06 | Kembali Ke Istana

4.9K 207 9
                                        


⚜️⚜️⚜️

FAJAR tiba, matahari masih belum naik dari cakrawala, Nicholas terbangun oleh karena mendengar suara isak tangis Anastasia di sebelahnya. Perlahan ia membuka mata dan menemukan tubuh gemetar Anastasia yang meremas erat selimut yang menutupi tubuhnya. Ada amarah di dada Nicholas karena merasa terusik dari tidur nyenyaknya tapi perasaan itu segera ia enyahkan, mengingat ia harus berpura-pura baik supaya Anastasia mau menikah dengannya.

"Stasia.." panggilnya lembut.

Anastasia hanya diam menangis, masih memunggungi Nicholas. Tak pernah terbayang olehnya masa mudanya akan berujung seperti ini. Dengan mudahnya ia memberi dirinya untuk seseorang yang baru ia kenal. Sekarang, apa bedanya ia dengan pelacur di luar sana? Orang tuanya di atas sana akan sangat kecewa padanya. Ia marah pada dirinya sendiri karena mudah terbuai.

Tidak mendapat jawaban dari Anastasia membuat Nicholas menarik tubuh perempuan itu dan mendekapnya erat di dada bidangnya. Anastasia terlalu lelah menangis semalaman sehingga ia tak punya daya untuk menolak.

"Apa yang kau tangisi, Stasia? Kita melakukannya karena sama-sama mau," ucap Nicholas sambil mencium puncak kepala Anastasia.

Anastasia tidak yakin kejadian itu karena sama-sama mau atau ia terpaksa mau?

"Sudahlah jangan menangis." Nicholas menyapu tangannya naik-turun di punggung Anastasia untuk memberinya ketenangan.

"Apa kau lupa bahwa aku ingin menikah denganmu? Jadi untuk apa takut?"

Anastasia mengangkat kepalanya untuk bertemu dengan mata Nicholas. Kini dengan jelas pria itu bisa melihat mata merah sembab di lekungan mata cokelat Anastasia. Masih tetap teduh walau sendu.

"Tuanku. Apa ajakan Tuanku sungguh-sungguh?" tanya Anastasia lirih.

Nicholas tertegun menatap mata Anastasia yang menyiratkan sebuah harapan dan ketulusan. Anastasia terlihat seperti perempuan yang lembut di bawah tatapannya yang menjebak sebagian dari diri Nicholas di sana. Dan entah mengapa Nicholas merasa gugup jadinya untuk pertanyaan yang bisa dia jawab bohong itu. Biasanya Nicholas pintar membual tapi saat ini ia seperti disaksikan oleh Yang Maha Suci.

Nicholas berdeham sebelum menjawab. "Kau tidak percaya padaku?"

"Hamba hanya takut. Menikah bukan perihal yang mudah, Tuanku. Hamba tidak memiliki siapa-siapa. Menjadikan hamba sebagai istri itu hanya akan menjadi sebuah kesalahan dan aib buat Tuanku."

Nicholas menangkup kedua pipi Anastasia. Menatapnya lekat. "Aku tidak peduli apa kata orang, Stasia. Percayalah padaku. Aku akan membuatmu bahagia. Kau tidak akan sendirian. Menikahlah denganku. Setelah ini aku akan menghadap Raja dan menyampaikan niatku padanya tentang kita. Aku akan meyakinkannya bahwa kau orang yang tepat untukku."

Anastasia diam. Berkelana di mata Nicholas untuk percaya.

"Stasia?" panggil Nicholas. "Kau mau, kan?"

Lagipula, bagaimana Anastasia bisa menolak? Nicholas menanam benihnya di rahim Anastasia. Kalau Anastasia menolak dan benih itu berkembang, ia akan merasa bersalah karena membesarkannya tanpa seorang ayah. Dan ia akan menjadi bahan gunjingan karena hamil sebelum menikah. Ia bisa saja dikucilkan.

Satu buliran air jatuh dari kepolak mata Anastasia sembari ia mengangguk setuju. Entah ini keputusan yang tepat atau bukan, tapi ia mau percaya pada Nicholas.

Nicholas bersorak penuh kemenangan di dalam hatinya karena merasa semua berjalan sesuai rencana. Ia menyeringai tipis, mencium bibir Anastasia lalu memeluknya erat. Dasar bodoh! Cih. Anastasia pikir siapa dirinya yang bisa membuat Nicholas memohon untuk menikah dengannya? Jangan besar kepala! Kalau bukan karena ambisinya, Nicholas tidak akan sudi melakukan ini semua. Hah! Jangan bermimpi! Di mata Nicholas, Anastasia tetaplah seorang moore. Kasta rendahan. Nicholas tahu bahwa Anastasia mau menerima ini pasti karena ia adalah seorang Pangeran kerajaan. Perempuan yang mudah terperdaya oleh harta. Sial! Nicholas muak! Tidak pernah percaya cinta selain cinta tulus Ibunda Permaisuri.

Marrying A PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang