⚜️⚜️⚜️
PAGI ini, dari jendela kamarnya, Pangeran Nicholas bisa melihat rombongan kereta kuda dari Kerajaan Utara telah tiba. Rupanya Raja Luther tidak main-main mengenai keinginannya menikahkan Nicholas dengan Putri Madeleine. Perempuan itu sudah ada di sini. Sialan! Nicholas merasa kesal, kedua tangannya terkepal dengan geram. Ia tidak bisa diam begitu saja membiarkan nasibnya dipaksa menikah dengan perempuan itu. Ia harus memikirkan sesuatu.
Waktu terus bergulir, di kamarnya Nicholas sibuk mondar-mandir. Dan untunglah ia mendapat ide dan bergegas mengganti pakaiannya agar tidak terlihat terlalu mencolok. Kemudian memutuskan untuk kabur melalui pintu selatan Istana Riverdale. Ia harus cepat keluar, sebelum para pengawal datang mencarinya.
Langkah kaki Nicholas terburu-buru melintasi lorong-lorong istana yang tidak terlalu ramai, selalu menunduk untuk berusaha menghindari siapa pun yang mungkin mengenali dirinya. Rasanya ingin mengutuki istana Riverdale yang terlalu luas, membuatnya memakan waktu lama untuk sampai di pintu selatan. Sekarang para pengawal suruhan Raja Luther pasti sudah mencarinya kesana-kemari karena tidak menemukan Nicholas di kamarnya.
Dug!
"Aduh!"
"Ssshh!"
Benar-benar hari sialnya. Niicholas terjatuh ketika tubuhnya bertubrukan dengan seseorang yang berjalan dari berlawanan arah.
"Kau tidak punya mata, ya?!" bentak Nicholas sambil meringis, merasakan bokongnya perih.
"Ampun, Tuanku Pangeran. Hamba sungguh minta maaf atas kecerobohan ini," kata orang itu yang juga ikut terjatuh. Ia segera bangkit berdiri dan membantu Nicholas.
Nicholas enggan merespons, ia mengawas orang itu dari hadapannya sedikit kasar. "Minggir!" katanya.
Orang itu sedikit terhuyung tapi lagi dan lagi...
Dug!
Nicholas kembali terjatuh karena tersandung kaki orang itu, membuat kepalanya terantuk ke marmer istana. Sang pangeran meringis sakit. Mengusap wajahnya dengan frustasi. Rasanya ingin berteriak! Sekarang bukan hanya sakit tapi malu juga!
"Ya Tuhan. Tuanku Pangeran. Maafkan kakiku," kata orang itu dengan panik. Masih berbaik hati membantu Nicholas berdiri.
Nicholas mengepal kedua tangannya, bersiap-siap ingin mengomel. "Kau ini-" cicit Nicholas terhenti ketika akhirnya menyadari orang di depannya adalah seorang gadis cantik yang memiliki rambut panjang berwarna emas. Gaunnya yang terlihat kumal dan lusuh sangat kontras dengan wajahnya yang tampak angun dan teduh.
Nicholas mengernyit. "Kau pelayan di sini?" tanyanya. Ia tidak pernah melihat gadis ini berada di sekitaran istana. Meski ada ratusan perempuan di dalam istana, kalau urusan perempuan cantik, Nicholas pasti segera tahu.
"Bukan, Tuanku Pangeran." Orang itu menggelengkan kepalanya dengan sedikit menunduk. Ada rasa takut untuk menatap Nicholas.
Sayup-sayup Nicholas mendengar derap langkah-langkah kaki yang semakin mendekat. Ia menoleh ke belakang. Gawat! Jangan sampai ia berhasil ditemukan. Walaupun memiliki segudang keberanian untuk menentang Raja, tapi ia tahu akan tetap kalah kalau Raja Luther sudah memutuskan sesuatu untuknya.
Nicholas melirik ke arah kereta barang yang terparkir di depannya. Tidak ada pilihan lain. Hanya ini cara untuk kabur dengan aman karena kereta itu cukup tertutup. Ia memutuskan pergi ke pintu belakang kereta barang dan membukanya dengan segera.
"Tuanku sedang apa?" Gadis itu bingung.
"Aku tidak punya waktu untuk menjawabmu. Naiklah! Cepat!" Nicholas menarik tangan gadis itu untuk naik lalu menutup pintu kereta barang tersebut rapat-rapat.
"Suruh temanmu bawa kereta ini keluar dari istana!"
"Sekarang, Tuanku?"
Nicholas menatap kesal wajah polos gadis itu. Sangat menjengkelkan.
"Besok!"
Gadis itu diam untuk berpikir. Mengapa harus besok?
"Ya sekaranglah!!" teriak Nicholas.
Gadis itu tersentak kaget. "Ba-baik, Tuanku Pangeran."
Nicholas hanya menggelengkan kepala kesal. Gadis ini benar-benar membuatnya frustasi. Tahan, tahan! Jangan marah. Ia tahu gadis ini adalah kuncinya untuk melarikan diri dari istana ini.
Kereta barang mulai bergerak perlahan keluar dari istana. Nicholas menahan napasnya karena gugup. Berharap di dalam hati agar keberadaannya tidak diketahui. Terdengar suara para penjaga membukakan gerbang. Nicholas mengintip sedikit dari celah pintu kereta dan melihat para penjaga tersebut tidak menyadari keberadaannya. Ia merasa lega tapi tetap waspada.
"Siapa namamu?" tanya Nicholas setelah memastikan mereka sudah melewati para penjaga dan kereta barang melaju cepat meninggalkan istana.
"Anastasia Rosalie, Tuanku Pangeran," jawab gadis itu, memberi jarak dari tempatnya duduk dengan Nicholas. Karena ia tahu bahwa seorang rakyat biasa dianggap tidak sopan bila duduk berdekatan dengan kalangan bangsawan.
Nicholas mengangguk.
"Dari Pulau Erast?" tebak Nicholas, menoleh padanya.
Anastasia hanya mengangguk tanpa berani menoleh. Selain tahu bahwa orang di sebelahnya adalah keturunan Raja, ia juga tahu seperti apa Nicholas berdasarkan cerita-cerita yang beredar luas di negeri ini, jadi itu membuatnya sedikit gemetar.
"Erast tidak pernah mengecewakan," gumam Nicholas. Dari lambang-lambang yang terukir di keranjang sayur-sayuran dan buah-buahan yang ada di dalam kereta, serta sisa bahan pangan yang tidak disortir ke istana membuat Nicholas dengan gampang menebak. Biasanya bahan pangan yang sedikit busuk atau kurang baik akibat perjalanan jauh, akan dibawa pulang.
Anastasia sedikit tersenyum mendengarnya. Wilayah tempatnya tinggal itu memang terkenal dengan daerah penghasil bahan pangan terbaik dan lengkap di negeri ini. Bahkan Kerajaan Tharvis melakukan kerjasama dengan negeri tetangga di sektor perdagangan ekspor bahan-bahan pangan dari Pulau Erast. Raja Luther selalu bangga tentang itu.
"Jadi kau seorang petani, Stasia?"
"Benar, Tuanku Pangeran."
Nicholas melirik ke wajah gadis itu. Menelisik lekuk wajahnya. Petani? Tidak mungkin. Sebab warna kulitnya yang putih dan mulus tidak mencerminkan seseorang yang terbakar di bawah terik matahari ketika memanen bahan pangan. Rambut indah berwarna emas miliknya terurai panjang sampai ke pinggang, bertalu-talu akibat goncangan kereta. Wajahnya lembut dan menawan.
"Kau tidak sedang membual, kan? Karena aku tidak percaya." Nicholas tertawa kecil, terdengar menyepelekan.
Anastasia menoleh pada Nicholas untuk pertama kalinya, bertemu dengan mata abu-abu gelap milik laki-laki itu. Apa yang dibicarakan orang-orang di luar sana ternyata benar. Pangeran Nicholas terlihat lebih tampan bila dilihat sedekat ini. Pantas saja banyak perempuan yang mau padanya. Ia memiliki postur tubuh yang tegap dan berbahu lebar. Tampak memukau dengan baju bangsawan yang melekat di tubuhnya.
"Hamba memang seorang petani dari Pulau Erast, Tuanku. Tinggal di Dormer Cottage."
Dormer Cottage? Kening Nicholas mengerut. Bukankah itu kediaman Duke Harold, pempimpin wilayah Erast? Mengapa gadis ini bisa tinggal disana? Nicholas memang jarang berkunjung ke Erast tapi bukan berarti ia tidak tahu tentang Duke Harold. Anastasia tidak pernah ia lihat di sana. Ia pun tahu kalau Duke Harold hanya memiliki satu anak dan itu juga seorang laki-laki. Jadi, gadis ini tidak mungkin anak Duke Harold. Anastasia tidak memiliki marga di belakang namanya, yang artinya ia berasal dari kalangan moore. Tapi, mengapa bisa tinggal di rumah Duke Harold?
Alih-alih menanyakan rasa keingintahuannya, Nicholas justru memilih diam dan menginstruksikan pada pembawa kereta barang agar berbelok ke daerah perkotaan. Ia ingin diantarkan ke rumah sahabatnya. Terlalu malas bila banyak berbicara dengan Anastasia yang tidak selevel dengannya. Buang-buang waktu. Tahu apa gadis itu tentang kehidupan yang besar ini? Dia hanya seorang moore. Dunianya hanya seputaran tentang pertanian saja.
Begitulah Nicholas. Selalu memandang kecil orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying A Prince
FantasyPangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya y...
