Acara keluarga telah selesai sejak beberapa jam yang lalu. Keluarga besar yang semula ramai kini mulai kembali ke rumah masing-masing, menyisakan keheningan yang menyenangkan di kediaman Wicaksana. Di ruang keluarga, Eckart tengah memeluk Nala dengan lembut, mengecup pucuk kepala istrinya yang kini baru memasuki trimester pertama kehamilannya. Momen ini terasa sempurna, setidaknya bagi mereka berdua.
“Aku lapar,” rengek Nala sambil menyandarkan kepalanya di bahu Eckart.
“Mau makan apa, hmm?” tanya Eckart lembut, tangannya dengan sabar mengusap perut Nala yang membuncit.
Nala menatap layar televisi yang sedang menayangkan film favorit Eckart. “Pecel lele. Sepertinya enak.”
Eckart mengernyit, mengulangi permintaan itu dengan aksen Amerikanya yang khas. “Pecel lele?”
Nala mengangguk sambil tersenyum kecil. “Ya. Itu ikan lele goreng. Dimakan dengan sambal yang pedas.”
“No, no spicy food. Kamu makan yang lain, ya?” Eckart mencoba membujuk, mengingat pesan dokter agar Nala tidak mengonsumsi makanan pedas untuk menghindari masalah pencernaan selama kehamilan.
Nala cemberut, bibirnya mengerucut lucu. “Cuma pecel lele, padahal…” gumamnya pelan, merasa sedikit kecewa.
Eckart terkekeh. Ada sesuatu yang menyenangkan melihat istrinya mengambek seperti ini. Tapi sebelum ia sempat menggodanya lebih jauh, suara lain terdengar dari arah pintu masuk.
“La…” suara lembut namun lelah memanggil.
Nala menoleh dan langsung berdiri dengan antusias. “Al, kenapa baru datang?” tanyanya, langsung menghampiri Aelius, adiknya yang baru tiba. Wajah Aelius tampak lelah, tapi senyuman kecil tersungging di bibirnya. Di belakangnya, Elatha, tunangannya, mengikuti dengan tenang.
“Tadi aku nungguin Atha dulu, makanya lama. Sorry, ya,” jawab Aelius sambil melepaskan jaketnya.
“Ayo duduk dulu,” ajak Nala sambil merangkul pundak Aelius. Mereka berjalan ke sofa, dan Nala langsung mendudukkan adiknya di sampingnya. “PAAAAAPIII, ada dedek Al niiih,” teriak Nala, suaranya nyaring memanggil sang Papi, Gardana, yang sedang sibuk di dapur.
Gardana keluar dengan celemek yang masih terpasang. “Al! Sudah sampai, nak?” sapanya hangat sambil menghampiri mereka.
Aelius tersenyum kecil. “Tau nggak, aku tuh kangen sama kalian semua,” katanya pelan, suaranya terdengar tulus.
Namun, ada sesuatu dalam ekspresi Aelius yang membuat Gardana, dan bahkan Nala, sedikit khawatir. Ada sorot kesedihan di matanya yang tidak biasa. Tidak ingin merusak suasana, Nala mencoba mencairkan suasana dengan candaan.
“Dengar tuh, Pi. Dedek Al kangen. Mungkin dia cuma rindu makan masakan Papi Gardana,” godanya sambil tertawa kecil.
Namun tawa itu tidak sepenuhnya menghapus kecemasan yang mengendap di hatinya. Sebagai kakak, Nala selalu bisa merasakan jika sesuatu mengganggu pikiran Aelius, meskipun adiknya itu berusaha menyembunyikannya. Dan malam itu, dia tahu ada sesuatu yang sangat besar yang sedang dipendam oleh Aelius.
###
Setelah makan malam sederhana bersama, suasana rumah kembali sunyi. Eckart dan Elatha telah mengobrol di beranda, sementara Gardana kembali ke dapur untuk membereskan sisa-sisa makanan. Tinggallah Nala dan Aelius di ruang keluarga.
“Kamu kenapa, Al?” tanya Nala tiba-tiba, suaranya lembut namun penuh perhatian. Dia tahu, jika dibiarkan, Aelius tidak akan pernah menceritakan apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya.
Aelius terdiam, menatap kosong ke arah cangkir teh di tangannya. Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya membuka mulut. “La…” suaranya terdengar berat, penuh emosi yang tertahan. “Aku kehilangan bayiku…”
Dunia Nala seolah berhenti sejenak. Walaupun Nala sudah tahu semuanya, tapi mendengar kata-kata itu langsung terucap dari bibir sang adik, tak bisa dipungkiri, kata-kata itu tetap menghantamnya seperti gelombang pasang yang tak terduga. Dia tahu Aelius sedang menantikan kelahiran anak pertamanya dengan penuh semangat. Dia tahu betapa besar cinta Aelius untuk calon bayi itu. Dan sekarang…
Nala tidak tahu harus berkata apa. Tangannya refleks meraih tangan Aelius, menggenggamnya erat. “Kenapa? Apa yang terjadi?”
Aelius menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Aku… terlalu stress, La. Kuliah, penelitian, semuanya terlalu berat. Aku tahu aku harus berhenti, tapi aku nggak bisa. Aku terus memaksa diriku sendiri… sampai akhirnya…” Dia menunduk, air matanya mulai menetes. “Aku bahkan nggak sempat menyelamatkan dia…”
Nala tidak bisa menahan air matanya sendiri. Dia merangkul adiknya erat, membiarkan Aelius menangis di bahunya. “Al… kenapa kamu nggak bilang dari awal? Kenapa kamu memendam semuanya sendiri?”
“Aku nggak mau bikin kalian khawatir… bahkan Atha nggak tahu. Aku nggak mau dia merasa aku menyalahkan dia atau apapun.”
Nala terdiam sesaat. Dia tahu Aelius adalah tipe orang yang selalu berusaha menjaga perasaan orang lain, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Tapi ini terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.
“Al…” Nala menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum berkata. “Kalau kamu butuh waktu untuk sembuh, kami semua di sini untuk kamu. Kamu tahu itu, kan?”
Aelius mengangguk pelan, meskipun air matanya terus mengalir. Ada sesuatu yang terasa sedikit lebih ringan setelah dia mengungkapkan semuanya. Namun, Nala tahu itu tidak cukup. Dia harus melakukan sesuatu.
###
Malam itu, Nala berbicara dengan Eckart di kamar mereka.
“Al butuh lebih dari sekadar dukungan kita. Dia butuh sesuatu yang bisa mengembalikan semangatnya,” kata Nala pelan, sambil menatap suaminya dengan serius.
Eckart mengernyit, mencoba memahami maksud istrinya. “Kamu mau apa?”
Nala terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Aku ingin memberikan salah satu bayiku untuk Al.”
Eckart terkejut. “Nala… kamu serius?”
“Aku tahu ini keputusan besar. Tapi aku tidak bisa melihat Al terus seperti ini. Aku tahu dia dan Atha sangat ingin menjadi orang tua. Dan aku… aku merasa ini hal yang benar untuk dilakukan.”
Eckart terdiam lama, memikirkan ucapan istrinya. Akhirnya, dia mengangguk pelan. “Kalau itu yang kamu mau, aku akan mendukungmu.”
###
Keesokan harinya, Nala mengajak Aelius berbicara di taman belakang. Dia menggenggam tangan adiknya dengan erat, menatapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
“Al, aku tahu kehilangan ini berat untukmu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku di sini untuk kamu. Dan lebih dari itu…” Nala berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Aku ingin kamu menjadi ayah dari salah satu bayiku.”
Aelius menatap kakaknya dengan mata membelalak. “Apa? La, kamu nggak bisa serius…”
“Aku serius, Al. Aku dan Eckart sudah membicarakannya. Ini keputusan kami berdua. Aku tahu kamu akan menjadi ayah yang luar biasa. Dan aku tahu bayiku akan sangat beruntung memiliki kamu dan Atha sebagai orang tua.”
Air mata kembali mengalir di pipi Aelius. Kali ini bukan karena kesedihan, tetapi karena rasa syukur yang mendalam. Dia memeluk Nala erat, tidak tahu harus berkata apa. Dalam pelukan itu, dia merasa seperti semua beban yang selama ini menghimpitnya perlahan mulai menghilang.
Dan di malam yang tenang itu, sebuah harapan baru terlahir di antara mereka. Sebuah janji untuk menyembuhkan luka lama, dan memulai babak baru yang penuh cinta dan kebahagiaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moving On (BL - Omegaverse) - END
RomanceBook 2/3 - Let Go Trilogy Berlatar belakang "Omegaverse", dimana selain laki-laki dan perempuan ada gender kedua yaitu Alpha, Beta dan Omega. Karena berlatar omegaverse, jadi dalam cerita ini, baik laki-laki maupun perempuan, dua-duanya bisa hamil...
