Empat

1.6K 96 3
                                        

Satala gelisah dalam duduknya, apalagi saat Edo menatapnya tajam. Dia ingin berlari, tapi tanganya dicekal cowok itu dengan sangat kuat.

"Kamu liat apa waktu itu?" tanya Edo setelah mereka berpindah di taman belakang yang sepi.

"Liat apa, sih?" Satala membuang wajah. Bayang bayang itu kembali di otaknya.

"Kamu liat aku sama Luna kan?"

Satala menegang sebentar. "Apa sih, liat apa? Luna siapa nggak tau."

"Tala, aku kenal kamu sejak kecil. Liat aku kalau jawab."

Dengan cepat Satala menoleh, membalas tatapn Edo yang menghunusnya. Tapi saat pandanganya jatuh pada bibir tebal Edo, dengan cepat dia memalihkan muka kembali.

Ahhh, ini dia kenapa, sih!?"

"Minggir minggir, kelasku sebentar lagi. Aku mau pergi." Satala mencoba menarik tanganya. Bisa bahaya jika dia berlama lama dengan cowok di sebelahnya itu, otaknya tidak bisa bekerja dengan benar.

Juga jantungnya, kenapa berdetak lebih kencang!

"Yang kamu liat itu bener."

Satala mendelik mendengar Edo yang tiba tiba mengaku.

"Kamuu..?"

"Iya. Aku sama Luna kita-"

"Stopp!!" potong Satala bergerak mundur, memberi jarak anatara keduanya. "Aku nggak mau denger, aku nggak mau denger!"

"Tapi aku punya alasan, La. Kamu harus denger aku dulu."

Dengan cepat Satala menggeleng. Matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganya, sebentar lagi kelas akan berlangsung. Kelas? Hem, Satala tidak tau, dia bahkan tidak berfikir ada kelas hari ini, tapi yang Tala inginkan hanya pergi dari hadapan Edo sekarang juga.

Kemarin dia penasaran setengah mati, sampai mencari tahu dan menemukan fakta yanng mengotori mata juga jiwanya. Dan sekarang, dia mendapat pengakuan yang di luar batas nalarnya.

Dia cemburu, hatinya sakit, dadanya bergemuruh marah, entah rasa apa yang Tala rasakan saat ini.

Tanpa mendengar kembali pengakuan tidak jelas dari Edo, Tala berlari pergi. Dia harus menemui Rika. Tidak, tidak, jangan Rika. Lebih baik dia pulang. Pulang? Rumahnya dan Edo sangat dekat, itu juga bukan pilihan bagus. Yang terpenting dia pergi dulu sekarang, entah kemana asal menjauh dari Edo dan tidak melihat lelaki itu. Mungkin dengan jarak waktu tidak di tentukan.

..

"Kok Edo nggak pernah keliatan, ya?" celetuk Rika saat kelas terakhir usai.

Tala yang sibuk membereskan bukunya menaikan pundak tidak tau. Dia memang benar benar tidak tahu, juga tidak mau tahu. Terakhir pertemuanya dengan Edo adalah saat mereka membahas tentang Laluna satu bulan lalu, dan sekarang Satala tidak lagi mendengar kabar lelaki itu.

Mereka memang bertetangga, tapi Satala tidak melihat tanda tanda cowok itu di rumah. Ingin berkunjung juga Tala malas, dia belum siap bertemu Edo. Ibunya juga tidak kepo atau menyuruhnya untuk mengatarkan makanan ke rumah Edo, seperti tau jika anaknya dan tetangga mereka itu memiliki masalah.

"Emang dia nggak hubungin kamu?" tanya Rika lagi. Mereka kini sudah keluar kelas, tujuanya tentu akan ke kantin. Perut Satala sudah lapar dan dia mau mati rasanya. Pak Petrus memang gila jika soal waktu tambahan kelas tanpa pemberitahuan.

Hah! Kenapa di ceritanya berisi orang orang gila. Dirinya yang gila makan, Rika yang gila makanan sehat dan kepo, pak Petrus gila dalam memakan waktu mahasiswanya, lalu mbak-mbak gila yang menamparnya di depan anak anak kampus. Juga Edo yang gila istri orang.

Eh!

"Ta, apaan, sih, geleng geleng?" Rika dengan cepat memukul pundak Satala. Apa-apaan sih gadis itu, bukannya berterimakasih pada Bu Jum karna makanan mereka sudah tersaji, kini malah mengelengkan kepalanya seperti orang sedang dugem.

"Ngobat kamu?" celetuk Bu Jum yang juga tidak habis pikir.

"Iya nih, Bu. Dari tadi aneh. Di kelas ngang ngong ngang ngong, di sini geleng geleng. Sarap emang dia, Buu.."

Satala mendengus saat dirinya menjadi bahan gibah. Helloo! Orangnya bisa denger ini! Manusia jaman sekarang sukanya membicarakan orang lain tanpa bercermin, padahal wajahnya nggak lebih burik ketimbang opet.

Ihh..

"Aku tu lagi banyak pikiran." aku Satala ketika Bu Jum sudah berlalu dengan tawa khasnya yang melengking.

"Edo?"

"Ihh, bukan ya!" delik Tala. Kenapa jadi cowok itu? Tentu bukanlah, mana mungkin Tala memikirkan Edo yang, yang... itu pokoknya! Satala itu banyak pikiran karna hal lain, hal lain yang entah apa. Mungkin harapan melihat seseorang dari balik jendela kamarnya, atau pura pura ada urusan di perpustakaan agar melewati gedung kampus sebelah?

Ahh, entahlah.

Satala menolak mengakui jika di memikirkan Edo Argawinata, tentu dia memikirkan pacarnya yang sekarang. Pacar yang dia temui di aplikasi kencan online. Aihh, dia jadi rindu Bagas, pacar virtualnya yang ke 47.

"Iya juga nggak papa kalik, Ta. Dia juga kemarin nanyain kamu."

"Ihh, iya tah?!"

"Tuuhh, kan.." goda Rika

Satala mencebik, apaan sih, nggak jelas.

"Kalau rindu ngomong dong, dia juga tuh kayaknya. Tanya kamu terus."

Hemm, Rindu? Nggak deh, makasih. Setelah pengakuan Edo, Satala sudah tidak menaruh respek pada cowok itu. Padahal, saat kecil dulu Tala pernah di dorong oleh Edo hingga kakinya keseleo dan tidak bisa jalan selama dua hari pun dia biasa saja. Tapi sekarang, rasanya Edo bukanlah Edonya Tala, Edo sudah berubah.

Dan soal perasaanya yang entah muncul sejak kapan itu, Tala sudah bisa mengendalikannya. Toh rasa sukanya belum begitu besar, sepertinya.


Sorry for typo

Luvv❤❤

Fri&sTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang