Chapter 15 - End

664 19 2
                                        

Kehamilan Anala menjadi kabar yang membawa kebahagiaan tak terhingga bagi keluarga Wicaksana. Setelah perjalanan panjang penuh liku, berita itu menjadi simbol harapan baru yang menyatukan seluruh keluarga. Sang Papi, Gardana, yang biasanya jarang menunjukkan sisi emosionalnya, sering berkata bahwa ini adalah hadiah terbesar yang pernah diterima keluarga mereka. Di sudut lain, Aelius, adik Anala, dengan antusias telah mempersiapkan diri menjadi paman terbaik untuk keponakannya. Bahkan Nuri, yang biasanya sibuk dengan dunianya sendiri, terlihat tak sabar menyambut kehadiran adik-adiknya.

Namun, malam itu suasana di rumah besar Wicaksana dipenuhi ketegangan. Tanda-tanda melahirkan muncul lebih cepat dari perkiraan dokter. Anala yang awalnya terlihat tenang mulai menunjukkan ketidaknyamanan. Semua orang segera bergerak cepat, membawa Anala ke rumah sakit. Jalanan malam yang biasanya terasa lengang kini seolah memendek karena kekhawatiran yang memenuhi hati keluarga itu.

Di ruang tunggu rumah sakit, udara terasa berat. Gardana mondar-mandir tanpa henti, ekspresinya cemas. Sesekali ia melirik jam dinding, seperti berharap waktu berjalan lebih cepat. "Kenapa belum ada kabar juga?" gumamnya, suaranya penuh tekanan.

Aelius mencoba menenangkan. "Ayo duduk dulu, Pi," katanya lembut. Meski begitu, nada suaranya sendiri terdengar gelisah. Ia duduk dengan tangan mengatup di lutut, pikirannya melayang pada percakapan terakhirnya dengan Anala di ruang keluarga mereka berbulan-bulan yang lalu. Kata-kata kakaknya kini terasa begitu nyata, membawa harapan dan ketakutan sekaligus.

Nuri, yang biasanya ceria, kini duduk diam di sudut ruangan bersama pamannya, Elatha. Mata kecilnya menatap pintu dengan penuh harap, seolah-olah kapan saja Eckart akan muncul membawa kabar baik. Namun, yang ada hanya keheningan panjang yang semakin menyiksa.

Akhirnya, setelah berjam-jam yang terasa seperti seumur hidup, Eckart muncul di pintu ruang persalinan. Wajahnya kelelahan, tetapi sinar kebahagiaan terpancar jelas di matanya. "Anala baik-baik saja," katanya, suaranya pelan namun cukup jelas untuk membuat semua orang di ruangan itu menghela napas lega. "Kami dikaruniai bayi-bayi yang sehat."

Sorakan kecil terdengar, dan air mata kebahagiaan memenuhi ruangan. Namun, sebelum suasana benar-benar tenang, Eckart melanjutkan dengan senyuman penuh keterkejutan. "Dan... ternyata mereka kembar tiga!"

Ruangan itu terdiam untuk beberapa detik yang terasa panjang sebelum akhirnya pecah oleh seruan kegembiraan dan keterkejutan.

"Kembar tiga?!" Gardana hampir menjatuhkan ponselnya. "Ya Tuhan, Anala dan Eckart, ini berita yang luar biasa!"

Aelius terpaku di tempatnya, matanya melebar. "Aku pikir kalian hanya bilang akan punya dua anak!"

Eckart tertawa kecil meski kelelahan terlihat jelas di wajahnya. "Kami juga kaget... ternyata ada satu yang 'sembunyi' selama ini."

Nuri melonjak dari kursinya dengan mata berbinar. "Aku jadi punya tiga adik sekaligus!"

---

Di kamar rumah sakit, suasana berbeda. Hening dan damai. Anala terbaring dengan wajah lelah, tetapi senyumnya memancarkan kebahagiaan. Di pelukannya, dua bayi mungil tidur tenang, napas mereka yang lembut menjadi musik indah bagi Anala dan Eckart. Di sampingnya, Eckart memeluk bayi lainnya. Tangannya yang besar menggenggam lembut tangan Anala, seolah ingin mengatakan bahwa ia ada di sana untuknya, selalu.

Ketukan pelan di pintu membuyarkan keheningan. Aelius masuk, diikuti oleh Elatha. Wajah Aelius tampak bimbang, seperti sedang menahan sesuatu. Anala tersenyum, mencoba menghapus keraguan yang terpancar jelas dari wajah adiknya. "Ael, kemarilah," ujarnya lembut.

Aelius mendekat, duduk di tepi tempat tidur. Ia menatap bayi-bayi itu dengan mata berkaca-kaca. "La... mereka ganteng-ganteng, cantik juga," bisiknya, suaranya bergetar.

Moving On (BL - Omegaverse) - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang