Epilogue

1.6K 139 13
                                        

Jennie bukanlah orang yang impulsif. Di antara dia dan Lisa, dia adalah orang yang lebih masuk akal. Langkah-langkahnya selalu diperhitungkan, selalu tepat sasaran. Setiap keputusan yang ia ambil, selalu melalui serangkaian pemikiran tentang resiko dan kemungkinannya. Itulah yang membuatnya menjadi wanita yang sukses, dan itulah mengapa orang-orang selalu mengaguminya.

Namun, sama seperti setiap orang, Jennie juga memiliki kelemahan.

Bukan karena strata tingginya atau hal-hal lelucon. Kelamahannya adalah Lisa, istrinya, makhluk yang paling berharga di seluruh alam semesta.

Dan semua orang tahu itu. Mungkin karena itulah beberapa orang tidak terlalu terkejut ketika mengetahui bahwa Jennie mengorbankan nyawanya sendiri untuk melindungi wanitanya.

(Dan mungkin karena itulah mereka berpaling untuk memperhatikan Lisa, untuk menyalahkannya atas hal-hal yang tidak dapat dikuasainya. Mereka tidak dapat menyakiti Jennie karena mereka mencintainya. Tapi mereka bisa menyakiti Lisa, orang yang mereka pikir telah menyakiti Jennie yang mereka cintai).

Kelemahan Jennie datang dengan keputusasaan, dan keputusasaan memunculkan sisi-sisi yang tidak seimbang, tidak masuk akal, dan tidak logis bagi dirinya.

"Jen, kamu tidak boleh melakukan ini. Kamu tidak boleh menambah kebohongan lagi. Dia sudah cukup menderita." Rosè mengatakan padanya suatu hari.

"Kau baru saja mengatakannya. Istri ku sudah banyak merasakan penderitaan, dan aku tidak ingin hanya duduk diam di sini dan menunggunya mati. Begitu dia keluar, dia akan menempatkan dirinya lagi dalam ruang isolasinya. Lalu apa? Dia akan mati kelaparan? Aku tidak mau mengambil risiko itu. Tidak lagi."

"Jadi kamu akan masuk ke dalam kehidupannya begitu saja? Berpura-pura menjadi bagian dari beberapa... program service person?"

"Ya."

"Tapi kau akan berbohong padanya, Jen."

Tentu saja, Jennie tidak ingin berbohong. Dia tidak ingin membuat cerita palsu. Namun, dia juga tidak mencari persetujuan Rosè karena dia putus asa, dan orang yang putus asa biasanya melakukan hal-hal bodoh.

Jadi saat Lisa keluar dari rumah sakit, Jennie sudah menyempurnakan rencananya dengan bantuan Jisoo. Mereka membuat manual, skrip, dan semua yang perlu dilakukan untuk membuat Lisa percaya... kecuali satu hal.

"Kami harus memindahkannya ke klinik mu, Jisoo."

"Aku sudah berbicara dengan Chaeng tentang hal itu."

"Dan?"

"Dan Dia bilang iya. Dia akan meyakinkan Lisa."

Tidak butuh waktu lama bagi Chaeyoung untuk meyakinkan Lisa, karena beberapa hari kemudian, dia sudah berada di klinik Jisoo dan semuanya berjalan sesuai rencana. Pada malam yang sama, Jennie akhirnya mengetuk pintu apartemen Lisa dan bertemu dengan mata istrinya yang kini berambut pirang yang sudah lama ia rindukan.

"I'm Jennie, your girlfriend."

Jennie berpura-pura tidak terluka ketika foto Irene yang tergantung di dinding Lisa. Dia berpura-pura tidak menatap mata Lisa yang tidak penuh kasih atau ketika Lisa melihatnya sebagai orang asing. Dia berpura-pura baik-baik saja, mengesampingkan rasa sakitnya, semua untuk Lisa.

Beberapa hari pertama terasa berat, Lisa terasa jauh dan Jennie hanya bisa melihat dari jauh. Dia memasak semua makanan yang Lisa sukai, melakukan semua hal yang Lisa sukai, menyanyikan lagu-lagu yang Lisa sukai, dia bahkan membawa Leo kembali karena dia tahu betapa Lisa sangat menyayangi kucing pemarah itu.

Melihat mata Lisa berbinar-binar saat ia melihat Leo sepadan dengan pertengkarannya dengan Chaeyoung, yang saat itu sedang merawat Leo, yang menyebabkan si pirang lainnya secara tidak sengaja melemparkan seember cat merah ke sekujur tubuhnya. (Ya, itu bukan lumpur dan darah seperti yang Lisa pikirkan. Itu hanya kucing. Leo tidak mencuri ikan tuna yang dibeli Jennie. Dan ya, Jennie tidak jatuh ke dalam selokan).

Medicine (JENLISA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang