Chapter 13

454 22 0
                                        

Tunggu sepuluh menit katanya. Nala masih betah untuk duduk di toilet sambil memperhatikan strip test packnya yang ketiga sambil berharap hasil dari dua test pack sebelumnya salah.

Beep!

Timer di ponselnya berbunyi, Nala tertunduk lesu melihat hasil yang sama seperti dua strip lainnya.

Nala keluar dari kamar mandi, maniknya langsung menangkap sosok Eckart yang sedang duduk sambil bersandar pada headboard sambil menatap layar tabletnya dengan serius.

Nala meletakkan tiga strip test pack di atas nakas dan kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Langsung mendusel ke sang suami.

"Hey, ada apa?"

"Nothing. Masih lama ya?"

"Hmm, sedang melihat laporan survei untuk pembangunan apartemen nanti."

"Oh, ya sudah. Aku tidur dulu ya Eckie." Pamit Nala lesu.

Eckart yang menyadari perubahan nada dari Nala mengalihkan pandangannya dari tablet yang masih menyala. Nala sudah berbaring memunggungi Eckart dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

Eckart lalu mematikan tabletnya dan meletakkan di atas nakas. Pekerjaannya bisa dilakukan besok, tapi menghibur Nala tidak bisa ditunda.

"Baby." Eckart memeluk tubuh Nala lembut. "Ada apa?"

"Hmmmm.. Aku baik-baik saja."

Eckart mencerna arti dari kata baik-baik saja dari Nala.

"You sure?"

"Hmmmm.. Lanjutkan saja pekerjaanmu."

Ah, Eckart tersenyum kecil, karena sibuk melihat tablet ternyata. "Aku minta maaf ya."

Nala berbalik melihat Eckart, "Aku sudah pernah bilang, jangan membawa pekerjaanmu ke atas tempat tidur. Aku tidak suka."

Padahal baru hari ini saja, selama ini Eckart tidak pernah membawa pekerjaannya ke atas tempat tidur pun Eckart yakin, sebelumnya, Nala tidak pernah membahas soal membawa pekerjaan ke atas tempat tidur seperti tadi.

Ya sudahlah, anggap saja Eckart lupa kalau Nala pernah membahasnya. Dari pada berdebat soal ini, lebih baik menatap wajah manis di depannya ini.

"Iya, aku minta maaf ya, janji tidak akan mengulanginya lagi."

"Janji ya? Jangan sampai terulang lagi, aku tidak suka."

"Iya baby." Eckart mengecup lembut kening Nala.

Seulas senyum terbit di wajah Nala yang tadi mendung semendung-mendungnya. Hal ini membuat Eckart berani bertanya, "Jadi, tadi babyku ini kenapa?"

"Ah, sebentar." Anala berbalik dan meraih tiga strip test pack yang tadi diletakkan di atas nakas.

"Ini, lihatlah."

Eckart menerima tiga strip yang disodorkan oleh Nala. Eckart terdiam sejenak.

"Eckie? Maaf ya." Ucap Nala pelan.

Eckart mengangkat wajah Nala, manik keduanya bertemu. "Kenapa harus minta maaf?"

"Karena aku hamil, padahal kita sudah sepakat untuk tidak hamil dulu. Kamu pasti kecewa."

Eckart terkekeh pelan, lucu melihat wajah Nala yang tertunduk lesu, lucu juga mendengar keresahan hati Nala yang takut dirinya kecewa. Padahal Eckart tidak kecewa sama sekali.

Lagipula pembahasan soal tidak hamil dulu itu Eckart tidak mengiyakan ataupun menolak, hanya diam saja dengan jawaban hammmm hemmmm tidak jelas. Karena jujur Eckart tidak memang tidak menolak tidak juga menerima saran Nala. Baginya, kenyamanan Nala nomor satu. Kesehatan jasmani dan mental Nala juga tak kalah pentingnya.

Moving On (BL - Omegaverse) - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang