"Apa yang kau lakukan, Evans. Jangan bertindak tidak sopan, ingat, aku adalah gurumu!" -Naraya-
"Di sekolah, kamu memang guruku. Tapi di atas ranjang, kamu adalah istriku. Ingat itu, Naraya!" -Evans-
Follow akun Wattpad ini sebelum baca!
Follow Inst...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cerita ini sudah tamat di Karya Karsa: Wihelmina Miladi dan e-book.
Evans dengan susah payah menelan air liurnya, nafasnya memburu, dadanya bergemuruh, seluruh tubuhnya mendadak panas padahal ruangan itu ber-AC.
"Jangan dilihatin terus, aku malu tahu!" protes Nara membuat Evans terkekeh.
"Kamu cantik banget, Ra. Aku bersyukur bisa menjadi suamimu."
Pagi harinya Nara terbangun dengan badan yang terasa ngilu, apalagi bagian bawahnya masih terasa aneh. Dia tersipu malu sendiri mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Bagaimana bisa Nara mengeluarkan suara-suara seperti itu, dan betapa panasnya malam pertama mereka.
Nara melirik Evans yang terlihat masih tertidur dengan begitu pulasnya. Kemudian dengan tertatih karena dengul rasanya lemas, badan remuk, dan pinggang seperti mau patah. Nara membereskan pakaian yang berserakan di lantai. Dia kemudian mengambil handuk dan baju ganti. Nara mandi dan tidak lupa keramas, ia kaget melihat tubuhnya dipenuhi tanda-tanda kepemilikan dari Evans.
.
.
.
(Part dewasa dihapus, part lengkap bisa dibaca di karya karsa, e-book, atau novel cetak)
.
.
.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Nara langsung mengeringkan rambutnya. Setelah itu ia membangunkan suaminya untuk makan, karena Nara sudah meminta pada staff hotel untuk mengantar sarapannya ke kamar.
"Vans, bangun. Mandi dulu gih, habis itu kita sarapan." Nara mengguncangkan tubuh Evans.
Evans hanya mengerang tapi masih memejamkan matanya, dia merasa malas bangun.
"Euhh ...."
"Bangun, kebo banget sih kamu tidurnya." Nara terus berusaha membangunkan Evans. Mau tidak mau Evans membuka matanya biarpun terlihat masih mengantuk.
"Sayang, kok kamu udah cantik aja sih?"
"Iya dong, emangnya kamu dari tadi molor terus," ujar Nara.
"Yah, kamu udah mandi, padahal aku pengin mandi bareng sama kamu."
"Untung aja aku udah mandi, kalau mandi bareng sama kamu yang ada nantinya makin remuk badan aku."
Ucapan Nara membuat Evans tertawa, memang bisa dipastikan Evans akan meminta jatah pagi pada Nara. Sedangnya wanita itu benar-benar lelah, badannya sakit.
"Tahu aja kamu, aku mandi dulu deh. Sarapan bareng yah, tunggu aku."
"Iya, aku tungguin, tapi jangan lama-lama yah. Takut makanannya dingin."
"Siap, Sayang."
Evans melenggang pergi dengan wajah tersenyum, dia merasa hatinya berbunga karena semalam telah merasakan yang namanya surga dunia. Setelah selesai mandi keramas, Evans langsung menghampiri Nara yang duduk di sofa dengan hidangan makanan di meja.
Evans terlihat begitu tampan setelah mandi, apalagi rambut basah setelah keramasnya itu membuat Evans terlihat lebih menawan.
"Vans, keringin dulu rambutnya, nanti sakit kepala loh."
"Males, Yang. Nanti juga kering sendiri, mending kita sarapan."
"Sini aku keringin bentar, gak akan lama."
Nara mengambil handuk dan menggosok kepala Evans. Seketika senyuman merekah menghiasi bibir Evans, ia menatap lekat istrinya yang begitu telaten dan lemah lembut mengeringkan rambut Evans dengan handuk kemudian dengan pengering rambut.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Nara saat melihat Evans tidak berhenti tersenyum.
"Rasanya hatiku berbunga-bunga banget. Kadang aku bertanya-tanya, kebaikan apa yang pernah aku lakukan sampai-sampai bisa memilikimu sebagai istriku."
Mendengar ucapan Evans membuat Nara malu, tapi dia kemudian menepuk pundak Evans.
"Jago banget gombalnya, belajar dari siapa? Elvano yah?" ujar Nara.
"Loh, kok gombal sih. Aku serius, Sayang."
Evans ngambek karena ungkapan tulusnya malah dianggap gombalan semata. Padahal dia benar-benar tulus mengatakan itu. Evans sangat bersyukur bisa menikah dengan Nara.
"Kok kamu jadi manyun gitu sih? Ngambek nih ceritanya?" goda Nara.
"Habisnya kamu sih, orang aku tulus malah disangka gombal." Evans merajuk seperti anak kecil. Melihat tingkah manja suami bocilnya, Nara tidak kuasa menahan tawa.
"Uluh-uluh, suami bocilnya siapa sih ini?" goda Nara sambil tertawa.
"Sayang ih, mana ada bocil melakukan adegan dewasa seperti yang kita lakukan semalam."
"Iya-iya, udah dong jangan ngambek lagi. Mending sekarang kita makan."
"Hmm, tapi suapin," rengek Evans manja.
"Tangan kamu 'kan ada."
"Aku 'kan pengin mesra-mesraan sama kamu. Masa gitu aja gak boleh."
"Hah, oke deh, sini aku suapin."
"Yes!"
Evans terlihat kegirangan, pada akhirnya Nara makan sambil menyuapi Evans. Dia merasa seperti sedang mengasuh bayi saja, karena Evans persis seperti bayi besar.
FYI, cerita ini sudah tamat, bisa dibaca lengkapnya di Karya Karsa atau e-book.