Chapter 10

429 25 0
                                        

“I, Anala Raja Wicaksana, take you, Eckart Joseph Landyn, for my lawful husband, to have and to hold from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and health, until death do us part.”

Nala mengangkat tangannya, sebuah cincin berwarna hitam melingkar di jari manisnya. Janji suci itu kembali berputar dalam ingatan Nala, masih tidak percaya pernikahan yang seharusnya baru akan direncanakan kini malah sudah terjadi begitu saja. Seperti mimpi memang, tapi ini benar-benar nyata.

Sebuah tangan menggenggam tangan Nala yang sejak tadi terangkat.

“Aku masih tidak percaya, sekarang kita sudah menikah.”

Nala menoleh ke belakang, “Gara-gara siapa?”

Eckart tertawa, “Aku, tapi yang memicu hal ini terjadi adalah kamu.”

Nala cekikikan, “Jadi, ini sebenarnya adalah kesalahan kita berdua.”

“Apakah kamu menyesal?”

Nala membalikkan badan, keduanya sekarang dalam posisi berhadap-hadapan. “Menyesal?” Nala menaikkan alis kanannya, “Coba lihat aku, apa aku terlihat menyesal sekarang?”

Eckart menatap lekat manik hitam milik Anala, “Tidak.”

“Karena, aku memang tidak menyesal sama sekali dengan pernikahan ini. Sejak janji pernikahan terucap, rasanya seluruh penyesalanku menguap begitu saja. Ajaib bukan?”

Eckart tersenyum, “Ya, ajaib sekali dan mungkin kamu adalah keajaiban yang diberikan Tuhan untukku. Terima kasih Nala.”

Ucapan terima kasih yang tulus itu terucap begitu saja diikuti dengan perasaan bahagia yang menyeruak tanpa kendali di dalam hati Eckart. Entah kapan terakhir kali Eckart merasa sebahagia ini. Semoga saja kebahagiaan ini akan terus bermekaran hingga nanti.

“Terima kasih kembali cintaku. Jadi, sekarang ayo kita selesaikan mandi ini dulu, lalu malas-malasan di tempat tidur.”

###

Nala terbangun, entah sudah berapa lama dia tertidur setelah mandi bersama Eckart. Tangannya meraba space kosong di sampingnya yang sudah terasa dingin. Nala pun bangkit, mencuci wajahnya dan kemudian meninggalkan kamarnya.

Saat sedang menuruni tangga, manik hitam milik Nala menangkap sosok sang adik Aelius sedang bermanja-manja bersama sang Papi sambil menyaksikan tayangan di televisi.

“Eckie kemana ya Pi?”

“Pergi tuh sama El, katanya kalo udah bangun nyuruh kamu chat dia.” Jawab sang adik.

“Aku kan nanya Papi, kok kamu yang jawab sih?”

“Biarin, wlee.”

Nala melempar bantal sofa kecil ke arah Aelius, namun sang adik berhasil menghindar. 

“Piiii… A Nala jahat lempar-lempar bantal.” 

Alih-alih dibela, Aelius malah mendapatkan omelan dari sang Papi, Anala yang mendengar ocehan sang Papi tertawa penuh kemenangan.

Ngomong-ngomong tentang Eckart, Nala mengeluarkan ponselnya dari saku sweatpants yang sedang dia kenakan dan langsung mengirimkan pesan.

Ngomong-ngomong tentang Eckart, Nala mengeluarkan ponselnya dari saku sweatpants yang sedang dia kenakan dan langsung mengirimkan pesan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Moving On (BL - Omegaverse) - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang