⚜️⚜️⚜️
PANGERAN Nicholas baru saja memenangkan lomba berburu yang bergengsi di tengah hutan yang lebat dan sedikit berlumpur. Dengan busur panah yang kokoh, ia mengintai dengan cermat di balik pepohonan rimbun. Dalam diam, matanya yang tajam seperti elang membidik seekor rusa gemuk yang sedang tenang merumput. Dengan keahlian dan ketangkasannya, panah kokoh meluncur, menembus udara dengan presisi yang luar biasa, dan tepat mengenai sasaran.
Belum ada yang bisa menandingi Nicholas dalam hal berburu. Bahkan, hewan yang sulit ditangkap sekalipun tidak mampu lolos dari pandangan tajam serta panah yang mematikan miliknya. Para pemburu lainnya mengakui keunggulan Nicholas dan menjadikannya sebagai panutan. Dan tak jarang, keahliannya itu menjadi daya tarik yang dapat memikat banyak perempuan. Hal ini juga yang membuatnya menjadi lebih angkuh.
"Sahabatku ini memang yang terbaik," puji Agast seraya merangkul Nicholas.
Dagu Nicholas terangkat ketika mendengarkan pengumuman bahwa dirinya adalah pemenang. Dan tidak disangka, peringkat kedua berhasil diraih oleh Ramond. Padahal biasanya, Ramond takkan pernah bisa mengalahkan Agast, tapi kali ini posisinya terbalik.
Ramond mendekati kedua sahabatnya dengan gaya tengil. Ia melirik ke sekeliling, menepuk dada seakan-akan ingin menyatakan, "Hey, akulah pemenang kedua. Catatlah di sejarah dan ingat sampai kalian mati!"
"Tingkat ketampananku rasanya naik berkali-kali lipat hari ini," kata Ramond sambil menatap Agast dan Nicholas dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Ku sadari kau memang tampan, asal dilihat sambil menutup mata," ucap Agast.
"Halah! Kau hanya iri padaku. Bilang saja kau sirik dan tidak terima karena kau kalah hari ini. Sudahlah, akui saja ketampanan dan keahlianku, Agast."
Tubuh Agast bergetar mendengar itu. "Kau tidak pernah gagal membuatku merinding," serunya.
Nicholas hanya diam, tampak jengah mendengar perdebatan kedua sahabatnya. Selalu ada saja yang bisa mereka perdebatkan. Heran.
Mata Nicholas menjalar ke seseorang yang berdiri tidak jauh di belakang tubuh Agast. Mungkin terdengar kepedean, tetapi kenyataannya lady cantik yang duduk di bawah tenda kayu yang disana itu selalu memperhatikannya sejak tadi. Tatapan genit darinya langsung bisa ditebak Nicholas. Melalui mata mereka mengirim sinyal.
"Mau kemana?" Agast menahan tangan Nicholas saat menyadari sahabatnya hendak beranjak.
"Menemui Lady Gretta," jawab Nicholas tanpa melepaskan pandangannya dari perempuan yang dimaksud.
Agast menoleh ke lady itu. Cantik, memang. Tapi, rasanya tidak benar dengan apa yang hendak dilakukan Nicholas setelah ini. Agast cukup mengenal siapa Nicholas dan segala hasratnya. Nicholas paling tidak bisa dipancing, karena mudah merasa tertantang, meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar menginginkannya.
"Jangan bilang kalau kau ingin menidurinya. Ingat, Nicholas. Kau sudah punya Putri Anastasia." Perempuan itu adalah perempuan yang baik. Agast mungkin bukan manusia benar, tetapi rasanya tak tega jika Nicholas memperlakukan Anastasia di belakang perempuan itu seperti ini.
"Sejak kapan masalah ranjangku menjadi urusanmu?! Urus kehidupan masing-masing!" potong Nicholas tajam. Ia tidak suka sikap Agast yang berubah menjadi penasehat jadi-jadian. Ia tidak suka diatur. Dan harusnya Agast sudah tahu itu.
"Bukan begitu, Nich. Apa Putri Anastasia kurang bagimu? Dia sangat cantik, bukan hanya fisik tapi juga hatinya. Aku rasa kau setuju dengan kalimatku ini."
Nicholas menggelengkan kepala dengan geram. "Aku tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri, Agast! Jangan menganggap seolah-olah ini salahku. Bukankah kau dan Ramond yang mengajakku untuk mengikuti ini dan bersenang-senang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying A Prince
FantasíaPangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya y...
