"Nalaaaaa..."
Suara teriakan terdengar bersama dengan terbukanya pintu kamar milik Nala. Terlihat sosok sang Papi dari sela pintu.
"Apa sih Pi?" Tanya Nala dengan malas.
"Bajumu yang mana? biar sama Papi siapin."
Papinya ini, rempong. Masih ada empat jam lagi, tapi Gardana sudah sibuk menyiapkan printilan untuk makan malam nanti.
"Pi, masih lama. Ini masih sore lho. Aku juga baru pulang dari kampus, mau mandi dulu."
"Ya tapi kan kalo udah disiapin ga repot nanti."
"Ga perlu repot Pi. Aku pakai baju yang ada di lemari aja."
"Kamu tuh, kita mau makan malam bareng keluarga calon suamimu. Apa salahnya untuk prepare dari sekarang?"
"Nala paham, Papi pasti seneng banget kan Nala mau menikah. Nala juga seneng Papi mau repot-repot ngurusin Nala. Tapi ini kan cuma makan malam biasa Pi, bukan acara pertunangan atau apapun itu."
Papi mengerucutkan bibirnya, kesal. "Ya udah, Papi ga ikut campur lagi deh." Ujarnya lesu.
"Haaaaaaaaahh.. " Nala menghela nafas panjang. "Gimana Papi aja lah." Nala mengalah. Membiarkan Papinya melakukan apapun yang membuat omega kesayangannya itu senang.
Bibirnya melengkung. Wajah yang tadinya suram kini terlihat bercahaya dan bersemangat. "Nah, gitu dong. Baru Nalanya Papi."
"Oh, jadi kalau tadi Nala gak nurut berarti Nala bukan anak Papi ya?" Nala menggoda sang Papi.
"Yaaaa, anak Papi sih. Cuma..."
"Cuma apa, hmm?"
"Gak tau ah. Udah pokoknya kamu sekarang mandi sana, terus nanti kita berangkat bareng."
"Iyalah berangkatnya bareng, emangnya Papa bawa mobil sendiri apa dari Indo?" Ujar Nala sambil cekikian.
"Kamu, YA!!"
"Aarghh.." Hampir saja lemparan bantal mengenai kepala Nala. Sang Papi terlihat semakin kesal mendengar perkataan Nala tadi.
Dengan masih cekikikan, Nala lari kecil menuju kamar mandi. Kabur dari amukan sang Papi.
Nala kini sudah bertelanjang bulat. Maniknya menatap pantulan dirinya di kaca. Bekas luka operasi yang membentuk garis yang sedikit melengkung itu terlihat jelas di bagian bawah perutnya. Tangan Nala mengelus luka itu perlahan. Rasa sakit dari luka itu memang sudah tidak ada lagi, tapi rasa sakit lainnya masih bisa Nala rasakan.
"Yoga, Yoda, apa ini keputusan terbaik untuk Mama?"
Anala sebenarnya tidak mau ambil pusing soal acara makan malam ini. Toh, paling hanya membahas keseriusan Eckart dan juga dirinya, lalu soal pertunangan dan juga acara pernikahan. Mungkin jika memang harus dibahas, mereka akan membahas masa lalu masing-masing dari Eckart dan juga Anala, supaya kedepannya masa lalu ini tidak memicu hal buruk dikemudian hari. Dan Nala sudah siap untuk membuka semuanya di hadapan seluruh Landyn.
Nala tidak akan ragu lagi, toh keduanya sama. Sama-sama ditinggal pergi orang yang mereka cinta untuk selamanya, bahkan Eckart jauh lebih menderita menurutnya. Tidak ada yang tidak mempunyai luka, semuanya punya, tapi Nala yakin, setiap manusia pasti punya caranya sendiri untuk menyembuhkan luka itu.
Mungkin Eckart mendekatinya supaya tidak terus-menerus teringat akan Fated Pairnya, sedangkan Nala, menerima Eckart untuk membuka lembaran baru di kehidupannya. Keduanya saling memanfaatkan, walaupun sebenarnya tujuan Eckart tidak bisa dibenarkan, tapi mungkin inilah bentuk usaha Eckart untuk lepas dari keterpurukannya dan dengan seiring berjalannya waktu, dengan melihat keseriusan Eckart, Nala dapat menerima hal itu. Nala pun yakin, sekarang Eckart mencintainya, bukan karena ketertarikan pheromone antara omega dan alpha ataupun untuk lepas dari masa lalunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moving On (BL - Omegaverse) - END
RomanceBook 2/3 - Let Go Trilogy Berlatar belakang "Omegaverse", dimana selain laki-laki dan perempuan ada gender kedua yaitu Alpha, Beta dan Omega. Karena berlatar omegaverse, jadi dalam cerita ini, baik laki-laki maupun perempuan, dua-duanya bisa hamil...
