⚜️⚜️⚜️
"TUANKU Pangeran, sepertinya kita akan bermalam di sini. Perjalanan dari hutan ke pemukiman memakan waktu tiga jam, sementara sekarang sudah waktunya untuk makan malam," ucap kepala pengawal rombongan ketika Nicholas dan Anastasia baru saja kembali dari danau.
Nicholas menatap langit sejenak sebelum menimbang situasi. Sebenarnya, ia ingin egois. Bagaimanapun juga, ia masih bisa makan di dalam kereta selama perjalanan. Semakin lama mereka meninggalkan tempat itu, semakin lama juga mereka akan tiba di Kastil Swindon. Dan tentu saja, itu akan sangat melelahkan.
"Masalah makanan bukan urusanku. Aku bisa makan di dalam kereta," ucap Nicholas dengan nada dingin.
Kepala pengawal rombongan itu terdiam, lupa dengan fakta bahwa Nicholas adalah Pangeran yang kejam dan sulit untuk berkompromi.
"Jangan begitu, Nicholas. Mereka semua adalah orang-orangmu. Kalau mereka kelaparan, perjalanan kita akan terganggu," tegur Anastasia dengan lembut, sementara kepala pengawal mulai menyimpan harapan.
Nicholas terdiam sejenak sebelum akhirnya bersuara. "Baiklah. Kita akan menginap di sini. Persiapkan tenda dan makan malam!" titahnya dengan tegas.
"Baik, Tuanku Pangeran," jawab kepala pengawal dengan lega. Cih! Ia menggerutu dalam hati. Kalaulah ia yang meminta, tidak diindahkan, tetapi saat Anastasia yang meminta, langsung dituruti. Klasik!
Para pengawal saling bahu-membahu mendirikan tenda yang disangga oleh pohon-pohon besar. Sebagian dari mereka sibuk menyalakan api di atas kayu bakar untuk memasak dan menjaga kehangatan tubuh. Beberapa lainnya sibuk menguliti babi hutan hasil buruan mereka, saat menunggu kembalinya Nicholas dan Anastasia dari danau tadi.
Sementara itu, Anastasia dan Nicholas duduk berdampingan di atas akar pohon besar yang menjulang dari dalam tanah. Nicholas mengambil cerutu dari dalam sakunya, membakarnya dan mulai mengisapnya untuk mengurangi beban pikiran. Itu adalah pertama kalinya Anastasia melihat Nicholas merokok. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa Nicholas bukanlah tipe perokok. Ternyata, masih banyak hal yang tidak ia ketahui tentang kebiasaan suaminya.
"Aku tidak pernah tau kau merokok."
"Hanya di waktu tertentu kalau sedang suntuk."
"Memangnya kau sedang suntuk sekarang?"
"Iya. Aku suntuk mempikirkan bagaimana caranya dimaafkan olehmu."
Anastasia menggelengkan kepala. "Merokok itu tidak baik untuk kesehatan, Nich."
"Aku sudah melakukannya sejak usia 21 tahun. Sampai sekarang, aku baik-baik saja."
Mendengar itu, Anastasia memilih untuk diam. Keras kepala Nicholas mulai muncul kembali. Dan ia malas untuk menanggapi.
Tak lama kemudian, Irene datang membawa dua selimut berbahan bulu tebal untuk membungkus tubuh Nicholas dan Anastasia. Dengan sikap hormat, ia menundukkan kepala sebelum menyampaikan maksudnya. "Tuanku Pangeran Nicholas dan Putri Anastasia, Irene membawa selimut untuk Tuanku berdua. Cuaca di sini semakin malam semakin dingin," ujarnya sambil menyerahkan selimut tersebut.
"Terima kasih, Irene," ucap Anastasia dengan ramah, sementara Nicholas hanya menunjukkan ekspresi wajahnya yang datar.
Setelah itu, Irene berlalu dari sana.
"Nich, belajarlah untuk mengucapkan terima kasih pada orang lain."
"Aku sudah mengucapkannya."
Anastasia mengernyit. "Kapan? Aku tidak mendengarnya."
"Tadi di dalam hati."
"Siapa yang tahu kau sudah mengucapkannya? Hanya kau dan makhluk gaib yang tahu," sahut Anastasia dengan nada sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying A Prince
FantasyPangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya y...
