleng, pertanda jika Satala tidak harus mengatakanya. Bagaimanapun itu adalah kesalahannya sendiri, walapun dia mencintai Laluna dan berharap bisa bersama perempuan itu di kemudian hari, tapi dia juga harus pasrah akan keputusan Laluna jika ingin kembali pada suaminya.
"Tapi dia jahat kalau gitu." mendadak Satala berubah sinis. Jika akhirnya perempuan itu akan kembali pada suaminya, lalu kenapa menyeret Edo masuk ke dalamnya?
Ihh.. Satala menjadi sanksi jika Laluna adalah perempuan baik seperti cerita Edo.
Ck! Mana ada perempuan baik yang berselingkuh, apalagi meninggalkan selingkuhanya saat sedang sayang- sayangnya.
Edo terkekeh melihat Satala yang sudah kembali seperti biasa, bukan dengan wajah dingin seperti yang dia temui terkhir itu.
"Kok ketawa? Seharusnya kamu marah dong, tuntut dia. Dia itu cuma jadiin kamu pelampiasan."
"Tapi sekarang aku udah lega."
"Lega?"
Edo mengangguk. Selama ini dia memang senang mendapat pacar seperti Laluna, apalagi perempuan itu penuh perhatian. Tapi, pundaknya juga terasa berat. Mungkin karna Laluna belum menyelesaikan hubunganya dengan suaminya, juga hubungan mereka yang harus sembunyi-sembunyi.
"Lega karna kamu udah kaya dulu lagi, dan mau denger ceritaku."
Sorry for typo
Luvv❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Fri&s
Historia CortaPertemanan antara laki laki dan perempuan akan berhasil, jika keduanya tidak pernah memandang satu sama lain sebagai lawan jenis. Tapi bagaimana jika Sitala berulah dengan memandang Edo seperti itu? Sampai rasa yang tak boleh ada muncul, dan rahasia...
